SPECIAL ABOUT US - CHAPTER XI and XII (MOON AND STAR)

Karena Cinta Adalah Special



Rio panic ketika melihat Ify lagsung terjatuh, “ Fy… bangunn!!” panggilnya, hatinya terus berdebar-debar ketakutan , ya Tuhan, sebenarnya sakit apa cewe ini, dengan cepat ia melangkah dan memanggil Dave – sang dokter -  

“tolong dia dok..”pintanya.


-oOOo-


Dikelas CakkAgni sedang berlangsung pelajaran terakhir, aturan sih anak-anak pada seneng dong, soalnya kan bentar lagi mau pulang dan artinya bebas, tapi apa daya ternyata pelajaran yang sedang di hadapi adalah fisika duh otak mumet banget! Akhirnya Cakka menyenggol tangan Agni 

“apa sih?”Tanya Agni tetapi tetap dengan kepala menghadap papan tulis.
“noy, nanti temenin gue beli sepatu futsal yak!”ajak Cakka sambil mengalungkan tangannya ke tangan  
Agni, refleks Agni langsung terdiam dan melepaskan tangan tersebut berusaha untuk menetralisirkan degub jantungnya . dag dig dug. Sial nih Cakka! Bikin gue melting aja sih. Pikirnya
“males ah.”ucap Agni sambil mengibaskan rambutnya yang tergerai begitu saja, Cakka yang melihat kejadian itu langsung menoyor kepala Agni 
“gausah sok cantik gitu deh, pake ngibas-ngibasin rambut segala lagi, ulala.”
“kenapa sih? Suka-suka gue kek, kenapa? Takut lo?!”sewot Agni, Cakka membuang muka “takut apa sih noy?”
“TAKUT SUKA SAMA GUE KAN?! HAHAHAHHAHAAHAH!!”gelak tawa Agni mengeras, 

Cakka terdiam, sial sial sial kenapa sih si Agni ini selalu bisa membaca semua bahasa tubuh Cakka aduh duh duh, Cakka sebenernya bukannya takut jatuh cinta sama si Agni atau gimana, bahkan dia sudah SUKA SAMA AGNI! O-mi-got!

“pede banget sih lo noy!”ucapnya tetapi tetap diam di tempat sambil memandang Agni dengan sinis, gengsi juga coy kalo cewe tau lebih dulu perasaan si cowo sama dia.
Agni memegang kepala nya yang baru saja menjadi sasaran  toyoran Cakka 
“tuh kan lo salting, haha iya kan lo takut naksir sama gue? HAHAHA.”tawa Agni.

Brakk

“CAKKA AGNI!!! SAYA HARAP KALIAN KONSTENTRASI SAMA PELAJARAN SAYA! KALAU TIDAK PINTU KELUAR SELALU MENANTI KALIAN.”ancam Okky –guru fisika- tersebut ketika mendengar percakapan Agni dan Cakka yang keras tersebut.
“maaf bu.”ucap CaGni berbarengan, sedangkan Okky hanya menggelengkan kepala dan kembali menjelaskan pelajaran.

KRING.. KRING….

Tiba-tiba saja terdengar suara bel pertanda pulang memecah keheningan dan ketegangan yang terjadi di dalam ruang kelas tersebut.
Huft.. akhirnya CakkAgni dapat bernafas lega karena suara bel tersebut ‘kenapa gak dari tadi aja sih belnya?’ucap Agni dalam hati.

“iya ya noy, kenapa gak dari tadi aja .”ucap Cakka seakan membalas pernyataan batin Agni,

 Agni melotot hah! Gila gila, masa iya sih Cakka bisa mengetahui isi hatinya “lo punya telepati ya kka?”Tanya Agni polos, cakka hanya bisa membalas pertanyaan itu dengan tatapan bingung. Telepati? Sejak kapan?! Emangnya dia dukun? Ah, aneh-aneh aja si Agni ini.
Tiba-tiba Agni menarik tangan Cakka “yuk, mau gue temenin kan beli apa tadi?”

“Cakka melengos “sepatu futsal noy!”
“ah iya that’s!”
Lalu mereka berdua pun pergi berbarengan kearah parkiran tempat kendaraan mereka di amankan, eh maksudnya di parkirkan.
*
Gabriel terus saja menatap Shilla dengan tatapan nanar berusaha agar Shilla mau mengerti dia dan mengembalikan hubungan yang baru saja mereka bina.
“Plis Shill….”pintanya sekali lagi, Shilla masih saja terpaku dalam lamunannya.
“Maaf, aku gak bisa…”ucapnya lalu pergi, gabriel menjadi kesal dan menarik tangan Shilla “lepasin, yel!”
“aku gak akan lepasin kamu! Sebelum kamu mau maafin aku!”bentaknya, Shila tak kuasa menahan air matanya “Yel… kamu!!”ucapnya sambil menunjuk Gabriel dan melangkah meninggalkan Gabriel, tapi Iyel malah mengejarnya, Shilla menangis sambil berlari…
Tiba-tiba ada sebuah mobil besar melintas kearah Shilla tetapi Gabriel langsung sigap mendorong Shilla akhirnya kecelakaan itu tidak terjadi “SHIL! LO MAU MATI HAH!?” Bentak Gabriel.
“bukannya itu keinginan lo? Ngapain lo selamatin gue hah! Mending lo selamatin aja tuh si Ify yang bentar lagi mau mati itu!”ucap Shilla tak kuasa menahan semua emosi yang bergejolak di hatinya.
PLAKK!
“nyesel gue nyelamatin lo kalo tau lo bakal ngomong kayak gitu tentang Ify!”
Shilla tertawa “haha, udah lah Yel, gue udah tau kok semua nya! Lo jadian sama gue juga karena disuruh di cungkring itu kan? Apa sih yang lo suka dari dia? Apa karna dia kurus sedangkan gue gak?! Hah!”
Gabriel menghela nafas berat “jangan pernah ada di otak lo pikiran serendah itu Shil!”
“lo bilang jangan ada? Gimana mungkin gue bisa menjauhkan pikiran itu dari otak gue setelah semua yang gue liat dengan mata kepala gue sendiri Yel?! Gue sakit ketika harus ngeliat lo pelukan sama Ify, gue juga wanita Yel! Pacar lo, gue butuh kasih sayang, bukan cuman sekedar omongan dan ikatan!”
Gabriel menghela nafas lagi, susah berusaha untuk tidak terpancing emosi , dia tau kalau saja ia terpancing emosi juga, aka nada hal yang tidak ia inginkan. Yaitu putus.
“gue minta maaf…”ucapnya tulus sambil menundukan kepala tak berani melihat wajah Shilla yang sudah banjir air mata tersebut, lalu di tariknya tangan Shilla dan dibawanya kedalam rengkuhannya “gue mohon maafin gue, gue tau gue salah. Tapi… Ify butuh gue, sangat butuh, gue mohon ngertiin gue, gue sayang sama lo Shill, sangat.”lirihnya.
“gue gatau, Yel. Gue gatau, lebih baik kita sekarang sendiri-sendiri dulu.”ucapnya lalu melepas rengkuhan tersebut, Gabriel menatap Shilla tak percaya lalu kedua tangannya di taruh ke kedua bahu Shilla “kenapa?”
Shilla menggeleng “gue gatau, gue cuman mau sendiri dulu, dan yakinin perasaan lo, pilih antara gue atau Ify.”
“Shil…”
Shilla melepaskan tangan Gabriel yang ada di bahunya“lo mau gue ngertiin lo kan? Gue juga mau lo ngertiin gue, maaf Yel.”ucapnya lalu pergi meninggalkan Gabriel yang masih terpaku
‘mungkin ini yang terbaik untuk kita.’batin Shilla
*
Di sepanjang koridor Alvin selalu saja mengomel kepada Sivia yang membuat kepala Sivia rasanya ingin pecah “bisa gak sih lo berhenti ngomong?”sinis Sivia.
“bisa gak sih lo putus sama Ray?”balik Alvin.
“bisa gak lo gausah ikut campur sama urusan gue?”Sivia
“bisa gak lo putus? Apa sih yang lo liat dari Ray?! Bukannya dulu lo ngejar-ngejar gue, kenapa semua malah berbanding terbalik kayak gini, apa dulu lo cuman sepik doang? Cuman mau cari perhatian doang? Gak nyangka…”
“ALVINNN!! STOP STOP STOPPP! DENGER YA! LO TUH BUKAN SIAPA-SIAPA GUE, OKE! JADI GAUSAH NGATUR-NGATUR GUE!!!!!!!!!”teriak  Sivia sambil menutup kedua telinga nya, tiba-tiba saja Ray sudah ada disampingnya dan membawa Sivia pergi “gue harap lo jangan ganggu dia lagi.”ucapnya datar tapi menatap Alvin secara tajam, Alvin tau kali ini omongan Ray tidak macam-macam. Ia pun hanya bisa menghela nafas. Lalu pulang kerumahnya.
Setelah sampai dirumahnya….
BRAKKK!!!!!!
Alvin menutup pintu itu secara kasar, bahkan hampir membantingnya

“arrggsshhhhhhh!!!!!!!!!”erangnya sambil menutup mukanya dengan kedua tangannya
“KENAPA SIH DULU GUE GAK PERNAH PEKA SAMA PERASAAN VIA !!!!!!!!!!!”sesalnya,tiba-tiba saja air matanya keluar, ia mengingat kembali semua memori tentang Sivia

»»»

Bintang-bintang masih setia menemani bulan di malam hati tersebut, begitu juga Sivia masih terus menemani Alvin duduk didepan rumahnya menghadap berjuta bintang tersebut.

“Vin, lo tau gak kenapa bintang selalu ada buat bulan?”Tanya Sivia sambil terus memandang bintang, Alvin menoleh tak mengerti apa yang dimaksud gadis ini.
“kenapa?”tanyanya.
“karena buat bulan, dia bukan siapa-siapa tanpa bintang, ngerti?”

Alvin menggeleng.

“pada dasarnya bulan itu gak memiliki Cahaya, dia hanya memantulkan cahaya nya untuk bumi, dan cahaya itu berasal dari bintang.”
“terus?”
“Ya, seperti yang gue bilang bulan bukan apa-apa tanpa bintang, dia gak akan pernah bersinar dan berguna bagi bumi tanpa cahaya dari bintang itu, bulan tanpa bintang sama aja gelap. Dan.. Walaupun bintang sekarang mulai jarang terlihat dan malah seolah-olah bulan saja yang bekerja menyinari bumi, tapi sebenernya dia itu selalu setia menemani si Bulan tersebut, hanya saja dia tertutup oleh awan tebal. Tapi si bintang itu rela , asalkan si Bulan bisa dilihat banyak orang dan si Bulan senang. Bintang itu kecil, tapi sebenernya dia jauh lebih besar dari pada si bulan, tapi dia jauh jauh sekali, bahkan tak terlihat, tapi karena itulah dia menjadi pelengkap malam bersama si bulan.”
“Vi…”
“gue mau kita kayak bintang dan bulan juga Vin, lo bulan dan gue bintang. Kita sama-sama membutuhkan, bener kan?”

Alvin hanya membalas filosofi Sivia itu dengan senyuman, masih tak mengerti apa yang dipikirkan gadis itu.

«««


Kini Alvin mengerti apa yang dimaksud gadis itu.


-oOOo-


 Sivia masih menangis dalam diam di mobil Ray, sambil terus konsentrasi menyetir sesekali Ray menoleh kearah Sivia.

“Vi…”lirihnya, Sivia menoleh dan langsung mengelap air matanya dengan kedua tangannya “maaf ya ray.”ucapnya sambil menundukan kepalanya, malu.

Ia malu sekali kepada Ray karena masih belum bisa melupakan Alvin, ia juga sebenernya malu kepada Alvin jika harus terus-menerus munafik didepan cowok tersebut.

“nangis aja sepuas lo tapi abis ini lo harus mau cerita ya sama gue.”ucap Ray bijak.

Sivia mengangguk dan meneruskan tangisannya..
Tiba-tiba terdengar suara radio di mobil Ray yang sedang memutar lagu Cinta dan Benci dari Geisha.

Sungguh aku tak bisa..
Sampai kapan pun tak bisa,
Membenci dirimu sesungguhnya aku tak mampu..

Sivia mendengar lantunan lagu itu langsung memperkeras tangisannya, liriknya sangat menyayat hatinya, pas. Benar-benar pas dengan apa yang sedang ia rasakan sekarang…
Sekali lagi ia bertanya kepada dirinya sendiri mengapa cinta harus sesakit ini?
Ray memberentikan mobilnya ketika ia melihat Sivia semakin rapuh, ia tarik tubuh gadis itu kedalam pelukannya , membawa gadis itu dalam kedamaian ,

‘gue sayang lo Vi, sayang banget. Walaupun gue tau, lo gak mungkin jadi milik gue.’ Batin Ray.
“sebaiknya lo sudahi semua perjanjian konyol kita Vi, sebelum hati lo semakin tersakiti.”saran Ray.

Sivia menggeleng

“gue gatau Ray, gue takut seandainya gue kasih tau semuanya ke Alvin , gue yakin dia akan membenci gue.”

Ray mengesampingkan poni Sivia

“kalo memang dia cinta sama lo, dia pasti ngerti kok.”

Sivia menyenderkan tubuhnya ke jok mobil Ray, pikirannya masih berkecamuk dadanya sesak ketika harus berpura-pura berpacaran ,


»»»

“plis ya Ray, bantu gue plis plisss  banget, cuman lo doang yang bisa gue harapin sekarang!!”melas Sivia di hadapan Ray sambil mengatupkan kedua tangannya seperti sedang menyembah sesuatu, Ray memandang Sivia dengan tatapan senyolot mungkin 

“gimana ya Vi.. gue gak mau pura-pura, gue maunya yang beneran. Hahahhaa”
Sivia menoyor kepala Ray “elo gila atau gimana sih? Ga mungkin lah gue pacaran sama lo, aneh-aneh aja deh.”
“idih, kenapa gak mungkin coba?”
“Aduh ray prasetya bego! Gue gak cinta sama lo, emangnya lo mau cuman di jadiin pelarian doang? Hah?! Engga kan?”
“Sivia azizah bego, nama nya juga cinta, ya jelas lah gue mau di jadiin apa aja sama lo, asaaaalllllllll….”
“asal apa?”
“ya asal itu lo mau jadi pacar gue.”

Sivia melengos 

“gak bisa Ray.”
“kenapa sih? Alvin?! Masih ngarepin cowok kayak gitu?”
“Ray! Gitu-gitu dia first love gue tau!”
“so? Gue peduli?”

Huh, lama-lama Sivia kehabisan kesabaran kalau harus ngomong gak penting kayak gini.

“plis bantuin gue.”lirih Sivia, Ray melihat muka Sivia itu uh rasanya.. gak tegaa!!
“iye iye, gue mau bantuin lo tapi dengan syarat ya?”

Mendadak muka Sivia yang tadinya sumringah mendengar Alvin mau membantunya langsung cemberut lagi 
ketika kata ‘syarat’ harus terucap

“yaudah, apaan syaratnya?”
Ray menghela nafas bentar “lo kalo nangis cuman gara-gara hubungan ini, mending kita stop-in aja, gue gakmau air mata lo terbuang sia-sia. Ngerti?”

Sivia mengangguk mantap, ah cuman kayak gitu doang kok syaratnya haha GAMPANG!
Pikirnya saat itu.


«««


Ray melihat Sivia melamun lalu bertanya “kenapa Vi?”
Sivia terkejut “eh, gue melamun ya?”

Ray hanya tersenyum.

“soal syarat dari perjanjian itu..”Ucap Sivia sambil menggantungkan ucapannya.
“hem?”
“gue mau nyudahin semua sandiwara ini.”

Ray melotot seakan tak perccaya apa yang terjadi

 “lo.. lo serius?”
“gue ngelanggar Ray, dan konsukuensi nya emang harusnya gue gak maksain buat ngebenci dia atau gimana pun, gue baru sadar semakin gue ngejauh dari dia maka semakin dekat juga bayangan nya ada di hati gue dan menyatu pada tubuh gue.”

Ray tersenyum lagi

“bagus lah Vi, kejar cinta lo ya, karena disitu lo akan dapet kebahagiaan sejati.

Sivia tersenyum mendengar kata-kata bijak Ray barusan. Yap, dia harus mengejar cintanya. Harus!


-oOOo-


Dokter dan suster telah memeriksa kondisi Ify, lalu mereka keluar dengan mengeluarkan senyuman

“Ify gak apa-apa kok,hanya saja dia sedikit banyak mikir, ga begitu parah.”

Rio dan Gina menghela nafas lega

“makasih ya Dave, saya berhutang banyak sama kamu.”

Dave – dokter itu- hanya tersenyum

“Ify sudah saya anggap seperti anak saya sendiri, jadi wajar kan kalau saya menyelamatkan dia dengan sepenuh hati saya? Namanya juga anak. Hehe”

Tiba-tiba  Gina teringat oleh Rio yang sedari tadi di acuhkannya “eh maaf, kamu temennya Ify yah?”Tanya nya ramah. Rio mengangguk pasti “iya tante, nama saya Rio.”Gina melotot , benarkah ini rio? Sang pujangga hati anaknya tersebut? Yang selalu di sebut namanya dalam tidur Ify?
“Oh nak Rio,”
Rio tersenyum “kalo boleh tau Ify kenapa ya tante?”
“Ify, di.. dia sakit.”
“iya saya tau, tapi sakit apa?”ucap Rio berusaha sopan, Gina menghela nafas berat “dia….”

Dan mengingat semua kejadian beberapa tahun silam….


»»»


Gina terus menerus khawatir tentang kondisi anaknya yang masih berumur 5 tahun tersebut, tangannya terus memegang kening anaknya tersebut berharap suhu tubuhnya akan segera turun, “pak tolong percepat mobilnya yah.”ucapnya kepada Daud –supirnya- “baik nyonya.”
Tangannya terus menggenggam tangan Ify, hatinya sangat khawatir.. “ya Tuhan semoga anak ku baik-baik saja.”doanya dalam hati.

Drrttt..drttt

Getar handpone mencairkan sedikit ketegangan di dalam mobil itu “Pa, Ify masuk rumah sakit, keadaannya semakin parah..”
Setelah sampai dirumah sakit, Ify –anak berumur 5 tahun tersebut - langsung di bawa ke IGD dan ditangani oleh beberapa para medis, sedangan Gina hanya bisa memeras tangannya berharap-harap cemas agar anaknya tidak apa-apa.

Drrttt…drttt…

Lagi-lagi ponsel gina bergetar,Gina menyiritkan dahi membaca nomer yang tertera disana, nomer yang tak ia kenal 
“Ya.. halo?”
“….”

Lalu tiba-tiba saja Gina menjatuhkan ponselnya ketika melihat seorang pria berumur 40tahun di bawa oleh para medis yang ada disana, tubuhnya bergetar melihat pria itu, tidak berlumuran darah tapi wajahnya bak mayat. Putih pucat, tak kuasa ia kejar tempat tidur yang membawa tubuh pria itu 

“mas. Hanafiiiiiiiii!!!”teriaknya tak kuasa menahan semua yang ada di hatinya, para suster langsung mencegat tubuh Gina agar tidak masuk ke ruangan IGD tersebut “maaf bu, ibu harus tetap menunggu diluar selagi kami menangani pasien.”ucap suster tersebut.

Tapi Gina tak pantang menyerah ia terus menerus memaksa masuk sampai akhirnya salah satu dokter keluar dari ruangan tersebut “anda siapanya pasien?”Tanya nya berusaha ramah.
“saya istrinya dok.”
Dokter tersebut menghela nafas berat, “maafkan saya, tapi pasien tidak dapat di tolong lagi, sirosis hati yang di deritanya sudah tak dapat di tangani lagi,”sesalnya, Gina menatap wajah dokter itu tak percaya “GAK MUNGKINNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNN!!!!!!!!!”Teriaknya sambil memegang kepalanya dengan kedua tangannya , tubuhnya ambruk seketika ketika mengetahui suami tercintanya harus lebih dulu menghadap yang kuasa, sesuatu hal yang tak pernah terpikirkan olehnya, sakit dan pilu.

-oOOo-

Setelah proses pemakaman selesai Gina langsung kerumah sakit menjenguk putri sematang wayangnya, Ify. Yang sampai sekarang belum mengetahui bahwa ayahnya sudah taka da lagi, Gina memegang handle pintu dan memasuki ruangan serba putih tersebut, disana… seorang pria berwajah charming sudah duduk di tempat nya, Dave. –pria berwajah charming – tersebut menyambung Gina dengan senyuman hangat 

“bagaimana keadaan anak saya , Dave?”Tanya nya sambil mengumpulkan seribu tenaga yang ia miliki “ini..”

Dave menyerahkan amplop coklat besar ke arah Gina dibarengi oleh senyum sesal, Gina mengambil amplop itu dan membukanya, lalu ia membacanya 

“Dav…. Bagaimana mungkin…”lirih Gina sambil menutup mulutnya dengan kedua tangannya, 
“maafkan saya Gina… karena memang pada faktanya Ify menderita sirosis.”

BRAKKKKKK!!!

Gina menggebrak meja dengan kedua tangannya, emosinya meluap, matanya memancarkan aura kemarahan yang amat mendalam 

“KAMU JANGAN PERNAH BERCANDA DAV! IFY MASIH KECIL, MANA MUNGKIN BISA IA MENDERITA PENYAKIT MEMATIKAN ITU!”

Dave menundukan kepalanya “apa kau lupa? Hanafi meninggal karena penyakit itu juga Gina, hepatitis yang dideritanya turun ke Ify, yang Ify derita saat ini adalah sirosis hati genetic dari Hanafi!”jelas Dave.

Gina menutup mukanya dengan keduatangannya, air matanya terus mengalir, ia baru saja kehilangan suaminya, dan saat ini Ia tak mau kehilangan anaknya hanya karena penyakit itu, sirosis adalah penyakit pengerasan hati yang bisa menyebabkan kematian, didalam organ tubuh  manusia hati merupakan organ tubuh paling penting karena menyerap semua racun dalam tubuh,jadi jika hati itu sendiri rusak, maka semua yang kita makan akan berubah menjadi racun, menyeramkan.


«««


Rio menghela nafas berat tak percaya apa yang barusan ia dengar

“Jadi… Ify penderita sirosis?”ulangnya sekali lagi, dan sekali lagi itu juga Gina menganggukan kepalanya, menahan semua air matanya.

Lalu tiba-tiba saja Rio pergi berlari meninggalkan Gina sendiri disana.


-oOOo-


Cakka dan Agni terus menerus mengelilingi mall mencari sepatu futsal inceran Cakka,

“akhirnya dapet juga sepatu incerannya si cakdut.”ucap Agni sambil mengayunkan tangannya untuk mengambil sepatu itu, dan tiba-tiba ada tangan lain yang juga hendak mengambilnya “hmm, maaf..”ucap si pemilik tangan itu, Agni mendongak

“Ri…Rizky?”ucap Agni.
“Loh, Agni? Gak nyangka ketemu disini.”ucap Rizky  -si pria itu-
Agni nyengir bodoh “hehe, iya nih, lo ngapain ke sini.”
“hmm, iseng aja sih, lo sendiri?”
“gue lagi sama sahabat gue hehe,”

Tiba-tiba Cakka sudah ada disamping Agni

“gimana noy, udh ketemu sepatunya?”Tanya Cakka masih belum memperhatikan bahwa Agni mempunyai lawan bicara, Agni mengangguk “eh iya kka, kenalin ini Rizky temen SMP gue, hehe.” Cakka menoleh kearah Rizky dan mengulurkan tangannya

“Cakka, calon pacar Agni”-_-ucapnya dengan cepat Agni mencubit perut Cakka “aww!!”
“apaan sih lo kka, pacar pacar!”sewot Agni, cakka hanya nyengir bodoh “oh iya bro, udh makan? Makan aja yuk gue laper nih sekalian mau ngomong banyak sama si Agni hehe.”ucap Rizky, ketika Agni mendengar kata ‘makanan’ dirinya langsung semangat
“YOOKK!!!”ucapnya sambil menggandeng tangan Cakka dan Rizky.
Setelah sampai di foodcourt mereka pun memesang makanan masing-masing “gila ni, sekarang lo feminism banget!”ucap Rizky membuka percakapan, Agni senyum “hehe, ia nih gue juga ga nyangka gue bakal kayak gini, lo sendiri sekarang kenapa bisa ganteng yah?”
Rizky menoyor kepala Agni, “gak berubah masih aja tetep nyolot.”
“hehe,tapi beneran loh perasaan lo tuh dulu jelek banget, eh sekarang ckck amboii, ganteng bingitzz!”kagum Agni.
“haha, bisa aja sih lo, lo juga kok tambah cantik huahaha.”puji Rizky tulus, dan mereka berdua pun asik dengan percakapan sendiri melupakan Cakka yang sedari tadi hanya di jadikan obat nyamuk. Sampai pada akhirnya makanan mereka habis dan memutuskan untuk pulang
“Ni, bareng gue yuk, gue juga mau sekalian tau rumah lo nih,”tawar Rizky,

Tanpa meminta persetujuan Cakka terlebih dahulu Agni menganggukan kepalanya dan pergi bersama Rizky meninggalkan Cakka sendiri.


-oOOo-


BUGGGG!!!!

Sebuah tunjuan keras mengenai pelipis Gabriel ‘APA-APAN SIH LO YO!”teriak Gabriel tak terima, sambil berusaha bangkit ia pegang pelipisnya yang sudah terluka tersebut, Rio menarik paksa kera baju Gabriel agar cowok tersebut mau berdiri

“LO YANG APA-APAAN!”



BERSAMBUNG...




Pesan

Nama

Email *

Pesan *

Penulis kece

  • Dewi Lestari
  • Esti Kinasih
  • Ilana Tan
  • Stephanie Zen
  • Windry Ramadhina

Blog Archive

YOU

Followers

Black Moustache

Pages

Blogger Templates