Bestfriend be Love? No Way! - 3

Tittle: Bestfriend be Love? No Way!




Author: Shelly Sagita Davitri  & Lidang Sinta Mutiara


Bestfriend be a Love? No Way! Part 3





“Pangeran… oh pangeran… my prince… will I meet you??” gumam gadis cantik itu untuk kesekian kalinya.

Pemuda tampan yang berada tepat di jok sebelahnya, lebih tepatnya lagi di balik kemudi tanpa sadar mengangkat sebelah alisnya. Ia heran. Pemuda itu benar-benar heran. Kemarin terakhir kali bertemu dengan sahabatnya ini, kata terakhir yang diucapkan sebelum sahabatnya itu kabur untuk istirahat adalah pangeran. Sebenarnya siapa sih pangeran itu????!!!

Seumur-umur bersama dengan Ify, sahabatnya itu, belum pernah sekali pun Ify mengatakan ia pangeran. Berarti cowok yang dilihat Ify itu lebih dari dia. Memang siapa sih??? Kan di sekolah mereka, masih ia yang menduduki ‘King of Most Wanted Boy SMA Idola’ dan sekarang Ify bilang ada yang mirip pangeran. Berarti lebih dari dia dong. Ini nggak boleh terjadi.

“Woiiii… wooiii… behel!! Pangeran elo datang!!!!!” teriak pemuda tadi tak santai.

Gadis cantik yang sibuk melamun membayangkan pangerannya sontak terkejut menapatkan terpaan angin badai ala sahabatnya ini. “Mana??? Mana pangeran gue?? Mana????” seru Ify cepat.

Huhhaaahaa…. Tawa pecah seketika.

Ify merengut. “Apaan sih lo. Kejam banget sama sahabat sendiri. Lo nggak tau apa kalau kita ini udah sahabatan dari kecil dan sekarang lo ngerjain gue???”

“Caileh… baru juga gitu. Habis elo ngomong my pangeran…. My prince… pangeranku… Memang siapa sih dia?? Memang lebih ganteng dari gue apa??? Liat gue baik-baik nih,” ucap sahabat Ify dan menampilkan senyumnya yang paling memikat. Yang bisa membuat para ikan di kolam, di laut, di sungai, bahkan di got menggelempar tak karuan.

Ify menampilkan ekspresi datarnya.  Matanya menatapan pemuda di sebelahnya ini dengan malas. “Gue bosen liat tampang elo. Dari elo botak gue juga pernah liat. Rambut elo pendek gue udah liat, rambut elo cukak gue juga udah liat. Apalagi sih??? Elo nggak ada ganteng-gantengnya, tauuuuuuuuuu!!!!!”

Hahahhuhhhaahahha…..

“Kenapa elo ketawa??”

“Biarpun elo bosen liat tampang gue, tapi cewek-cewek kagak ada yang bosen. Apalagi liat style gue sekarang. Harusnya elo itu bangga punya sahabat kayak gue!!!” ucap sahabat Ify narsis.

Ify mencibir. “Bangga apaan. Sangking bangganya gue jadi bahan gossip di sekolah. Satu lagi, kok elo kalo sama gue rewel, cerewet, bawel lagi. Tapi kalau diluar elo sok cool. Itu menjijikan untuk gue!!!!!!!”

“Curhat lo?”

“Bukan!!! Cuma cerita!! Ya iyalah dodol. Ish… deh lo!!!”

“Cool itu gelar gue, Fy. Elo harus nerimanya.”

“Males!!! Cepet lo nyupir, Mang! Biar cepet sampai!” ucap Ify jutek.

“Lo kira gue mamang-mamang!”

“Memang mamang. Kan elo mamang supir, wleeekkk!!!!!”

“Dasar. Ngomong-ngomong, Fy. Tampang elo tadi nyebut pangeran… my prince… pangeranku itu keren banget. Mata lo melebar… elo senyum-senyum mulu… sampai iler lo netes, hahahha….”

Mendengar hal tersebut Ify segera mengarahkan wajahnya ke kaca spion. Dan ternyata…….

“DASAR SAHABAT DURHAKA LO!!!!!!!!!!!”

***************

Suasana di kelas XI IPA 3 benar-benar luar biasa. Para cewek tiba-tiba berkumpul menjadi satu dan ini adalah hal langkah mengingat cewek-cewek mengelompok sendiri-sendiri.

Ify melangkahkan kakinya menuju bangkunya dan yang membuat dia heran, baru ia sadari kalau yang menjadi tempat perkumpulan para siswi itu adalah bangkunya dan Sivia. What??? Apa-apaan sih??

“Tuh Ify baru datang,” celetuk Ourel yang menyadari kedatangan Ify.

“Elo telat, Fy. Kita baru aja membahas perihal tentang anak baru di kelas XI IPA 7. Lo ketinggalan. Tau nggak lo, anak baru itu udah nyapa kita-kita waktu kita sengaja nungguin dia di gerbang. Wow banget nggak sih, Fy. Lo ketinggalan nggak liat senyumnya,” cerocos Gita tak mau kalah.

Dahi Ify membentuk perempatan alias kerutan bingung. “Anak baru itu senyum?? Ketinggalan kali, gue udah liat dia senyum langsung di depan mata gue. Nggak perlu bagi-bagi sama kalian,” batin Ify dan senyum-senyum sendiri.

“Fy… Ify… kok elo senyum-senyum sendiri?” tanya Zahra dan memperhatikan Ify dengan saksama.

“Gue tahu!!!” seru Sivia semangat dan menarik perhatian seluruh kaum hawa di kelas ini. “Ify senyum-senyum sendiri karena dia nggak perlu ngeliat senyum anak baru itu. Nggak perlu. Karena apa… karena Ify selalu dikasih senyum sama sahabat cowoknya yang super cool itu!!!!!!!!!” seru Sivia semakin semangat saja.

“Iya juga ya. Jadi Ify mah enak. Sahabat aja cool banget. Cuma sama Ify dia senyum. Sama kita-kita mana??? Nggak ada sama sekali!!! Envy sama elo gue, Fy. Pagi-pagi elo selalu dihadiahi senyumannya, pantas aja wajah lo berseri-seri mulu setiap pagi,” ucap teman sekelas Ify yang berambut sebahu.

“Apalagi kalau sahabat itu bisa jadi cinta. Ah… Ify mah nggak perlu ngarepin  cowok ganteng lagi. Sahabatnya aja udah ganteng. Kalau udah sahabatan dari lama mah nggak perlu bohongin hati lagi atau mempungkiri, kan pasti jadian nantinya. Dan elo bakalan jadian sama sahabat elo yang super cool, ganteng, tampan itu. Paket komplit lo dapat, Fy,” ganti teman sekelas Ify yang berambut panjang sepinggang angkat bicara.

“Kalau sahabat pasti jadi cinta, gue mundur deh naksir sahabat elo, Fy. Alamat putus cinta gue!” keluh yang lainnya.

Ify jengkel bukan main dan ia mengirimkan tatapan angkernya kepada Sivia yang membalas tatapannya dengan wajah polos ala Sivia Azizah lengkap dengan bahasa aura yang menggambarkan kalimat ‘sahabat jadi cinta’. What the hell banget tuh Sivia.

“Dengerin gue ya, gue nggak suka sama sahabat gue itu. Kalau kalian naksir sama dia, kejar sono mumpung masih jomblo. Gue benaran nggak ada rasa sama dia, kecuali sahabat. Gue berani pegang ucapan gue!!!” ucap Ify tegas.

Teman-teman yang lain mengangguk-ngangguk. Ify melirik Zahra dan Sivia yang cekikikan. Memang ada yang lucu ya????

“Kalau gitu gue boleh dong deketin sahabat elo?” celetuk Aren.

“So pasti lah, Ren. Mau lo jadian juga nggak apa-apa. Tapi jangan lupa, PJ-nya ke gue,” balas Ify ceria. Dengan begini nggak ada bakalan yang mengatainya naksir sama sahabatnya sendiri. Lagian Ify juga bosen liat tampang sahabatnya dari dulu. Memang ganteng Ify akui, tapi kegantengan itu lama-lama menguap karena Ify selalu melihatnya. Dengan kata lain, gantengnya sahabat Ify hanya berlaku dulu tidak sekarang.

“Tapi kan, kita boleh aja naksir sama sahabatnya Ify seperti yang dibilang Ify sendiri. Tapi mana kita tahu perasaaan sahabat Ify. Jangan-jangan udah naksir Ify dari lama kali. Kalau kayak gini mah lebih baik nggak usah. Ujung-ujungnya sahabat jadi cinta juga. Dan gue rela elo jadian sama sahabat elo, Fy, walaupun gue sempat naksir sama sahabat elo. Mau di kata apalagi, sahabat tetap sahabat jadi cinta.”

Ify keki sendiri. Orang udah diklarifikasi juga kalau dia nggak suka sama sahabatnya. Masih aja dikatain gini. Memang kenapa sih?? Sekarang Ify benar-benar tidak suka dengan pencetus ‘Sahabat jadi Cinta’. Kenapa dulu dia mau-maunya aja sahabatan sama sahabatnya itu. Kalau gini jadinya, lebih baik nggak usah. Hufh…

“Kan gue udah bilangan, kalau gue nggak naksir sahabat gue. Kalau dia naksir gue, gue bakalan tolak juga. Gue nggak naksir dia. Terus lagian, dia juga nggak naksir gue. Gue yakin!!!!”

“Jaminannya apaan, Fy?” celetuk Sivia iseng. Ify melihat Sivia dan Zahra tos berdua. Kenapa dua sahabatnya ini hobby banget sih ngencengin dia sama sahabatnya sendiri. Sial banget!!!!!

“Kita yang naksir dan ngefans sama sahabat elo butuh jaminan, Fy. Apa jaminan elo?”

Ify bingung sendiri. Jaminannya apaan ya?? Ify terdiam cukup lama.

“Nah lo bingung, Fy. Udah deh, Fy, elo naksir aja sama sahabat elo itu, dia bakalan naksir elo juga dan kalian jadian. Orang-orang juga bakalan nggak heran kalau lo sama sahabat elo jadian. Itu udah ketebak!”

“Yang dibilang Amel bener tuh, Fy, udah deh, namanya sahabat pasti jadi cinta.”

“Lo sama sahabat elo aja, Fy. Jangan PHP-in kita-kita yang suka sama sahabat elo. Kalo kalian udah pasti kita bisa move on. Lagian udah ada anak baru di kelas XI IPA 7. Keren banget… kayak pangeran. Siapa sih namanya??”

Anak baru?? Nggak mau!!!! Batin Ify. Dia nggak mau sama sahabatnya sendiri. Dia ingin sama anak baru. Anak baru yang ngebuat dia senyum-senyum sendiri di rumah. Kalau begini, Ify rela deh ikutan tempur demi mendapatkan anak baru!!!!

Nama? Batin Ify. Udah dua kali nabrak dia, udah dua kali ketemu, udah dua kali juga dia nggak menanyakan nama anak baru itu. Ishh… kena karma nenek nih, gerutu Ify. Dulu soalnya Ify sering bilang neneknya pelupa. Dan sekarang?? Dia sendiri kena imbasnya.

“Lo sama sahabat elo aja, Fy. Gue udah dukung nih,” ucap Tia.

Ucapan Tia membuat Ify focus pada topic awal.

“Iya nih, Fy. Kita udah rela.”

“Elo nggak usah naksir anak baru. Lo sama sahabat elo aja!”

“Sama sahabat elo aja.”

“Sama sahabat elo.”

“Sahabat jadi cinta aja, Fy!!!”

Aaaaaarrrrgggggghhhhhh……….. Ify benar-benar bisa gila. Kenapa kembali lagi ngebahas sahabat jadi cinta sih???!!! Ada yang lain nggak???

“Dewi fortuna bagi sedikit keberuntungan dong, keluarin gue dari perbincangan ini!!!!!” do’a Ify dalam hati.

Ternyata, terkadang menjadi anak baik nggak sia-sia. Dewi Fortuna memang top banget. Baru semenit Ify berdo’a, langsung dikabulin, meski yang datang adalah Pak Dave. Minimal, dia bisa keluar dari pembahasan tentang sahabat jadi cinta!!!!

“Tuh Pak Dave udah datang,” ucap Ketua Kelas XI IPA 3.

Love you Ketua Kelasku, batin Ify bersorak girang.

********************

“Stttsssttt….,” desis Sivia kepada kedua sohibnya, Ify dan Zahra.

Zahra dan Ify sama-sama mengangkat sebelah alisnya sambil melemparkan pandangan penuh tanya.

“Sttsssttsttt…. Siap-siap,” desis Sivia lagi.

Dan langsung membuat Zahra dan Ify benar-benar ingin menoyor Sivia yang berkelakuan tidak jelas ini.

“KYYAAAAAAA…….. PAAAAANGGGEEEERAAAAAAN!!!!!!!” seru suara yang tiba-tiba heboh.

“Love you calon pacarkuuuuuuuu!!!!!” seru Sivia tidak mau ketinggalan.

Zahra dan Ify langsung mengikuti sumber suara dan terlihatlah siapa yang datang…

“Ya amaaapuuun!!!! Guuueeee teelllaaat!!!!! Calon kekasihhkuuuuuuu!!!!!” teriak Zahra tak mau kalah.

Ify ingin berteriak. Suer dah!!! Tapi dia risih, kenapa juga dia harus ikut-ikutan norak kayak gitu??? Nggak deh, tapi kan… itu anak baru…

Terus???

 Anak baru itu yang buat Ify senyum-senyum sendiri.

Gila dong???

Bukan dong, itu namanya terkena virus merah jambu.

“Pengen teriak juga!!!” batin Ify.

“KYYYYYAAAAAAA!!!! PANGERAN GUUUUEEEEEE!!!!!” teriakan terus terdengar.

Ify terpancing untuk ambil bagian dan dia….

“Paaaa…….”

“Hoi, Ify!!!!!” panggil seseorang.

Seketika Ify menghentikan teriakannya yang baru akan dimulai tersebut dan dia mengirimkan tatapan horornya kepada orang yang memanggilnya di waktu yang sangat tidak tepat.

“SAHABAT DURHAKA LO!!!!!!!” semprot Ify kesal kepada seorang cowok yang kini sudah duduk di sebelahnya.

“Apaan sih, Fy. Gue manggil elo baik-baik juga!” protes cowok itu.

“Lo itu ngegagalin gue buat manggil ‘pangeran’ gue,” balas Ify dan mengecilkan volume suaranya ketika menyebut ‘pangeran’.

Cowok itu mati-matian menahan tawanya. Bukan takut gelar cool-nya hilang, tapi takut semangkuk bakso Ify mendarat tepat di puncak kepalanya.

“Sorry deh, Fy!”

“Nggak dimaafin!”

“Terus mau apa?”

“Mau Yupi satu kardus!!”

 “Lo mau buat gue bangkrut!!!”

Ify mengangguk tanpa ada rasa bersalah. “Wajar kok,” ucap Ify.

“Fy... lo nggak liat anak baru yang kelas XI IPA 7 itu ke kantin?” tanya Via dengan penuh semangat. Rupanya dia telah kembali ke alam yang sesungguhnya setelah berteriak ala tarzanwati nyungsep ke got. “Eh… ada sahabat elo, Fy!” tambah Via saat melihat sosok ganteng bin tampan binti handsome duduk di sebelah Ify dan itu berarti di depan Zahra. Sivia sendiri melirik ke arah Zahra yang kini asyik dengan handphone-nya.

“Hai, Via!!!” sapa cowok itu.

Via tersenyum kaku. Gila man!!! Ini baru asyiknya punya sahabat yang punya sahabat cowok most wanted di sekolah. Ditambah lagi tadi baru aja ada anak baru yang super kece ganteng badai. Wah, hari ini dunia Sivia benar-benar indah. Di mana-mana ia melihat, selalu ada pelangi yang berarti keindahan.

“Hai,” sapa Sivia dengan suara lembutnya.

Ify memonyong-monyongkan bibirnya ke depan. Ini dia penyakit Sivia. Di antara mereka bertiga, Sivia-lah yang paling heboh dengan cowok-cowok ganteng. Itu kalau dari jauh, kayak si Anak Baru tadi. Tapi kalau dari dekat, Sivia mati kutu. Mungkin karena tersedot dalam radius keterpesonaan yang luar biasa. Memang kapan lagi sih bisa duduk semeja dengan cowok ganteng?????!!!!

“Kenapa lo monyong-monyong gitu, Fy?” tanya Zahra yang menatap Ify dengan aneh.

Bukannya menjawab, Ify malah menunjuk ke arah Sivia yang masih dalam radius keterpesonaan.

“Sabar deh, Fy. Sivia kan memang gitu kalau liat cowok ganteng,” ucap Zahra lalu gadis cantik itu melihat sekilas sahabat Ify yang masih berbincangan dengan Sivia. “Ngomong-ngomong, ganteng banget, Fy. Sering-sering ajakin gabung sama kita ya? Lumayan cuci mata,” tambah Zahra dan menatap sahabat Ify secara diam-diam.

Ify semakin cemberut saja. Nggak Zahra, nggak Via sama aja. Sama-sama ngiler liat cowok cakep.

 Ify melirik ke arah setiap sudut kantin. Tentu saja mencari sang Pangeran. “Di mana ya?” batin Ify bertanya-tanya. Lumayan lama Ify mengamati penjuru kantin ternyata tidak ketemu sama sekali dan dia misuh-misuh kesal.

“Kenapa lo, Fy?” tanya Via.

Ify mencibir. “Udah ngobrol sama sahabat gue? Gue udah jadi kacang rebus.”

Sivia menampilkan cengiran khasnya. “Peace, Ify Cantik.”

“Gue ke kelas duluan, Fy. Lo pulang sendiri aja. Gue mesti eskul dulu. Kalo lo mau nunggu sih kita pulang bareng,” ujar sahabat Ify itu dan beranjak duduk.

Ify menggeleng. “Ogah banget nungguin elo. Dasar supir tak tau diri! Majikan mau pulang malah ditelantarin,” ucap Ify kesal.

Sivia dan Zahra malah menyikut Ify. “Apaaan?” tanya Ify jutek.

Pleetaaak….

Ify langsung dapat hadiah dari sahabatnya. “Apaan sih noyor-noyor. Dasar sok cool!!!”

“Enak aja elo bilang gue supir, memang tampang gue kayak supir. Lo harusnya bersyukur punya sahabat baik kayak gue gini. Gue mau ngaterin elo. Nanti siang lo pulang sendiri aja. Oke. Bye,” pamit cowok ganteng itu. Sebelum benar-benar pergi dia berpamitan dengan Zahra dan Sivia. “Gue duluan ya, Sivia, Zahra!!!” plus dengan senyum menawan yang hanya sekali-kali diperlihatkan untuk khayalak ramai kecuali untuk Ify.

“KYYAAAAAA…..!!!!” jerit Sivia dan Zahra histeris. Lucky banget hari ini. Dapat senyum anak baru, dapat senyum sahabat Ify juga, malah dapat ngobrol. Big Lucky banget.

“Gue jadi bimbang mau naksir yang mana,” gumam Sivia.

Zahra dan Ify menoyor kepala Sivia langsung. “Dasar!!!!” seru Ify dan Zahra kompak.

“Namanya juga nemu dua pangeran, Fy, Ra. Kira-kira lo ikhlas nggak kalo gue sama sahabat elo? Kan lo bilangnya nggak suka.”

“Gue IKHLAS BANGET!!!!!” balas Ify cepat. “Gue rela dia sama elo,” tambah Ify. “Tapi gue nggak rela, Vi, lo naksir anak baru, hahahha….” Batin Ify.

“Kalau gue sama sahabat Ify. Zahra sama siapa, Ra?” tanya Sivia dengan wajah polosnya kepada Zahra. Seakan yakin kalau dirinya memang akan bersama cowok ganteng dengan lebel sahabat Ify. “Gue tau, sama anak baru aja!” tambah Sivia.

Zahra menggeleng. “Dia memang cakep. Gue suka litanya, bukan berarti gue cinta beneran Via. Gue suka ikut-ikutan ngencengin dia. Habis itu cowok ganteng, ramah, gokil lagi!”

Sivia tampak berpikir. “Lo suka sama seseorang ya?” selidik Via.

Ify tertarik dengan topic ini. Zahra suka sama seseorang itu berarti….

“Lo suka sama siapa, Ra?” kali ini Ify bertanya.

Zahra menggeleng lagi. “Nggak. Gue belum nemuin orang yang gue suka beneran,” jawab Zahra. “Suer!!! Beneran. Disambar gledek dah gue!” lanjut Zahra saat menerima tatapan mengerikan bin horror binti angker ala Ify dan Via.

“Oke… oke…” ucap Sivia nggak jelas.

“Lo aneh, Vi!” komentar Zahra.

“Ke kelas, yuk. Gue bosen!” ajak Ify. Dan kedua sahabatnya mengangguk setuju.

****************   

Gadis itu berjalan dengan wajah ceria ketika melewati koridor kelas hingga menuju gerbang depan. Kedua sahabatnya telah duluan untuk mengikuti ekstrakulikuler. Dia sendiri tidak memiliki jadwal apapun, karena ekstrakulikuler yang diikutinya tidak dilaksanakan pada hari ini.

“Halo, Irva!” sapa gadis itu ceria saat melewati seorang gadis yang seumuran dengannya.

“Siang, Fy. Sendiri lo?” sapa balik Irva.

Ify mengangguk sebagai jawabannya. “Iya nih. Duluan ya? Jemputan udah mau sampai,” ucap Ify.

“Oke! Hati-hati di jalan, Fy!” balas Irva.

Ify tersenyum lebar sebagai jawabannya. Menyapa orang lain memang menyenangkan pikir Ify. Bukan menyenangkan lagi, tetapi benar-benar menggembirkan. Memang bedanya apaan? Sangking gembiranya, Ify berjalan menuju gerbang depan dengan tidak focus hingga pada akhirnya dia….

BRRRRRUUUUKKKKKK………

Jatuh untuk ketiga kalinya selama tiga hari ini. Jadi intinya hampir setiap hari dia mengalami yang namanya terjatuh. Perlu pake imbuhan ter- karena makna ter- di sini, tanpa sengaja. Jadi Ify tanpa sengaja terjatuh. Ribet amat!!!

“Adddduuuuh!!!” rintih Ify kesakitan. “Lagi-lagi gue jatuh. Tiap hari gue jatuh. Memang gue makan apaan sih? Buah sikamarulama?” dumel Ify kesal sambil mencoba berdiri.

“Mungkin maksud elo buah simalakama? Tapi itu nggak nyambung sama sekali dengan kejadian terjatuh elo. Bukan elo aja yang jatuh selama tiga hari berturut-turut, tetapi gue juga,” ucap seseorang.

Ify kaget. Dia refleks menepuk dahinya. Ify lupa kalau dia bukan terjatuh sendirian, tetapi berdua. Ify mengangkat wajahnya dan seketika matanya langsung melebar tatkala melihat seseorang yang terjatuh bersamanya.

Ya ampun. Orang yang sama. Pantas tadi orang itu bilang ‘tetapi gue juga’. Wajah Ify memerah. Bukannya merona atau marah, tetapi malu. Duh… duh… duh… tiga kali ketemu pangeran, tiga kali pula terjatuh.

“Hai…” ucap Ify kaku.

Cowok yang dihadapan Ify ini mengangguk pelan lalu menglurkan tangan kanannya. “Sini gue bantuin berdiri,” ucap cowok itu dengan senyuman menawan seperti biasanya setiap kali Ify jatuh. Kesimpulannya, setiap kali Ify terjatuh, setiap kali itu juga Ify menabrak cowok ganteng ini alias pangerannya, dan setiap kali itu juga Ify selalu mendapatkan senyum menawan pangerannya. Ini benar-benar luar biasa.

Memang dasar sudah kepicut, Ify mengulurkan tangannya juga dan pangerannya langsung menarik tangannya hingga ia berdiri.

“Ada yang luka? Atau perlu kita ke UKS dulu?” tawar pangeran Ify dengan sangat ramah.

Hati Ify berbunga-bunga. Ini kontak terpanjangnya selama mengobrol dengan pangerannya. Ify menggeleng dan diam-diam mengamati cowok dengan anugrah terindah yang terbentuk nyata.

“Beneran?”

Ify mengangguk.

Cowok tampan itu mengangguk juga. “Setiap kali kita ketemu, pasti kita selalu tabrakan dan akhirnya jatuh. Elo atau gue sih yang hobby nabrak orang?” tanya cowok itu dengan nada bercanda.

Ify tertawa kaku. Dia seperti disindir. Dengan jelas di sini pelakunya adalah Ify sendiri, sedangkan pangerannya adalah korban.

“Hehehhe… gue kali ya,” jawab Ify.

Cowok itu terkekeh. “Elo kelas berapa? Kita selalu ketemu dan gue nggak tau elo kelas di mana? Dan elo pasti tahu gue kelas berapa.”

Dalam hati Ify menggerutu. Kesannya cowok itu sangat populer dan cowok itu mengetahui kepopulerannya. Tapi… cowok itu juga nggak salah. Habis memang benar sih, kaum hawa di SMA Idol ini selalu histeris setiap melihat cowok ini.

“Gue XI IPA 3. Iya sih gue tau elo kelas berapa. XI IPA 7 kan? Elo jangan mikir macem-macem dulu, gue tahu elo kelas berapa, habis dari koridor utara sampai selatan. Terus dari koridor barat hingga timur selalu membicarakan elo. Anak baru di kelas XI IPA 7. Lo populer banget ya?”

Si Cowok malah tertawa keras. Hahahahha…. “Bisa aja sih elo, Lyssa. Memang benar sih, gue juga heran kenapa bisa gitu.”

Ify tertegun. Tadi pangerannya bilang Lyssa?? Itu berarti nama dia kan? Lyssa dari Alyssa. Jadi pangerannya tahu namanya, itu berarti ada…..

“Lyssa? Elo tau nama gue?” tanya Ify.

Pangeran mengangguk. “Nama elo Alyssa Saufika Umari kan?” cowok itu balik bertanya.

Ify mengangguk mantap. “Tapi kok elo bisa tahu?”

“Itu bedge nama elo. Alyssa Saufika Umari,” jawab cowok ganteng itu sambil menunjuk ke seragam Ify yang tertera namanya tepat dibagian kanan ke meja.

Wajah Ify memerah. Kenapa bisa lupa dengan hal tersebut. Semula rasanya senang dan sekarang???!!!! Bagai dilempar dengan bertupi rambutan!!!! Huh….

“Hehehe… gue lupa,” balas Ify dengan menampilkan cengiran khasnya. Cengiran ala Ify.

Cowok itu terkekeh pelan. “Elo lucu banget,” ucap cowok itu dan mencubit kedua pipi Ify dengan gemas.

Ify melongo cengo parah.

“Gue duluan ya, mesti les music. Sampai bertemu lagi, Alyssa!!!” pamit cowok itu dan meninggalkan Ify yang masih melongo.

***************

Berulang kali Ify menepuk pipinya dengan pelan. Berulang kali pula dia mencubit lengannya. Tadi itu nggak mimpikan?? Atau dia memang mimpi sih?? Tapi… tamparan dan cubitan itu terasa sakit. Itu berarti nyata….

“Ya ampun… pangeran….” Gumam Ify.

Mang Ujang, supir keluarga Ify, melihat majikannya itu dengan heran dan bingung. Semenjak masuk ke mobil tadi pandang manjikannya itu seperti kosong. Hampa. Kemudian menepuk-nepuk pipi dan mencubit lengannya. Lalu bergumam pangeran… pangeran… majikannya nggak gila kan??

“Non Ify, kenapa?” tanya Mang Ujang.

Ify tersentak dan terbangun dari dunia khayalnya. “Kenapa, Mang?” tanya Ify.

“Non kenapa? Dari tadi tingkahnya aneh terus. Terkahir, senyum dan bilang pangeran. Non, kenapa?” tanya Mang Ujang dan tetap menyetir.

“Nggak ada sih, Mang. Cuma ingat sama seseorang di sekolah,” jawab Ify.

“Cowok, Non? Non Ify lagi kasmaran ya?”

Wajah Ify memerah. “Cowok sih, Mang. Tapi Ify lagi nggak kasmaran tau!!!!”

“Tingkah Non Ify kayak istri Mang Ujang zaman SMA yang lagi jatuh cinta. Siapa nama cowoknya, Non?”

“Apaan sih, Mang Ujang,” protes Ify. Dia tidak mau diledekin sedang jatuh cinta.

“Nama cowok yang beruntung siapa, Non? Bukan Den tetangga sebelahkan, sahabat Non Ify?”

“Jelas bukan dong, Mang. Masa sama si Kumpret itu. Nggak mau. Namanya siapa ya, Mang?”

Mang Ujang bingung. Dahinya berlipat. Non-nya yang bertemu kok dia yang ditanyain. “Kan Non Ify yang ketemu. Masa nanya sama Mang Ujang?”

Ify menepuk dahinya pelan. “Ify lupa, Mang. Tapi… Ify juga nggak tahu siapa namanya. Lupa nanya, hehehhe…”

Mang Ujang geleng-geleng kepala. “Besok tanyain, Non. Biar bisa pedekatan, kalau kata orang sih PDKT.”

Ify tertawa dalam hati. Mang Ujang tau istilah PDKT?? Canggih banget Mang Ujang. Keren. “Besok Ify nanya ah,” ucap Ify.

Selama sisa perjalan di rumah, Ify kepikiran apa yang dibilang Mang Ujang. Siapa nama pangerannya?

Ify berpikir, tadi pangerannya tahu namanya melihat di bedge nama. Tadi kan Ify sempat mengamati pangerannya dan melihat sekilas bedge namanya. Ify menempelkan kedua tangannya di pinggir kepala dan mulai mengingat-ingat.

Tadi itu namanya panjang. Terus ada tulisan AL… AL…-nya… AL siapa sih??? AL… AL anaknya Ahmad Dhani??? Nggak mungkin.

AL apanya? Ify makin bingung.

AL apa ya???

AL….

AL…

“AL apaan sih???? PUSING!!!!!” keluh Ify kencang dan membuat Mang Ujang terkejut.


Pesan

Nama

Email *

Pesan *

Penulis kece

  • Dewi Lestari
  • Esti Kinasih
  • Ilana Tan
  • Stephanie Zen
  • Windry Ramadhina

Blog Archive

YOU

Followers

Black Moustache

Pages

Blogger Templates