SPECIAL ABOUT US - XVI (TEARS AGAIN)



Tuhan bila masih kudiberi kesempatan,
Izinkan aku untuk mencintainya,
Namun bila waktuku telah habis dengannya,
Biar cinta hidup sekali ini saja…

--


Agni terus menangis sambil memegang tangan Cakka, menggenggamnya kuat-kuat, mencurahkan segala perasaannya dan beribu kali berkata “maaf” tapi sayangnya Cakka hanya diam diam dan diam , mulut cerewet yang ia tunjukan biasanya hilang seketika bak ditelan bumi, direnggut angin, oksigen seakan-akan enggan masuk ketubuhnya sehingga ia harus mendapatkan alat bantu, disini. Agni menangis untuk sekekian kalinya, disini ia mengingkari janjinya sendiri untuk tidak menangis demi cinta, disini ia melawan phobia nya terhadap ambulance, dan disini pula pria yang sangat ia kasihi, malaikatnya, pujaan hatinya dan separuh hatinya sedang berusaha ,berjuang, dan melawan kematian yang entah kapan merenggutnya secara tiba-tiba.


*


Shilla terus mengejar Gabriel yang setengah berlari itu, berusaha mensejajarkan langkahnya menetralkan segala perasaan nya, takut. Ia takut kehilangan Cakka, baru saja tadi pagi mereka asik bercengkrama, bercanda satu sama lain dan tadi 5 menit yang lalu mereka mendapat kabar bahwa Cakka kecelakaan, tanpa sadar ia menitikan air mata, takut dan sangat amat sangat belum siap untuk kehilangan Cakka “aku khawatir sama Cakka yel.”ujar Shilla saat menaiki jeep putih iyel.


“aku juga,”
“ify gmana?”Tanya Shilla sejenak Gabriel menyadari kebodohannya “bentar ya.”ucapnya lalu dengan cepat berlari menuju kelasnya Ify.


Shilla tersenyum , perlahan tapi pasti hatinya sudah bisa menerima kehadiran Ify didalam hubungannya, walau sakit tapi  ia harus percaya bahwa Gabriel dan Ify hanya berteman saja, tiba-tiba Ify telah ada didepan mobilnya dengan berlinang air mata “lo kenapa Fy? Ify menggeleng dan masih ke jok paling belakang, dan disusul Gabriel yang duduk di jok depan, “ify kenapa yel?kata Shilla setengah berbisik, Gabriel mengangkat bahu “gatau, aku temuin dia udah nangis,”


“soal cakka?”
“kayaknya engga.”
“terus yang lain mana?”
“Sivia , Alvin udah duluan, kalo Rio… gatau juga deh.”
Shilla hanya bisa mengangguk lalu menatap Ify ke belakang, terlihat sekali gadis itu terpuruk dia menundukan kepalanya mencoba menyembunyikan tangisannya, walaupun gagal. Rambutnya sudah basah karena tangisannya itu.


Sedangkan Ify hanya bisa menahan nafasnya mencoba agar teratur, menghentikan detak jantungnya yang berburu dan berlomba dengan tangisannya. Hatinya terpuruk bila mengingat kejadian tadi.
Disisi lain ada Rio yang sedang memacu motornya dengan kecepatan penuh, sama seperti Ify detak jantungnya tak normal, ia mengingat semua kejadian tadi, kejadian yang memilukan.


»»»


Bel pulang telah berdentang semua anak dengan semangat 45 merapikan barangbarangnya dan bergegas melangkahkan kakinya keluar kelas menyambut sang jalanan dengan perasaan riang, begitu juga dengan Rio ia langsung keluar kelas, tetapi bukan ingin keluar sekolah melainkan ke kelas Ify “gue mau bicara sama lo.”ucapnya datar sambil setengah menarik tangan Ify yang entah dari mana sudah berada didepan kelasnya.
“lepasin!”
“kita ga perlu kayak gini kan fy?ga perlu musuhan kan? Mau sampe kapan sih?”
“sampe lo bener-bener membenci gue!”keukeh Ify.
Semua anak-anak disepanjang mereka memerhatikan dengan sorotan mata penasaran , Rio menyadari itu dan membawa Ify ke kelasnya.
“Mario! Lepasin, tangan gue merah!”
“oh ya? dan lo akan kabur tanpa menyelesaikan masalah di antara kita.”
Ify menghela nafas berat “bukannya udah jelas ? mulai sekarang mending kita gausah saling kenal!”
“bisa gak sih lo mikir kali ini pake perasaan? Buang logika dan semua ego lo!”
“lo kenapa maksa sih?”
Rio membuang muka “gue gak maksa, gue hanya pengen lo jujur sama hati lo sendiri!”
Kali ini Ify berani menatap Rio lekat-lekat, dan pria itu menyambutnya “lo pengen gue jujur?”desis Ify.
Rio mengangguk.
“GUE BENCI SAMA LO! GUE GA SUDI CINTA SAMA LO! LO TUH GA PANTES BUAT GUE! SELAMA INI GUE DEKET SAMA LO HANYA KARENA BIAR GUE BISA JAUH DARI GABRIEL! LO GA SADAR RIO GUE SELAMA INI CUMAN MANFAATIN LO! JADI GUE MOHON SEKALI LAGI DENGAN SANGAT JAUHIN GUE, LO GA PANTES BUAT GUE!”ucap Ify dengan penuh penekanan, Rio melongo tak percaya Ify dapat mengatakan itu,
“lo bohong kan fy?”
“apa lo ngeliat gue lagi bohong yo?”
 “oke, kalo itu mau lo, semoga lo ga nyesel karena udahbohongin diri lo sendiri.”ucap Rio datar.
“mulai sekarang anggap aja kita ga saling kenal,”ucapnya lalu pergi meninggalkan Ify yang ternyata sudah menangis.
«««


*


Agni terus menerus mondar –mandir didepan ruangan UGD, hatinya kalut ia sangat takut jika harus kehilangan Cakka untuk yang kesekian kali,ia terduduk tau tau harus bagaimana, ia takut.


“Agni… cakka gimanaa?”tiba-tiba terdengar suara yang mengejutkan Agni, suara Sivia. Agni menoleh dan langsung memeluk sahabatnya itu “gue nyesel.. gue nyeselll.”ucapnya berkali-kali , Sivia mengangguk mengerti dan membelai rambut Agni.
Dan semenit kemudian Ify, Shiel juga telah datang dengan berlari menuju ke tempat Agni “Cakka baik-baik aja kan?”Tanya mereka kalut.
“loh,Vi? Rio ga sama lo?”
Sivia menggeleng “gue juga gatau dia kemana.”
Ify menghela nafas berat ketika mendapatkan jawabanSivia seperti itu, Shilla menatapnya dengan lekat-lekat “lo sama Rio ada masalah apa sih,Fy?”
Ify terhenyak “ga ada.”
“gue pergi dulu ya, laper.”ucapnya lali pergimeninggalkan teman-temannya itu.
Shilla mengangguk dan mempersilahkan Ify pergi, lalu ia membalikan badannya menatap Agni yang terpuruk, sejanak ia mendesah tak tau harus berbuat apa untuk bisa mengembalikan senyum teman-temannya tersebut.
*
Ify berjalan-jalan menyusuri taman rumah sakit , terlihat banyak orang melakukan fisioterapi dibantu dengan para suster, ia pernah menjadi salah satu diantara mereka dulu. Waktu perkembangan tubuhnya berada di titik nol. Tanpa sadar ada seorang pria yang melintas di hadapannya, Rio.
“Yo!!”panggil nya sambil mengejar bayangan Rio.
Rio terdiam menatap Ify dengan datar “siapa ya?”Tanya nya.
Ify terkejut mendapati Rio berkata seperti itu.
“aku IFY!”
“oh Ify yang meminta saya untuk melupakannya kan?”Tanya nya dengan nada menyindir,
Ify terkejut lagi “maaf saya harus menemui teman saya yang sedang membutuhkan saya.”ucapnya lalu berlalu dari hadapan Ify yang masih saja berusaha untuk tak menyesali keputusannya.


*


Malam telah merebut senja, tetapi Agni tetap saja setia menunggu Cakka “Ni, pulang yuk!”ajak Sivia, Agni menggeleng lemah.


“kok lama banget ya di periksanya? Kayak operasi aja.”lirihnya
Sivia tertawa sejenak “yaudah lah Ni, mungkin Cakka emang arah banget kondisinya, yuk pulang.”
Agni tetep menggeleng lemah “ini semua karena gue Vi,”
“ngomong apa sih lu? Udah ah, ga ada yang perlu disesali, yang terjadi biar lah terjadi, ini smua udah suratan takdir!”
“andaikan waktu itu gue maafin dia, kejadiannya gak akan kayak gini kan?”
“Agni, lo kenapa sih? Kok malah kayak gini? Ga baik nyalahin apa yang udah kita perbuat!”
Agni tertawa miris “tapi bener kan? Andaikan…”
“andaikan, andaikan dan andaikan! Andaikan lo ga nyalahin diri lo sendiri kayak gini, Cakka pasti juga bakalan cepet sembuh Ni!”
“hah? Mustahil.”
“mana Agni yang selalu optimis?”
“mati kali.”
Sivia melongo “terserah lo deh!”
Tiba-tiba dokter keluar dari ruangan UGD “kalian siapa? Dimana orang tua pasien?”
“kami teman-temannya dok, orang tuanya sedang dalam perjalanan.”jawab Sivia.
Dokter itu mengangguk “kondisi pasien cukup mengkhwatirkan. Untuk sementara dia harus di pindahkan ke ruangan ICU. Ada luka parah di otaknya.”terang Dokter itu
Hati Agni sekali lagi mencelos.


*


Ini bukan dongeng yang berakhir dengan kata happy. Ini bukan novel yang mempunyai kebahagiaan di balik kesedihan. dan ini bukan fiksi yang selalu disajikan dalam kiasan, ini adalah hidup yang mempunyai tujuan tanpa bisa di tebak. garis kematian dan kehidupan telah dicatat oleh yang maha kuasa dan kita hanya bisa menerima nya sambil berusaha untuk melakukan yang terbaik.
Agni memasuki ruangan ICU itu dengan pakaian hijaunya menatap Cakka secara lekat-lekat memerhatikan setiap garis dan lengkuk wajah Cakka, wajah yang dulu sering menyinarinya, wajah yang dulu selalu tersenyum sekarang hanya terlihat diam dan diam, datar. Tak ada ekspresi hanya ekspresi kesakitan yang terpancar, agni menangis sekali lagi air matanya jatuh di pipinya tanpa permisi tetapi malu-malu tangannya terus bergetar menatap Cakka yang sekali lagi terlihat sakit. Ini semua karena nya, ini semua karena dia, seandainya dia memaafkan seandainya dia tak berlari, seandainya Cakka tak mengejarnya dan masih banyak kata seandainya yang Agni pikirkan hanya untuk satu alasan agar Cakka dapat kembali sehat seperti dulu, agar Cakka tersadar, dan agar waktu dapat diulang 
cinta sejati menurut lo apa ni?”
“apa yaa?”
“ish lo lama amat sih jawabnya!”
“menurut gue sih true love atau cinta sejati itu hanya khayalan semata, cuman ada di dongeng-dongeng aja.”
“masa sih?”
“iya lah, menurut lo apa?”
“menurut gue true loveitu masih ada loh sampai sekarang.”
“contohnya?”
“banyak! Menurut gue true love itu adalah jodoh kita sendiri yang udah di persiapkan oleh Tuhan. Secara kita ga sadar true love itu deket sama kita, bisa dalam bentuk apapun dan dimanapun. Contohnya sahabat!”
“true love itu ga selalu kekasih atau pun pasangan hidup true love itu adalah cinta yang sejati , cinta yang tidak akan pudar walaupun di terpa banyak noda. Gak akan goyah walaupun di terpa angina kencang, dan selalu setia walaupun banyak rintangannya.”
“terus?”
“gapapa ngasih tau aja.”
Tangis Agni semakin menjadi-jadi ia mengingat semua kenangan nya bersama Cakka, sejenak ia menyesal, menyesali apa yang terjadi."kalo kamu pergi sekarang, aku janji, gak bakalmaafin kesalahan kamu ke aku kka."bohongnya, dalam hati yang terdalam sebenernya yang ia katakan adalah “aku gak akan maafin diri aku sendiri”

 

**

Bersambung

Pesan

Nama

Email *

Pesan *

Penulis kece

  • Dewi Lestari
  • Esti Kinasih
  • Ilana Tan
  • Stephanie Zen
  • Windry Ramadhina

Blog Archive

YOU

Followers

Black Moustache

Pages

Blogger Templates