Bestfriend be Love? No way! -2

Tittle: Bestfriend be Love? No way!
Author: Lidang Sinta Mutiara & Shelly Sagita Davitri

Sebelumnya: Bestfriend be Love? No way! -1

Bestfriend be Love? No way! - 2



“Seharusnya lo tadi gak terlambat,Fy!”ucap Sivia sambil menggeleng-gelengkan kepalanya dan menatap sahabatnya yang kini ada dibawah tiang bendera.
“Kan kita udah sering bilang jangan terlalu terosebsi jadi pianis apalagi ini sampai bikin sekolah di nomor duakan,ckck.”saran Zahra menambahi perkataan Sivia seakan-akan belum cukup apa yang di ucapkan oleh Sivia tadi.

Ify hanya mangut-mangut saja sambil tetap seperti posisi tadi, layaknya orang sedang hormat.

Matahari juga sekarang sedang panas-panasnya seakan-akan menambah penderitaan Ify, Ya. dia di hukum karena terlambat masuk di kelas pertama padahal ia sendiri tahu bahwa jam pertama akan di isi oleh pelajaran Matematika yang digurui oleh bu Winda guru ter-killer nomer dua setelah pak Dave. Ify juga sebenarnya membenarkan kata-kata sahabat-sahabatnya itu ia memang salah. Tak seharusnya ia terlalu terosebsi sama dunia musik dan mengabaikan pendidikannya, seharusnya ia tak begadang demi menyelesaikan hasrat nya untuk bermain music pasti ia tak akan di hukum seperti ini.


“Iya iya! Gue tau kok, gausah mojokin gue gini juga kali,”protes Ify sambil mengelap peluh keringat yang mulai menetes di kepalanya.
“yang mojokin elu itu juga siapaa cantik! Kita itu sayang sama elu, makanya nasehatin elu gini! Lo pikir gue mau apa nyeramahin lo? Ogah kali,capek tau! Tapi berhubung kita sayang makanya mulut kita nyerocos mulu!”jelas Zahra panjang lebar, Ify hanya diam dan mangut-mangut mendengar khotbah Zahra sahabatnya itu.
“Eh, lo tau gak? Anak pindahan dari Bandung itu keren banget loh, aish gak nyangka deh kelas IPA XI – 7 tuh beruntung banget kedapetan anak baru kayak gitu, bener yah kata orang kalo orang bandung itu kasep-kasep sama geulis-geulis pisan!”terdengar suara siswi perempuan yang sangat kentara di telinga Zahra,Ify dan Sivia, mau tak mau mereka pun menoleh kearah siswi yang sedang asik menggosip itu.
“Pindahan? Emang kita ada anak pindahan?”Tanya Sivia dengan tampang polosnya sambil menatap Sivia dan Zahra bergantian, yang di tatap hanya mengangkat bahu  pertanda tak tahu apa-apa.
“Ssstt,”desis Zahra sambil menaruh jari telunjuk ya tepat di bibirnya menyuruh agar Sivia diam.

Sivia mengangguk-anggukan kepalanya setuju.

anak baru?’ Tanya Ify pada dirinya sendiri ia lantas mengekori matanya menyusuri siswi yang tadi asik menggosip menunggu agar mereka melanjutkan cerita mereka.

“asik! Sekolah kita nambah stok cogan lagi yeay.”girang teman siswi tadi.
“Yaya, memang asik sih ditambah lagi dia itu friendly banget loh, gak jutek atau cool kayak cowok-cowok ganteng kebanyakan.”
“Hah, iya! Ah, baguslah berarti hidup kita gak kayak di sinetron-sinetron. Tapi, yakin deh pasti Dea akan ngerebut cowok itu. Huft”
“Ish, whatever lah, selama cowok itu belum ada yang punya siapapun boleh deket sama dia.”
“Oke oke,”

Percakapan itu di tutup ketika siswi-siswi tadi berhamburan kekantin.

“Zah….”panggil Sivia.
“Iya, Vi….?”
“Gue gak mimpi kan? Sekolah kita ada anak baru loh…”
“Gak kok…”
“Berarti…”
“Berarti?”Tanya Ify bingung akan percakapan antara kedua sahabatnya yang menurutnya tak jelas sama sekali itu.
“BERARTI KITA HARUS DAPETIN DIA! AHAY!!”seru Sivia semangat.
“Apaaa?!”Tanya Ify histeris tak menyangka bahwa sahabatnya bisa segila yang ia tak pernah duga.
“Lo gila.”lanjutnya lagi.
“Gapapa kali,Oh my calon pacar….”guman Sivia dengan pandangan menerawang.
“Gila.”ucap Ify lagi sambil mendelik menatap kedua sahabatnya.
Zahra hanya tertawa kecil menatap wajah Ify yang sudah tak enak untuk di lihat, “Ciye, Ify sirik.”

Sementara Ify hanya bisa memandang sahabatnya itu dengan pandangan kasihan, sepertinya sahabatnya sudah terjangkit virus mematikan.


--


“Gila gila gila! Bisa gila gue karena ini semua, asli!”pikir Ify tak percaya ketika melihat Zahra dan Sivia langsung berlari cepat-cepat menuju kelas XI-7 hanya demi menemui sang anak baru yang mereka pun tak tahu wajahnya seperti apa.


Ia pun melihat sekelilingnya lalu begidik ngeri ketika merasa bahwa kelasnya telah kosong tanpa penghuni manusia satu pun kecuali dia, lama-kelamaan bulu kuduknya merinding juga ketika di hadapkan kepada posisi seperti ini, jujur. Ify tak suka dengan kesendirian.
Ia bergegas membereskan barang-barangnya lalu beranjak dari tempat duduknya.


Drrrtt…..drrrtttt..

------------------------------------------------------------- 

 1 message received

Fy, maaf. Telat kasih tau, kali ini aku gabisa jemput kamu. Mami minta di anterin belanja.


--------------------------------------------------

Ify menghembuskan nafasnya lemas, “Oke bagus! Dewi fortuna meninggalkan gue, lengkap sudah penderitaan ini!”
“yaah… gini deh resiko nya punya sahabat cowok baik pula, sering gabisa di andelin.”lanjutnya pada dirinya sendiri.

Dengan lemas ia melangkahkan kakinya keluar kelas,penat juga marah-marah sendirian di kelas.


BRUUUK!


Ify menabrak sosok tubuh kokoh yang ada didepannya sampai-sampai tubuhnya tersungkur ke lantai.

“sakiiiiiiiiiiiiiiit!”teriak Ify kesakitan sambil berusaha berdiri, ia coba tetapi gagal, ia memang tidak bohong, sakit sekali menabrak orang itu.
“sorry ya, lo ga apa-apa?”Tanya cowok bersuara berat itu.


Ify mendongak menatap cowok tersebut, jantungnya seakan-akan bepacu 2 kali lebih cepat dari sebelumnya, Ify menatap cowok yang menabraknya, penampilannya…rahangnya..hidungnya..cara menatapnya, membuat Ify seakan-akan bisa berhenti bernafas.


1 detik…
2 detik…
3 detik…


Masih seperti posisi tadi, Ify betah melihat cowok itu.

“Hmm, sorry? Mau gue bantu berdiri? Sakit banget ya?”Tanya cowok itu dengan nada sesal.

Ify mengangguk lalu mencoba tubuhnya agar bangkit lagi, tetapi ia terjatuh lagi, ternyata aksi tabrak-menabrak itu bisa membuat tubuhnya seperti ini.

“jangan di paksa, sini gue bantu.”ucap cowok itu sambil melentangkan tangannya penggapai tangan Ify dan membawanya ke rangkulan.
Ify menatap cowok itu sekilas, “kita pernah ketemu ya?”
Cowok itu mengamgguk sambil tersenyum simpul, “iya, lo yang nabrak gue tadi pagi.”
Muka Ify bersemu merah tak menyangka atas kebetulan yang dialaminya, “anak baru?”

Cowok itu mengangguk.

Cukup lama mereka bercakap-cakap hingga akhirnya mereka sudah sampai di lapangan parkir, “pulang sama siapa?”cowok itu bertanya mimik muka nya menggambarkan kecemasan seakan mengejar sesuatu.
“kenapa?”Tanya Ify menyadari ada yang tak beres.
“gue ada les music,”
“yaudah pulang aja.”
Cowok itu menggeleng pelan, “gabisa, lo kayak gini gara-gara gue.”
Ify terdiam dan memuji tindakan gentleman cowok tersebut, tak lama kemudian mobil silver bermerk jazz menampakan dirinya didepan Ify dan cowok tersebut, “gue duluan ya, hati-hatii.”
“itu jemputan lo?”
Ify mengangguk, “iya.”
“oke be carefull ya!”
Ify mengangguk lagi dan memasuki mobilnya, melihat cowok itu sudah meninggalkan mobil Ify, Ify menatap cowok itu dengan tatapan yang entahlah, ia sendiritak tahu perasaan apa yang melanda nya, yang pasti ia senang dan merasa aman didekat cowok tersebut.
Tiba-tiba ia teringat sesuatu, lantas Ify menepuk jidatnya sambil mengumpat, “aduh! Bego, nama dia siapa?”Tanya nya kepada diri sendiri, ketika Ify ingin teriak meneriakan cowok tersebut sudah lenyap dari pandangannya.
Saat ini ia hanya berharap agar bertemu cowok itu lagi.


--


Gina menatap anaknya dengan wajah cemas, sedari tadi Ify hanya memerhatikan televise dengan tatapan kosong dan bibir yang terangkat membentuk senyuman, jarang sekali Ify bisa tersenyum tanpa sebab seperti itu dengan tak ragu ia langkahkan kakinya mendekati anaknya, membelai rambut Ify dengan kasih sayang, yang di belai justru terperanjat kaget dan menatap Ibunya bergantian, “Fy, kamu kenapa?”Tanya Gina masih tetap membelai rambut Ify..

Ify membalas pertanyaan itu dengan raut muka bingung, “gapapa kok ma, emang Ify kenapa?”

“Yakin? Dari tadi mama perhatiin kamu senyum-senyum sendiri nak.”
“masa sih?Apa Ify gila ya ma? Ah,”
“Mama serius kamu bercanda.”


Ify hanya menjawab pertanyaan itu dengan tawaan yang tak jelas, ia lantas menyenderkan kepala nya kearah sang Ibunda dan tertidur disana, Gina yang melihat muka anaknya sedang tidur tenang hanya bisa menyunggingkan senyuman tulus dan kebahagiaan.

 ‘kayaknya anak gadis ku lagi kasmaran deh.’bisiknya dalam hati sendiri.

--

“Yel, gue bingung nih.”ucap Sivia membuka percakapan.
Gabriel merubah ekor matanya menatap Sivia, “ada apa?”
“tentang Ify,”
“dia kenapa?”
“dia kan punya sahabat cowok, nah ganteng pula siapa sih yang ga kepincut sama tuh cowok, aku aja kepincut abis itu kita bikin kayak permainan gitu deh, nah hukuman buat Ify yang cocok apa ya?”Tanya Sivia serius.
“yang gokil atau…”
“GOKIL!”
“gampang, lo harus bikin dia jadian sama orang lain.”
“hah?”
“bilang ke dia kalau pun dia gak jatuh cinta sama sahabatnya buktiin kalo dia emang ga cinta dengan cara jadian sama orang lain, simple.”
“pacaran gak semudah itu,Yel.”
“gak semudah tapi juga ga sulit kan? Ini cuman bicara hati. Dengan lo bikin permainan itu juga lo udah mengacak-acak hati seseorang.”
“maksudnya?”Tanya Sivia masih tak mengerti.
“semua orang juga gakmau kalah dalam sebuahpermainan, mereka akan meng-halalkan segala cara untuuk keluar sebagai pemenang, karena seperti itulah sifat manusia sejak di lahirkan: sebagai pemenang. Siapa sih yang mau kalah? Nah, Ify kayak gitu juga, ia akan menghalalkan segala cara termaksud membohongi perasaan nya sendiri.”jelas Gabriel panjang lebar.

Sivia masih menatap gabriel tak mengerti, kadang kemampuan berfikir Sivia sangat rendah ketika Gabriel tengah bersifat dewasa seperti ini dan ia selalu diam, “maksud lo Ify suka sama…”

who knows?

Dan akhirnya percakapan itu berhenti dengan masih menyisihkan perasaan tak menentu di hati Sivia.

--

Cowok itu menatap kamera digitalnya sekali lagi, sesekali tersenyum-senyum melihat hasil bidikannya sendiri.
Disana, ada berbagai ekspresi dari seorang gadis yang baru ia kenal, dari jatuh, merengut, cemberut, tertawa bersama teman-temannya dan masih banyak lagi, hebatnya ia melalukan hal itu hanya dalam hitungan jam.
Ia tak tahu apa yang mendorongnya melakukan hal yang setolol dan se-idiot itu, yang jelas ia seperti nya mulai sadar  bahwa cewek itu menarik dan langka.
Sejenak ia hembuskan nafasnya meraih sesuatu di atas buffet disamping tempat tidurnya, terlihat juga disana foto seorang wanita berambut agak blonde,  dengan senyuman merekah bak putri Indonesia yang sedang catwalk  diatas red carpet, ia mengambil foto wanita itu dan  melepaskan dari bingkainya.
Sudah saatnya ia melupakan masa lalu.

--

Ify mengetuk-ngetuk kan tangannya dimeja makan dan sesekali menghembuskan nafas berat ke poninya sehingga membuat poni itu menari-nari dengan lincahnya, “lapeer.”keluhnya sambil memegang perut nya dengan tatapan miris.

“sabar ya, non Ify. Maaf saya lama buatin nya.”ucap Ina—pembantu rumah Ify sambil menyerahkan makanan ke hadapan Ify
Ify mengangguk lalu tersenyum tulus, “gapapa bi.”ucapnya sambil meraih makanan tersebut.
Lalu dengan hitungan menit Ify sudah bergulat dengan makanan-makanan tersebut.
“asiiikkk! Makaanannn!”terdengar suara bass ditelinga Ify, Ify mengerutkan keningnya dan melihat tangan kokoh mengambil makanannya tanpa dosa, “lepas-lepas! Itu makanan gueee!”teriak Ify.
“Ih, pelit!”ucap cowok itu sambil mengacak-acak rambut Ify.
“bodo, lo dateng-dateng kerumah gue langsung ngambil makanan gue dengan enaknya! Haram tau!”ucap Ify dengan nada yang di buat-buat galak.
“hey non, gausah sok galak deh ya.”ucap cowok itu sambil menahan tawa nya, jujur. Melihat Ify memasang sok galak itu selalu membuat dirinya terpikal-pikal.
“gue tau! Lo marah kan karena gue gak jemput lo?”
“gak kok ada bang Ujang ini,”
“Tuhkan ngambek.”
“gak ngambek, beneran. Gue udah biasa di tinggal supir biadab kayak elu.”
Cowok itu menoyor kepala Ify pelan,“sialan gue di bilang biadab.”
“aaa, pusing tauu, lagian lo kalo mau jadi supir gue harus professional dongg, jangan batalin janji mulu.”
“yaelah,Fy! Gue sahabat lo bukan supir.”
“bercanda elah.”
Cowok itu mengangguk dan menjatuhkan dirinya dikusir dekat Ify, “katanya ada anak baru ya?”
“Iya, tapi gue juga gaktau siapa.”
“cowok?”Tanya cowok itu lagi.
“kayaknya,”jawab Ify singkat sambil memakan makanannya.
“ganteng?”
“meneketehe.”
“pinter?”Tanya cowok itu terus.
Pletak!
“gue gak tahu apa-apa tentang anak baru dan gak mau tau! Gue juga lagi makan jadi jangan ajak ngomong!”titah Ify.
“sadis.”ucap cowok itu sambil memonyongkan bibirnya.
“bodo.”ucap Ify singkat lagi dan melanjutkan makanan nya.
Hening.
Ify meletakkan sendok dan garpu nya di atas piring pertanda ia sudah selesai dengan urusan makan-memakannya.
“gantengan gue atau anak baru itu?”Tanya cowok itu lagi.
Ify melengos menatap sahabatnya itu dengan pandangan kesal, “kan gue udah bilang kalo…”
“kalo lo gak tahu menahu soal cowok itu, tau Fy,tau.”potong cowok itu cepat.
“pinter.”
“tapi gue tetep penasaran.”
“datengin aja kek ke kelasnya, susah amat idup lo.”
“gak ah, kalau gitu ntar reputasi gue sebagai cowok cool ilang dong?”
“kalo gitu gausah.”
“kok lo sinis sih,Fy?”
“kok lo banyak nanya?”
Diam,hening.
“gue pulang.”
“yaudah.”
“oke,”
“yaudah sana,jangan lupa kunci pintu.”
Cowok itu melengos, “yaudah bye.”
“oke.”
“lo kok jutek sih?”Tanya cowok itu sesal.
“lo kenapa gak jemput gue?”Tanya Ify balik.
“lo marah?”
“gak kok, tapi tadi gue jatoh.”
“HAA?!”
“dan di tolongin pangeran, so gue mau bilang thanks you so mmuchh yaa!! Muah muah muah, byee gue mau tidur!”Ify melangkahkan kakinya memasuki kamar tidurnya, sementara cowok itu hanya memandang Ify dengan tatapan sulit dimengerti.
“pangeran?”Tanya nya pada diri sendiri



Pesan

Nama

Email *

Pesan *

Penulis kece

  • Dewi Lestari
  • Esti Kinasih
  • Ilana Tan
  • Stephanie Zen
  • Windry Ramadhina

Blog Archive

YOU

Followers

Black Moustache

Pages

Blogger Templates