SPECIAL ABOUT US - XVII ( CAUSE THIS IS NOT CLEAR! )


Part sebelumnya: --> Special About Us XXI

Malam semakin larut, bulan semakin tinggi di ambang langit, Agni masih saja duduk terdiam diruang tunggu sesekali menghela nafas menatap semut-semut yang berbaris seakan-akan ikut tertawa dan prihatin dengan Agni, entahlah. Luka yang ia rasakan sangat pilu, ia mencoba mencerna semua demi kejadian kecelakaan itu, berharap hanya scenario semata, tapi ini nyata! Inilah keadaannya sekarang, keadaan Cakka, keadaan mereka, dan keadaan hati.
Drrttt…
Ponselnya bergetar, Agni tersentak dan menjawab panggilan masuknya, sebentar melihat nama yang tertera disana “mama”

“halo ma?”
“…”
“yaya aku akan pulang.”ucap Agni malas, dan melirik jam nya betul saja jarum jam telah menunjuk angka10. Dengan malas Agni melangkahkan kakinya sambil sesekali berbalik untuk melihat ruangan Cakka.


--


Agni melangkahkan kakinya menuju rumahnya dengan malas, “Hai Ni.”sapa seseorang yang membuat Agni terkejut “Rizky?”
Rizky tersenyum “kok baru pulang?”
Agni tersenyum getir “Cakka… dia hiksss..”ucapnya sambil berusaha melawan hasrat air matanya.


Rizky tersenyum licik dan langsung memeluk gadis itu, membawa gadis itu kedalam dekapannya membawanya ke dalam ketenangan sejenak, “jangan nangis lagi, oke?”
Agni menggeleng “gak, ini semua karna gue.”
Rizky terdiam, “kenapa Ni?”Tanya nya.
Agni memandangi Rizky bingung.


*

Ify masih terus memandangi kakinya yang bergelayutan di ayunan ditaman rumahnya mengusir rasa bosan dan galaunya “huftt…”ucapnya dengan malas.
Tiba-tiba Gabriel entah darimana telah ada disampingnya “ngelamun aja neng.”
Ify tersenyum manis “bosen yel.”

“masih mikirin Rio?”

Ify tertawa renyah menanggapi perkataan itu “Rio? Aneh-aneh aja.”
“jangan bohong, suka kan sama dia? Eh bukan deh bukan suka, tapi cinta kan?”
Ify terdiam lagi, tiba-tiba Gabriel bersenandung..


dan..
Bukan maksud ku,
 bukan inginku..”


Ify memerhatikan seksama Gabriel yang asik memandang kolam berenang rumahnya, menahan air matanya yang akan meluncur.


“melukai mu sadarkah kau pun disini ku pun terluka….”


Ify menundukan  kepalanya berusaha menyembunyikan air matanya yang sudah jatuh kepipi mulusnya.


“melupakan mu, menepikan mu, maafkan aku…”


Gabriel menghentikan sepenggalan lagu yang ia baru saja nyanyikan “pas kan Fy?”Tanya nya kepada IFy.


“gue tau, lo minta Rio untuk menjauh dari lo.. tapi apa lo sadar? Lo jugatersiksa karena itu.”

Ify masih diam tak tau harus menjawab apa, semua yang dikatakan gabriel adalah benar adanya.

“tapi… gue gabisa nerima cinta yang berawal dari rasa kasihan.”
“apa cinta selalu dari rasa kasihan Fy? Apa kita gaboleh mencintai kekurangan orang?”

Ify menghela nafas bentar “berbeda dalam kasus gue, Yel.”

“dimana letak berbedanya? Katakan Fy!”
“gue sakit.”ucapnya singkat.
“jadi, apa orang tua lo mencintai lo karena lo sakit? Apa gue mencintai lo karena kasihan? Jawab!”
“Rio berbeda Yel!”


Gabriel menghela nafas, lalu membawa Ify dalam rengkuhannya menghapus jarak diantara mereka “gak ada yang berbeda Fy, hanya kita aja yang ga sadar kalau cinta itu dekat. Kita yang terlalu munafik mengakui cinta itu.”



*



Shilla dan Rio memandang halaman rumah Ify “lo yakin Shill dia akan menerima gue?”
Shilla tertawa “kalau belum di coba apa lo tau hasilnya?”

Rio hanya tersenyum ala kadarnya dan memasuki halaman rumah mewah itu, Shilla memencet bel lalu tiba-tiba keluar seorang wanita paruh baya membuka pintu “halo tante, ada Ify kan?”Tanya Shilla ramah dan Gina –perempuan itu- langsung tersenyum dan mempersilahkan Rio dan Shilla masuk kerumah “Ify ada di kolam berenang, lagi main ayunan. Kalian ke sana aja.”ucapnya ramah . Rio dan Shilla langsung pergi ke kolam berenang untuk menemui Ify dan Gabriel.


“Gila! Ify bener-bener orkay yaa!”decak Shilla kagum sambil memerhatikan setiap detail interior yang dipajangkan di rumah Ify, mewah tapi tetap natural.


Langkah Shilla terhenti ketika memasuki kolam berenang, nafasnya tercekat di pangkal tenggorokan berusaha berharap semua nya hanya palsu.


Disana… Rio dan Shilla melihat Gabriel dan Ify sedang berpelukan.
Setitik air mata jatuh ke pipi Shilla, kakinya tak kuat menopang tubuhnya , sakit yang ia rasakan luar biasa, sakit yang datang dari sini… hatinya.


“Yel…”panggilnya kepada Gabriel, berusaha untuk meminta penjelasan.



Gabriel mendongak kaget saat melihat Shilla sudah berada di depan pintu menatapnya dengan tatapan kecewa. Hatinya mencelos untuk yang kesekian kali ia membuat gadis ini menangis. Tanpa di komando ia langsung berlari menemui Shilla, tapi Shilla justru terus mundur dan mundur dan akhirnya pergi dengan langkahnya keluar dari rumah itu, gabriel terus mengejar langkah gadis itu berusaha menjelaskan apa yang terjadi, walau ia tau sulit bagi Shilla untuk mendengarkannya.


Sedangkan di lain tempat Rio masih memerhatikan Ify yang tetap bertahan di posisinya lalu ia langkahkan kakinya sehingga kini posisinya berada tepat didepan Ify, ia emmerhatikan gadis itu masih tertunduk seakan-akan enggan untuk menampilkan wajahnya , Rio menghela nafasnya bentar “gue kecewa sama lo.”ucapnya datar tapi penuh penekanan lalu memalingkan wajahnya kearah lain ketika Ify berusaha untuk mendongakkan wajahnya “Thanks buat sakit hati yang udah lo lakuin selama ini ke gue, gue masih ga percaya lo setega ini, sampai-sampai sekarang lo nyakitin Shilla. Sahabat lo sendiri, makasih Fy…”lanjutnya lagi. 

Kali ini Ify menangis dengan tatapan kearah Rio, tapi sayang sebelum pria itu melihatnya ia sudah melangkahkan kakinya menjauhi Ify dan mungkin rumah Ify juga. Meninggalkan Ify sendiri. “Gue memang egois.”lirihnya pelan.


**


“Gimana Vi?”Tanya Alvin khawatir.

Sivia masih meggeleng pelan “gak ada jawaban Vi.”lirihnya pelan.


“huft. Aku bingung sama mereka.”


Sivia mengangguk, sambil terus berusaha menelepon ponsel Shilla , tapi nihil. Tak pernah ada jawaban “coba kamu telfon Ify.”saran Alvin.
Sivia berfikir sejenak lalu menggeleng pelan “jangan gila ,Vin.”sarannya.


“sms aja coba suruh ke rumah sakit, Cakka butuh kita kan?”saran Alvin lagi, kali ini tanpa berfikir Sivia langsung mengangguk dan menjalankan perintah Alvin.


“berhasil! Mereka semua mau.”ucap Sivia senang. Alvin tersenyum “kita jangan sampai kayak mereka ya..”ucapnya serius.


Sivia memandang Alvin dengan tatapan heran “maksud kamu?”

Dengan gerakan cepat Alvin mengambil kedua tangan Sivia “aku gaktau, yang aku pinta… jangan pernah tinggalin aku lagi…”ucapnya.
Dengan ragu Sivia menganggukkan kepalanya masih tak mengerti tentang apa yang dikatakan Alvin, yang jelas ia hanya meminta pada Tuhan semoga tak terjadi apa-apa kepada hubungan mereka.


*

Ruangan di selimuti oleh aura tegang yang ada, ketakutan terlihat jelas di wajah Agni, gadis itu berulang- ulang kali mondar-mandir layaknya setrikaan menunggu sang dokter keluar dari ruangan ICU. Yap. Cakka telah sadar sejak 30 menit yang lalu.


Akhirnya yang di tunggu-tunggu telah datang “bagaimana keadaannya dok?”Tanya Agni cepat.
Dokter menghela nafasnya “maaf, tapi ini harus di beritahu kepada orang tuanya terlebih dahulu.”
Agni Menghela nafas kecewa “tapi dok, saya saudaranya.”bohongnya, sontak membuat Rify,Alvia dan Shiel terbengong –bengong karena kejutan kebohongan yang di buat Agni “Ni!!”bisik Sivia pelan , Agni memberi isyarat kepada mereka untuk diam dan menyetujui rencananya, dan mereka pun tak punya pilihan lain selain membuat Agni bahagia dengan bungkamnya mulut mereka.



Agni masih bergeming sambil menatap dokter itu lekat-lekat “Cakka? Dia baik-baik aja kan dok?”
Dokter itu menghela nafas bentar “Cakka… dia memang sudah sadar tetapi..”



“ada gangguan di saraf nya yang akan membuat geraknya sedikit terhambat.”lanjutnya lagi.
Agni terdiam.
“maksud dokter?”ucapnya berusaha menguatkan dirinya.
“ya, seperti yang saya bilang tadi gerakannya akan terganggu,”
“dia lumpuh?”Tanya Shilla hati-hati.

Dokter itu menggeleng “tidak. Hanya saja dia tidak bisa melakukan hal-hal tertentu.”


Agni lemas mendengar itu.




“kalau boleh tau Cakka sering bermain apa ya?maksud saya apa hobi dia?”Tanya dokter itu tiba-tiba yang sukses membuat seisi ruangan berpandangan aneh “dia suka main gitar dok.”
Dokter itu menghela nafas berat membuat ruangan kembali tegang “kemungkinan besar dia tak dapat bermain gitar lagi.”sesalnya, Alvin mengerutkan kening ‘ini sinetron atau bagaimana? Gaklucu!’teriaknya dalam hati.



"GAK MUNGKINNN!!!!!"tiba-tiba Agni berteriak histeris sambil memegang telinganya ketika mendengar jawaban dokter itu, kabar yang ia tak inginkan, entah sudah berapa banyak air mata yang sudah ia keluarkan untuk hari ini, pria itu.... Cakka, astaga! ini mustahil, gak mungkin!! jeritnya terus menerus, Sivia yang melihat sahabatnya itu tak kuasa menahan air matanya, Ify hanya bisa terdiam . ia pernah ada di posisi Agni, dan itu sakit.
"sabar Ni.."lirih Shilla.
"ini gakmungkinnn!! dokter itu pasti bohong!! Ya kan? ini bohong!!"
“Cakka gak mungkin ga bisa main music lagi kan? Itu hidup Cakka! Ini  gakmungkin!!”



Bersambung.

Pesan

Nama

Email *

Pesan *

Penulis kece

  • Dewi Lestari
  • Esti Kinasih
  • Ilana Tan
  • Stephanie Zen
  • Windry Ramadhina

Blog Archive

YOU

Followers

Black Moustache

Pages

Blogger Templates