Bestfriend be Love? No way! - 1

Sebelumnya: Bestfriend be Love? No way! - Sinospis



Tittle: Bestfriend be Love? No way!
Author: Lidang Sinta Mutiara & Shelly Sagita Davitri


Bestfriend be Love? No way!


SMA Idola masih belum ramai, hanya terdengar hiruk-piruk langkah kecil, siswanya juga belum banyak yang hadir. Hanya ada Ify, Zahra, dan Sivia yang sedang asik bercengkrama satu sama lain, sesekali bertukar pikiran mengisi waktu luang yang masih tersisa, tak ada PR yang harus mereka kerjakan seperti biasanya. Semua sudah beres. Hanya tinggal menunggu bel berdentang.

Ify ,  Zahra, dan Sivia. Tiga sahabat ini memang sudah bersahabat dari kecil, kembar identic beda ibu-beda ayah. Begitulah julukan mereka. Bahagia bareng-bareng, makan bareng-bareng. Kecuali sedih, mereka enggan melakukannya bareng-bareng. Dengan satu alasan, karena jika sedih bareng-bareng yang menghibur siapa dong?

Ify menyenderkan punggungnya ke bangkunya merenggangkan otot-ototnya.

“Eh, tau gak?” tanya Sivia mengejutkan Zahra dan Ify.

Keduanya saling pandang tak mengerti maksud dan arti perkataan sahabat mereka tersebut yang terkesan menggantung dan tak jelas arahnya.

“Gak ,tuh,” ucap Zahra cuek.

Sivia melengos.

“Emang tau apa ,Vi?”

“Gak ada apa-apa sih, cuman mau nanya aja. Sahabat jadi cinta, mungkin gak sih terjadi?”
Zahra memilih diam, sementara Ify menatap Sivia dengan pandangan meremehkan. “Gak,tuh. Bagi gue, sahabat ya sahabat. Gak akan pernah bisa menjadi cinta. Lo tau kan konsekuensinya kalo sahabat jadi cinta? Akan ada sekat dan permusuhan jika nanti hubungan cintanya akan berakhir,” Ify beragumen.

“Yakin, Fy?”

Ify mengangguk.

Zahra mengangkat wajahnya, “Tapi menurut gue sih ya, mungkin aja kali ,Fy. Sahabat jadi cinta. Bahkan cinta memang bisa timbul karena terbiasa kan? Terbiasa bersama dan akhirnya benih-benih cinta akan muncul dengan sendirinya,” jelas Zahra yang akhirnya membuka suara.

“No no no! Itu gak boleh, kalo itu terjadi ish, gak deh ya! Cinta karena terbiasa? Memang bener dan aku percaya, tapi sahabat? Apa kalian tega?”

“Why not?”Tanya Sivia.

“Tapi kan—“

“Lihat deh ,Fy, contohnya, Agni dan Cakka? Mereka udah sahabatan kayak apaan tahu kemana-mana lengket banget, dan lo tahu kan? Dua minggu yang lalu mereka jadian. Wew! Bener-bener sahabat jadi cinta itu ada ,Fy.”

“Ah! Pasaran,” elak Ify, ia mengeluarkan BBnya dan berniat menyalakan akun twitternya, sungguh. Pembicaraan semacam ini sangat tak menarik baginya. Bagaimana tidak? Sahabat jadi cinta? Oh, tidak! Itu klasik dan tak bisa ia bayangkan hal itu terjadi. Akan ada yang terluka nanti ketika hubungan itu berakhir, tak ada kata sahabat lagi dikedua belah pihak jika mereka putus, yang ada hanya permusuhan dan permusuhan yang sengit. Ify mendelik.
“Eh, Fy! Bukannya lo juga punya sahabat cowok ya selain gue sama Zahra, ah! Lo harus hati-hati tuh Fy!” saran Sivia.

Ify melotot tak percaya. “Loh loh! Kok,jadi malah bahas ke arah sini sih?” batin Ify. “Hah?”

“Sahabat jadi cinta tuh, be carefull ya!” goda Zahra dengan mengedipkan sebelah matanya, membuat Ify mendadak mules.

‘Sahabat jadi cinta? No way!’ batin Ify sambil menyunggingkan senyuman meremehkan.

************

Keramain di kantin SMA Idol memang tak ada duanya. Bisa terlihat dari berbagai sudut penjuru kantin yang penuh dengan siswa-siswi SMA Idol itu sendiri. Salah satu meja di kantin tersebut dihuni oleh tiga orang gadis yang asyik membicarakan sesuatu seraya menyatap makanan mereka.

“Hati-hati lho, Fy. Sahabat jadi cinta. Sahabat lo yang cowok itu ganteng banget tau. Masa sih ntar lo bisa NGGAK jatuh cinta sama dia,” goda Sivia sambil jemarinya membentuk love.

“Gue setuju sama, Via. Gue yakin tau kalau lo sama dia pasti bakalan pacaran. Gue yakin, seyakin-yakinnya seperti rasa yakin gue kalau malam itu pasti gelap,” timpal Zahra tak mau kalah.

Ify memutar bola matanya malas. “Kalau malem memang gelap, Ra. Gimana sih, lho.”

“Kan cuma analoginya aja, Fy. Yang pasti lo bakalan love-love sama sahabat lo itu,” ucap Zahra dan menusuk sepotong siomaynya dengan garpu.
“Sahabat jadi cinta itu nggak sepenuhnya berlaku tau. Tadi pagi lo berdua ngomongin sahabat jadi cinta. Nggak bosen apa? Atau jangan-jangan lo berdua naksir sama sahabat lo ya?” serang Ify balik. Ia bosan dipojokan, lantaran mempunyai seorang sahabat cowok.

“Yeeeee elah nih anak,” ucap Zahra dan menatap Ify malas. “Eh…, di antara kita siapa yang punya sahabat cowok? Hayo siapa?” tanya Zahra.

“Via punya tuh, si Gabriel,” jawab Ify.

“Gue sama Gabriel itu cuma temen, nggak sahabatan kali. Ketemu dia aja cuma di sekolah dan itu pun kalau dia punya keperluan sama gue. Mana ada sahabat yang kayak gitu,” jelas Sivia.  

“Ify tuh yang punya sahabat cowok,”ujar Zahra.

“Kalau gitu lo sendiri punya kali, Ra. Kan lo sama Dayat deket amat.”

Kini giliran Zahra menggelengkan kepalanya. “Sahabat gue cuma elo berdua, Ify sama Via. Itu doang. Sahabat cowok, gue nggak punya tau. Dayat mah teman sekerja di OSIS doang.”

“Cuma lo, Fy, yang punya sahabat cowok di antara kita. Cieee Ify…. Mana sahabatnya ganteng lagi. Yang paling diminati di sekolah ini sih. Siapa sih yang nggak mau sama dia. Jangan-jangan selama ini lo diem-diem suka sama dia ya, Fy?” selidik Sivia penuh semangat. Bahkan Sivia sendiri menunjuk-nunjuk Ify dengan senyum penuh selidik.

“Bener banget tuh, Vi. Siapa sih cowok yang paling diminati di sekolah ini? Jawabannya sudah pasti sahabatnya Ify. Siapa sih cowok yang paling digilain cewek di Idol ini? Jawabannya lagi-lagi sahabatnya Ify. Terus, siapa sih cewek yang paling dekat dengan the most wanted boy in SMA Idol? Jawabannya Ify,” ucap Zahra dan mencolek pipi Ify gemes. “Itu semua udah membuktikan, kalau hanya elo satu-satunya cewek yang bakalan menjadi penghuni hatinya the most wanted boy alias sahabat lo sendiri. Percaya aja sama istilah yang udah turun temurun itu aja deh, Fy. ‘Sahabat pasti bakalan jadi cinta’”, lanjut Zahra dan menjentikan jemarinya.
“Gue udah bilang dari pagi tadi tau. Sahabat jadi cinta?? No way!!! Bagi gue sahabat tetap sahabat. Cinta ya cinta. Ngapain juga cari cinta dari sahabat sendiri. Nggak berkembang woi… nggak!! Memang siapa sih yang mengesahkan kalau sahabat pasti jadi cinta. Kurang kerjaan banget!!!” protes Ify.

“Makanya dong, Fy, baca tuh novel-novel. Banyak tau di novel-novel itu. Contohnya aja novelnya Mbak Winda Efendi, di novelnya Refrain sama Ai aja, ternyata ceweknya itu suka sama cowoknya, tapi dia diam-diam aja takut ngerusak persahabatan. Terus, si Cowok ternyata memang asli suka sama si Cewek sampai rela jomblo. Itu udah membuktikan tau!!!” seru Sivia penuh semangat.

“Benta……”

“Jangan nyela dulu,” sambar Sivia tak sabar. Ia harus menjelaskan dengan sejelas-jelasnya pada sahabatnya yang keras kepala ini. Susah banget sih nerima kalau sahabat pasti jadi cinta. “Kalau masih nggak yakin sama novel itu, ada novel lainnya. Judulnya kalau nggak salah Loventure. Tuh cewek pusing-pusing cari cowok, eh ternyata sahabat cowoknya suka sama dia. Dan si Cewek ternyata suka juga sama si Cowok. Bayangin. Ngapain juga lo muter-muter cari cinta, kalau pada akhirnya masih kembali sama sahabat cowok lo,” ucap Sivia mengakhiri orasi panjangannya.

Ify memonyong-monyongkan bibirnya. Dia bête abis dicermahin seperti ini. Memang salah ya kalau dia punya pendirian lain??? “Itu sih lo-nya aja korban fiksi!!!!” balas Ify sewot.

“Gue setujunya sama Sivia,” ucap Zahra mengambil suara. “Kan novel itu ditulis berdasarkan pengalaman pribadi, kan memang ada yang gitu, Fy. Lagian kisah lo memang mirip sama cerita di novel-novel itu. Terima aja sih, Fy. Lo kenapa muter-muter,” ujar Zahra lagi.
“Tapi terkadang cerita di novel itu hanya khayalan. Khayalan. Jangan-jangan si Penulis terobsesi ingin sahabatnya suka sama dia,” ujar Ify masih tak terima.

“Mana ada yang gitu. Eh… jangan-jangan lo memang diam-diam suka sama sahabat lo ya? Atau, Fy, sahabat lo suka sama dia. Dia kan jomblo udah lama. Mana ada sih kabar sahabat lo itu punya pacar. Jangan-jangan dia suka sama lo, Fy. Tapi lo aja yang nggak perduli. Gue yakin seratus persen,” cerocos Zahra penuh semangat.

“Pemikiran lo fantastic banget sih, Ra,” puji Sivia pada Zahra. “Jangan-jangan memang gitu, Fy. Wah, kalau gini lo harus mulai jujur sama perasaan lo, Fy. Kapan lagi sih jadi pacarnya the most wanted boy SMA Idol. Gue aja pengen,” tambah Sivia.

“Kalau lo mau ambil sono. Lagian, gue udah bilang kalau gue nggak suka sama sahabat gue. Kenapa sih lo berdua masih aja bilang kalau gue suka sama dia sampai lo hubung-hubungin cerita di novel,” ucap Ify kesal.

“Karena pada kenyataannya memang seperti itu,” ujar Sivia dan Zahra kompak lalu bertos ria.

“Males gue!!!!” seru Ify tak terima. “Gue tegasin sekali lagi ya? Bagi gue, sahabat ya sahabat, nggak lebih. Dan cinta ya cinta. Nggak bakalan cinta jadi sahabat!!!”

“Tapi kalau menurut gue sama, Zahra…,” Sivia menggantung kalimatnya.

“Tak bisa hatiku menapikan cinta… karena cinta tersirat bukan tersurat… Meski bibirku terus berkata tidak… Mataku terus pancarkan sinarnya.” Zahra menyanyikan sebait lagu Sahabat jadi Cinta punyanya Band Zigas. “Next, Vi!!!” seru Zahra saat ia selesai bernyanyi.

“Kudapati diri makin tersesat…. Saat kita bersama. Desah nafas yang tak bisa teruskan… Persahabatan berubah jadi cinta…..” sekarang ganti Sivia yang bernyanyi.

“Denger tuh, Fy. Persahabatan berubah jadi cinta….” Ulang Zahra. Dia dan Sivia bertos ria dan tersenyum penuh kemenangan ke arah Ify yang melengos dan cemberut.
“Gue masih tetap yakin sama pendirian gue, kalau sahabat nggak mesti jadi cinta. Nggak selalu cowok dan cewek yang bersahabatan jadian. Kalau yang di novel-novel, itu kisah mereka. Bukan kisah seorang Alyssa Saufika Umari,” ucap Ify tetap ngotot.
“Oke… oke!!! Terserah elo. Tapi lo harus buktiin ucapan lo, gue sama Zahra pegang omongan lo,” tantang Sivia. “Gimana, Ra? Lo setuju?”

Zahra mengangguk. “Kalau memang lo tetap yakin sama pendirian lo, kita berdua hargain, Fy. Lo mesti buktiin sama kita berdua. Soalnya, kalau lo memang nggak mau sama sahabat cowok lo yang super ganteng dan keren itu, gue sama Sivia siap nampung kok,” ucap Zahra.

“Siip. Gue terima tantangan lo berdua. Kalau gue yang berhasil lo berdua harus nurutin kemauan gue selama satu hari penuh. Kalau gue gagal, lo berdua mau apa?” Tanya Ify dengan penuh percaya diri. Ia yakin, kalau dia pasti bakalan menang.

Sivia dan Zahra saling pandang memandang. Mereka memberik kode. Saat senyum manis tersungging di wajah cantik kedua remaja itu, pasti itu berarti kesepakatan sudah terjadi di antara mereka berdua.

“Oke… Kita berdua maunya lo……..”

Teng……. Teng…… Teng………

Bel tanda masuk berbunyi. Sivia otomatis berhenti bicara. Ia teringat dengan wajah Pak Dave yang super ganas kalau mereka terlambat masuk kelas beliau. Bisa-bisa diempani sama lima soal Fisika yang susahnya tingkat dewa.

“Nanti gue SMS aja, Fy. Nggak sempet. Habis ini Pak Dave,” ucap Sivia.

“Buruan ke kelas, yuk. Gue nggak mau kena hukuman mematikan itu,” ujar Zahra yang sudah berdiri.

Mau tak mau Ify menurut juga. Dalam lubuk hatinya, ia juga belum pernah berhasil mengerjakan soal Fisika ala Pak Dave yang ribetnya minta ampun. Susahnya amat sangat.

“Oke!! Gue tunggu!!!” ucap Ify setuju. “Ayo ke kelas!!!”

***********

Sekarang jam fisika sedang berlangsung, Pak Dave sedang menerangkan berbagai rumus dengan lihainya sedangkan anak-anak hanya melihat deretan rumus itu dengan tatapan tak mengerti yang berujung tak mendengarkan Pak Dave mengajar.  Ada yang sedang main handphone, ada yang sedang menggambar dan sebagainya. Ify sendiri sedang menatap papan tulis dengan tatapan kosong. Bukan. Ia bukan memikirkan bagaimana caranya agar ia mengerti pelajaran monster tersebut, yang ada diotaknya sekarang tentang perkataan sahabat-sahabatnya tadi pagi dan pas dikantin. Sejuta pertanyaan menari-nari di pikirannya.

Apa mungkin ia akan jatuh cinta dengan sahabatnya sendiri?
Ah, gak mungkin! Hidupnya tidak se-klise itu.

Tapi Ify juga tak menampik jika sahabat laki-laki nya itu adalah cowok yang sangat tampan semua cewek bahkan akan langsung jatuh cinta kalau melihat nya, bahkan Zahra dan Sivia suka jeolus jikalau Ify sedang berjalan dengan sahabatnya itu. Ya, semua wanita memang ingin sekali berada di posisi Ify di mana ia sangat dilindungi oleh sahabat cowok tersebut, tetapi ia sendiri tak memiliki perasaan apapun dengan sahabatnya itu.
Kalaupun ada hanya sebatar sayang kepada sahabat atau abang sendiri, That’s it! Ia sendiri memang sempat berfikir bahwa bodoh kah dia? Tidak mencintai sahabat nya itu? Ah, semua ini rumit bagi Ify, ia yakin kalau ia sebenarnya memang tak mempunyai perasaan secuil pun kepada sahabat nya itu, ini murni persahabatan bukan? Tak ada cinta yang lebih di hubungan ini dan Ify percaya itu.
“Woi! Pak Dave dari tadi manggil elo tuh!”seru Sivia gemas sambil menyikut siku Ify.
Ify terperajat kaget lalu menatap pak Dave yang sudah menatapnya lebih dulu dengan tatapan geram, “Coba kamu jawab apa soal nomer 3 sekarang,Alyssa!” titahnya sambil menggoyang-goyangkan tangannya yang memegang spidol.
Ify meneguk saliva-nya ketika melihat soal nomor 3, kemudian ia merutuki dirinya sendiri karena dia begitu nekat bengong di saat jam pelajaran guru killer ini berlangsung.
Jujur, ia paling lemah dalam hitung-hitungan, ia hanya mempunyai kecerdasan visual yaitu tentang music dan bukan hitungan seperti ini.
‘Oh, Dewi Fortuna, where are you now?’ batinnya memelas.

*************
“Vi! Viaaa!”teriak Ify sambil mengejar Sivia dengan cepat.
Sivia yang merasa dirinya dipanggil menghentikan langkahnya dan membalikkan tubuhnya ke belakang. “Ada apa, Ify?” tanyanya gemas. “Gue mau nagih nih, apasih hukuman nya kalo gue kalah?” tanya Ify dengan raut wajah penasaran.
Sivia tersenyum lalu menyikut Zahra yang ada disebelahnya, “Duh, sorry nih, Fy. Nanti aja deh ya gue ada perlu banget sama Gabriel.”
“Yah, gimana sih lo! Oh iya,Ra. Lo pasti tau kan hukuman itu apa? Kasih tau dong,” desak Ify.
Zahra nyengir sambil mengangkat bahunya pertanda ia tak ikut campur, “Sorry juga, Fy, gue gak ada ikut campur soal hukuman lo. Lo tau sendirikan yang punya ide gila itu Sivia.”
Ify melengos sambil memandangi kedua sahabatnya itu dengan tatapan kesal tangannya ia lipat di dadanya pertanda kalau sebentar lagi ia akan benar-benar marah, “kalian kok gak fair gini sih?”
“Aduh-aduh, Cantik. Kalo kita dikasih taunya sekarang kan gak seru tauu! Jadi, berhubung gue orangnya baik hati dan emang gak sombong gue akan kasih tau nya nanti! Inget, nanti! Pasti gue sms lo kok. Gausah cemberut gitu dong, Fy,” jelas Sivia panjang lebar.
“Oke, oke lo berdua menang tapi lo berdua harus inget harus ngasih tau gue nanti! Kalo bohong gue akan marah sama lo berdua.”
Sivia dan Zahra terkekeh geli mendengar kata-kata childish dari Ify, “Marah sama kita? Emang bisaaaaaaaa?” kata mereka berdua serempak sambil mengambil ancang-ancang untuk kabur.
“Siviaaaaaaaaaaaa! Zahraaaaaaaa awas lo berdua yaaaaaaaa!” teriak Ify dari kejauhan ketika melihat kedua sahabatnya sudah kabur entah kemana.
************
Ify menopang kepalanya dengan sebelah tangannya, muka nya terlihat sekali ditekuk, ya karena apa lagi? Ini semua karena Sivia yang enggan mengasih tau dirinya tentang hukuman yang akan dia dapat.
“Ih, Via gak adil banget sih.”gerutu nya kepada dirinya sendiri.
Drrtt…drtttt…..
Ify merasakan handphone-nya bergetar, ia membalikan badannya dan berjalan secara gontai kearah meja belajarnya tempat biasa ia menaruk handphone nya.

1 massege from Siviazizah. Ia membaca secara cermat tulisan yang berada di LCD handphone nya, dengan cepat ia men-klik tulisan itu, berhubung handphone nya adalah touchscreen tak menunggu waktu lama untuk sekedar loading.

From : siviazizah Piooong! Jadi, hukumannya itu lo harus,harus apa ya? hm… besok aja deh ya gue kasih tau biar greget.

Sial. Ify langsung manyun abis-abisan saat membaca sms dari Sivia. ‘Ini anak kebangetan banget deh ya! pengen gue makan rasanya,’batinnya berteriak.

To: Siviazizah E
h! Sompret, kasih tau gak?!
Send!
Tak menunggu waktu lama bagi Ify untuk menunggu SMS balasan dari Sivia, ia langsung membuka pesan itu.

From: Siviazizah
gamau. Biar greget:p

“Viaaaaaaaaaaa sialaannn!!!!!” teriak Ify frustasi.

***************

Teng….teng…teng….

Suara bel berdentang menandakan pelajaran akan segera dimulai, Ify yang baru saja datang ke sekolah langsung berlari terburu-buru agar dapat dengan cepat mengalahi langkah kaki guru yang ia takutkan lebih dulu ada dikelasnya,jika sudah begitu bisa berabe nanti urusannya.


BRUKK!

Tubuh Ify tumbang begitu saja ketika ia sedang berlari, rupanya ia menabrak seorang lelaki bertubuh jangkung, dengan sigap ia berdiri sambil menahan rasa sakit yang ada di kepalanya, entah karena pusing atau apa pas Ify berdiri ia terduduk lagi, rupaya ia benar-benar pusing akibat insiden tabrak menabrak itu.
“Duh sorry ya sorry, lo gak apa-apa kan? Gue buru-buru nih. Bye,”ucap lelaki itu terburu-buru.

Ify mengangguk tanpa melihat wajah lelaki itu, Ify sambil membetulkan seragamnya juga tak ambil pusing tentang siapa yang menabraknya tadi, yang ada dipikirannya hanyalah bagaimana caranya supaya ia dapat berjalan dan kembali berlari supaya sampai ke kelas.
Ketika Ify telah berhasil berdiri ia menatap punggung lelaki yang menabraknya tadi, lelaki itu memiliki tubuh yang jangkung serta berjalan seperti Edward di film Twilight cara jalan yang tegap dan lebih ke terburu-buru, rambut spyke-nya juga di buat sangat rapih, tapi bukan itu yang mengundang tanda Tanya Ify tetapi ia malah tak pernah melihat lelaki ini sebelumnya di sekolah ini.
“Dia anak baru ya?” tanya nya pada diri sendiri.
Ia merasa hatinya sangat tertarik sekaligus penasaran dengan cowok tersebut.
“Ah, bodo. Duh, gimana cara jalan nya ini, sakit banget kakiii yaowohh!”



Pesan

Nama

Email *

Pesan *

Penulis kece

  • Dewi Lestari
  • Esti Kinasih
  • Ilana Tan
  • Stephanie Zen
  • Windry Ramadhina

Blog Archive

YOU

Followers

Black Moustache

Pages

Blogger Templates