SPECIAL ABOUT US - XX


Part sebelumnya : Special About Us XIX

Harus kah ku kehilangan,
Tuk kesekian kali….
Tuhan ku mohon jangan lakukan itu…

---
Tempat tidur beroda itu terus di dorong dengan cepat oleh Rio dan para medis, untuk apa lagi mereka melakukan itu selain untuk menyelamatkan gadis yang berlumuran darah itu, Shilla.
“bertahan Shill…”
Tangan Rio terus bertautan dengan tangan Shilla seakan-akan ingin memberi nya kekuatan, tetapi sayang Shilla hanya diam dan tetap diam.

-oOOo-

Sivia dan Alvin sedang menikmati alunan lagu yang terdengar di telinga mereka, sesekali tertawa dan saling memuji satu sama lain “liat Ify yuk, kayaknya dia beneran sekarat deh.”
Sivia mengangguk pasti “aku sayang sama dia, ga rela kehilangan sahabat kayak dia Vin..”
“me too vi.”
Ketika mereka sedang berjalan tiba-tiba saja ada 2 orang preman yang mencegat mereka, Shilla ketakutan setengah mati, tetapi Alvin tampak tenang setenang air, Sivia begidik takut melihat reaksi Alvin yang seperti itu “Vin…!!”teriak Sivia.
“wah, boleh juga nih cewek.”ucap remeh salah satu preman itu sambil mencolek dagu Sivia.
Sivia menepis kasar tangan yang berjalan di wajahnya
“lepasin dia.”ujar Alvin datar
Sivia sedikit kecewa dengan reaksi Alvin, mengapa ia bisa setenang itu ketika pacarnya… Ah sudahlah, Sivia tidak boleh memikirkan yang tidak-tidak. Tapi sayang preman itu sudah keburu menonjok pelipis Alvin “ALVINNN!!”Teriak Sivia histeris, dengan cepat Sivia langsung memeluk Alvin, Alvin mendongak melihat keberanian pacarnya itu
“kamu lari oke?”
“No, I cant!
please….”
Sivia menggeleng “gak! Aku mau sama kamuu!!”
“tapi kamu bisa mati.”
Sivia tertawa “lebih baik aku mati dipelukan orang yang paling aku sayang, dari pada harus terus hidup tanpa orang yang aku sayang itu.”
“Vi, tolong!”ucap Alvin dengan nada suara lebih tinggi.
“kenapa sih Vin? Apa aku salah lindungi pacar aku sendiri? Sehebat apapun laki-laki dia gak akan bisa apa-apa tanpa perempuan, karena memang sudah seharusnya perempuan melindungi laki-laki.”jelas Sivia panjang lebar, Alvin menatapnya cemas “lo gak tau apa-apa Vi!”
“justru karna itu makanya harusnya lo jelasin semuanya Vin!! Plis jangan bikin gue kayak orang bego!!”
BUGGG!!!!
Sebuah tinjuan mendarat lagi ke pipi Alvin, Sivia menangis keras melihat pacarnya terluka seperti itu, dan anehnya Alvin hanya diam dan diam.
“plis Vin kamu jangan diam kayak gini!!”teriak Sivia,tiba-tiba saja Alvin menarik tangan Sivia dan membawanya lari dengannya, Sivia yang tidak tau apa-apa menurut saja tetapi lama kelamaan gerakan Alvin semakin cepat dan membuat Sivia susah untuk mengikuti langkahnya “Vin.. pelan-pelan.”ujar Sivia, tetapi Alvin seakan tak mendengarkan kata-kata itu, Sivia mendengus kesal kakinya sudah sangat pegal karena di tarik Alvin
“ALVIN AKU CAPEK!!”teriak Sivia, cukup sudah kesabarannya menghadapi sikap aneh Alvin akhir-akhir ini.
“mereka ga ngejar kita Vin,mereka ga berbahaya, mereka tadi cuman iseng…hhh, kamu sebenernya….hhh.. kenapa sih?”Tanya Sivia ngos-ngosan.
Bukannya menjawab pertanyaan Sivia, Alvin malah secara tiba-tiba memeluk Sivia dengan erat seakan-akan ia tak mau kehilangan Sivia “aku.. aku…..”
-
“Alvin?”
Alvin mendongak menatap siapa gerangan yang memanggil namanya tersebut “Zeva?”
Dengan cepat Zeva memeluk Alvin “apa kabar lo? Gue kangen sama lo.”
Alvin tersenyum “baik, lo?”
“very well.”
Alvin mengangguk “lo kenapa?”Tanya Zeva.
“ortu gue…. Besok cerai.”
Zevana melotot kaget “what?”
Alvin tersenyum lemas “kemarin gue di telfon dari sama mereka dari jerman, kalau ternyata besok mereka akan bercerai.”
“mereka cerai di jerman?”
Alvin mengangguk “Ya, mereka kan nikah di jerman, otomatis ngurus perceraian di jermaan juga.”
Zevana mengangguk mengerti “Via udh tau?”
Alvin menggeleng “gue ga pengen bikin dia sedih ataupun pusing. Dan gue mau hubungan gue sama dia berakhir.”
Zevana terkejut ketika Alvin mengucapkan kata ‘berakhir’
“why?”
“gue rasa gue gakpantes bersanding buat dia, seorang anak broken home sama anak se-perfect via? Mustahil.”
Zevana menundukan kepalanya “tutup mata lo Vin…”
“Zev…”Alvin menatap Zevana tak mengerti, tetapi pada akhirnya ia melakukannya, ia memajamkan matanya “rasakan Vin, waktu lo berusaha untuk dapetin Sivia…”
»»
“gue bukan elo dan gak akan pernah ngerasain semua yang ada di hati lo,tapi… gue pengen lo ngebagi semua itu,ngebagi sesal tawa canda bahkan amarah yang ada di hati lo,biar gue bisa ngerasain juga gimana rasanya perih itu,gimana rasanya bahagia itu. Dan gue pengen ngebagi perasaan gue ke elo juga,biar kita bisa ngerasain sama-sama semua yang ada dibenak hati kita,lo dan gue.”
Sivia langsung kembali tersadar setelah seperkian detik Alvin telah menghipnotisnya dengan kata-kata yang entah jujur atau hanya kebohongan belaka “sorry, Vin. Gue belom bisa untuk ngebagi semua itu sama lo.”ucapnya dan langsung melepas genggaman tersebut dan meninggalkan Alvin untuk ke sekian kalinya sendiri.
««
“rasakan lagi waktu lo diterima Via gimana perasaan lo…”
Alvin memejamkan matanya lagi dan mengingat semua kejadiannya saat bersama Via.
»»
Tiba-tiba Alvin berjongkok, dan membuat Sivia kaget termaksud semua siswa-siswi yang berjalan dikoridor tersebut, mereka mengurungkan niatnya dan memilih untuk memerhatikan AlVia
“Vin, lo ngapaiinn?”Tanya Sivia gugup, tak enak juga loh jadi bahan perhatian kayak gini.
Alvin malah menggeleng cepat dan tetap berlutut di hadapan Sivia “lo mau gak jadi pacar gue?”Tanya Alvin to the point, ajibb! Gak ada romantic-romantis nya sama sekalii bagi orang yang melihatnya, tapi bagi Sivia? Itu hal ter-romantis yang pernah ia lihat.
Deg.
Jantung Sivia serasa berhenti berdetak.
“Lo…”lirih Sivia setelah 1 menit kemudian
Alvin lama-lama bete juga nunggu jawaban Sivia yang lamanya setengah abad itu, tau gaksih si Sivia ini kali Alvin juga deg-degan setengah mati nunggu jawaban dari dia, malah diliatin lagi.
“terimaa!! Terimaa!!”sorak-sorai para siswa-siswi yang melihat adegan romantic ini.
Bukan cuman siswa-siswi doang yang ngeliat bahkan para guru juga diam-diam ngintip dari jendela ruang guru adegan ini, Shilla senyum-senyum sendiri melihat Alvin dan Sivia. Ify juga ikut tersenyum, Agni apalagi. Semuanya bahagia, walaupun Sivia masih menggantungkan jawabannya.
“lama banget sih jawabnya!”ucap Alvin mengkel gara-gara kelamaan nunggu.
Sivia melotot “he! Sabaran dikit kek.”
“lo kelamaan Vi!”
“oke oke, gue mau jadi pacar lo!”ucap Sivia jutek sambil memutar bola matanya.
“apa apa? Gue ga denger?”Tanya Alvin pura-pura budek.
“ALVIN JONATANN!! GUE MAUU JADI PACAR LO! PUAS?!”
Alvin tertawa “PUASS BANGETTT!! HAHAHA, THANKS YA VIII!!”ujar Alvin kegirangan sambil membawa Sivia dalam rengkuhannya.
««

Alvin membuka matanya, air matanya hampir terjatuh jika ia tak buru-buru mengerjap matanya, hatinya bimbang , “apa lo pengen pengorbanan lo selama ini sia-sia?”Tanya Zeva serius.
Alvin menggeleng, ya dia memang tidak ingin semuanya sia-sia begitu saja, tapi apa boleh buat ia tak ingin wanita yang ia cintai itu masuk ke kehidupannya yang kelam, ia tak  ingin membuat Sivia sedih, tak ingin. Ia tak ingin mmebuat Sivia ikut menderita, ia tak ingin Sivia menyandang status ‘pacarnya seorang broken home’ cukup ia membuat Sivia nangis seperti dulu, ia tak ingin mengulangi kesalahannya lagi.
««
“vin…”mata Sivia berkaca-kaca ketika mendengar penjelasan Alvin tentang perubahan sikapnya akhir-akhir ini, ia tak menyangka betapa bodohnya Alvin berpikiran seperti itu tentang dirinya dan dirinya sendiri.
“aku kecewa sama kamu Vin…”
Alvin mengangguk pasrah “aku  tau Vi, kamu boleh benci aku sekarang, aku pasrah…”
Sivia menggeleng dan tersenyum “kenapa kamu bodoh banget sih Vin?”
Alvin terdiam.
“dan kenapa aku lebih bodoh? Karena sudah terlalu mencintai pria bodoh seperti kamu, aku ga mungkin ninggalin kamu Alvin, gak ada satu alasan buat ku yang mampu ngehapus cinta aku sama kamu, sekalipun maut.”jelas Sivia dengan nada tegas.
Alvin menatap SIvia tak percaya.
“setiap malam aku bersyukur Vi, sama Tuhan karena telah nyipatain wanita berhati malaikat seperti kamu, I love you…”Ucap Alvin kepada Sivia, entah siapa yang memulai mereka menghapuskan jarak diantara mereka, Sivia memejamkan mata ketika ia merasakan sesuatu yang lembut menyapu bibir mungilnya.
Sungguh, mereka tak mau ini berakhir.

Bersambung ke Epilog

Pesan

Nama

Email *

Pesan *

Penulis kece

  • Dewi Lestari
  • Esti Kinasih
  • Ilana Tan
  • Stephanie Zen
  • Windry Ramadhina

Blog Archive

YOU

Followers

Black Moustache

Pages

Blogger Templates