SPECIAL ABOUT US - XVIII (One in A Milion)

Part Sebelumnya: Special About Us - XXIII


Agni terus menerus mengatakan kata ‘tak mungkin’ dan membuat teman-temannya sedih bahkan Shilla tak sanggup menahan air matanya melihat keadaan Agni yang sangat terpuruk itu “Ni, udah yuk makan dulu,”sarannya sambil berusaha mengangkat tubuh Agni, alih-alih mengikuti perintah Shilla, Agni malah pergi menemui Cakka yang sudah dipindahkan ke kamar rawat.
Semua hanya bisa menggeleng pelan melihat kelakuan Agni tersebut “dia kuat ya.”decak Shilla kagum, tibatiba Ify mendekati Shilla dan membuat suasana yang telah mencair kembali tegang “Shill. Kayaknya kita perlu bicara deh.”ucap Ify dengan nada takut, Shilla membuat mukanya dari hadapan Ify “buat?”jawabnya singkat. Ify menghela nafas berusaha sabar “tadi. Aku…”ucapnya dengan sedikit menggantungkan perkataannya di udara, Shilla menunggu begitu juga yang lain “aku ngaku salah, aku memang egois selalu memikirkan perasaan aku tanpa memikirkan perasaan orang.”sesalnya
Shilla tertawa meremehkan “kamu baru ngerasain kan yang namanya diginiin? Di acuhkan.”ucap Shilla dengan penekanan disetiap kalimatnya.
“kamu baru sehari diginiin aja udah sok ga kuat, bagaimana aku? Yang selalu nahan sakit ketika harus ngeliat perlakuan Iyel sama kamu? Ini gak adil buat aku Fy!”lanjutnya lagi, suasana semakin tegang. Tak ada yang berani mengeluarkan suara, walau hanya helaan nafas.
Di luar dugaan tiba-tiba Ify berlutut di hadapan Shilla membuat semuanya melongo tak percaya “lebih baik kamu bunuh aku Shill dari pada harus marah ke aku.”
Shilla membuang muka “kenapa Fy? Kenapa kamu berkata seperti itu? Apa belum cukup kamu di sayang gabriel? Apa belum cukup selama ini kamu di kelilingi orang-orang yang sayang sama kamu? Kenapa kamu malah memaksa aku?”
Ify merasakan tubuhnya bergetar hebat menahan tangis “karena kamu malaikat aku Shill…”lirihnya.
“aku bukan malaikat kamu Fy,”ucapnya lalu berlalu dari hadapan Ify, ketika Shilla melewati gabriel ia hentikan langkahnya sejenak
Gabriel masih tetap bergeming memandangi gadis itu datar.
»»
“Shill! Berhenti”perintah gabriel sambil terus berlari mengejar Shilla.
Akhirnya Shilla pun berhenti tanpa melihat ke belakang, hanya terdiam “apa lagi?”Tanya Shilla dengan nada bergetar mencoba menahan tangis nya “aku mohon……”pintanya
Shilla menggeleng cepat.
“give me one chance…..again.”
“pada faktanya waktu ga berpihak sama kita Yel.. pada Faktanya kamu gak bisa tepatin janji yang udah kamu buat sendiri…”
“dan pada faktanya… aku, berbeda dari yang kamu mau.. aku gabisa harus terus menerus melihat kamu sama IFy, sama seperti yang aku bilang.. aku juga wanita.”lirihnya.
“mulai sekarang… kita sudahi hubungan ini, Thanks buat semuanya.”lanjutnya sambil memasang ukiran senyum di wajah cantiknya.lalu Shilla pergi dan berlalu dari pandangan gabriel membaqa semua cinta yang sudah mereka jalani, menutupnya rapat-rapat
«««
Rio sangat sedih ketika melihat Ify masih di tempat nya semula, berlutut . ingin sekali ia memeluk dan menghapus semua air mata itu, menggantikannya dengan kebahagiaan, tapi sayang… langkahnya harus terhenti ketika ada gabriel yang telah memeluk Ify dan membawa Ify dalam kedamaian.
“bangun Fy..” pinta gabriel.
Ify menggeleng, lalu kembali menangis “aku jahat yel..”
*
Cakka memandang Agni sejenak “agni?”ucapnya dengan wajah sumringah membuat hati Agni menjerit.
“hai. Ma…”ucap Agni
“maaf maksud kamu? Ini bukan salah kamu, aturan aku yang minta maaf telah bikin kamu galau ehhehe.”
Agni tersenyum miris lagi, lalu ia mengambil piring yang tergeletak di atas meja “makan dulu ya kka.”ucapnya lembut, Cakka mengangguk lalu menerima suapan dari Agni “gaenak.”ucapnya manja, Agni terkekeh geli “eh sedeng! Ya jelas ga enak lah, nama nya aja makanan rumah sakit, tapi gini-gini sehat tau!”
Cakka hanya manyun mendengarkan ocehan Agni yang kayak kereta api itu, lalu ia merasa haus dan kemudian melayangkan tangannya untuk mengambil minum, aneh. Benar-benar aneh. Tangannya, mengapa tidak bisa di gerakkan dengan bebas? Ada apa ini? “Ni.. tangan gue kok…”
Agni mematung, diam. Menatap Cakka dengan takut “mungkin efek abis kecelakaan itu kali kka.”bohongnya.
Cakka hanya tersenyum bingung.

*

Gabriel masih memandangi Ify yang sudah pucat wajahnya “kita harus makan Fy!”ucapnya sambil menarik tangan Ify paksa, Ify menggeleng dan meronta hebat “GAK!”bentaknya dengan amarah yang meledak “tapi liat wajah kamu sekarang!”
Tiba-tiba gabriel memeluk Ify “aku gakmau kamu kayak gini Fy…”lirihnya.

*

Rio masih konsentrasi dengan mobil nya sesekali memandangi Shilla yang masih sesegukan akibat menangis, ya mereka memang sudah pergi menjauh dari rumah sakit “kamu mau kita kemana sih Shill?”Tanya Rio.

“ke suatu tempat, disana ada orang yang mau aku tunjukin sama kamu.”ucapnya.

Rio hanya mengangguk , lalu terus menerus menjalankan mobilnya

*

Rio menghentikan mobilnya ketika Shilla memerintahkannya berhenti. Tubuhnya kaku ketika melihat tempat yang di tunjukan Shilla kepadanya “turun Yo!”pinta nya, Rio menuruni mobil nya menatap tempat itu, tiba-tiba saja Dadanya menjadi sesak, tempat ini… astaga! Ini tempat yang..

“kok ke sini Shill?”Tanya Rio dengan tatapan shock
“gue mau liatin lo sesuatu.”ucapnya sambil menarik tangan Rio, dada Rio semakin sesak melihat pusara-pusara yang berjejer rapih di sepanjang jalan itu sesekali mengerjap.

Tiba waktu nya mereka berhenti di satu pusara Rio menguatkan hatinya tertulis disana DEA.

“dia kaka gue, tiap gue galau masalah gabriel gue selalu ke sini buat curhat, konyol kan? Tapi… ini kenyataannya.”jelasnya, membuat air mata Rio tak dapat di bendung lagi, mengingat semuanya . memori yang telah lama tertutup terbuka kembali, sakit.

»»»
“De… lo mau jadi pacar gue?”Tanya gabriel sekali lagi, sampai akhirnya perempuan yang bernama Dea itu mengangguk.
*
“Lo jadian sama Gabriel?”Tanya Rio tak percaya, Dea hanya mengangguk saja.
PRAK!
“kok bisa?”Tanya Rio kehabisan kesabaran, Dea menatap Rio lembut “karena gue suka sama dia, simple?”
“Tapi gue kan…”
“stop Yo! Sampai kapan pun lo ga mungkin bisa jadi milik gue,”
Rio mendesah kesal “kenapa? Kurang gue apa??”
Dea menggeleng “lo ga ada kekurangan, lo nyaris sempurna. Tapi seperti apa yang gue bilang barusan, biar pun lo nyaris sempurna, urusan cinta tetap Hati yang memilih.”
“kenapa harus gabriel?”
“karena dia sempurna… dimata gue.”
Rio menyendok makanannya lagu ke mulutnya “ada satu hal yang elo gatau Yo.”lanjutnya, dan Rio hanya membalas dengan tatapan bingung.

**
Dea memandang langit biru dengan tatapan sedih “bentar lagi gue mau pergi Yo…”
“kemana?”
“New York, gue mau lanjutin study gue disana.”
“crazy.”ucap Rio singkat. Dea hanya mengangguk “ya memang.”
Dan mereka pun kemudian  saling diam “gue boleh gak minta sesuatu sama lo?”
Rio mengangguk sedih “apa?”
“jagain adik gue ya, plis itu aja yang gue mau.”
“siapa adek lo?”
“dia seumuran sama lo, sekarang lagi di bandung, gue yakin lo akan ketemu sama dia.”
Rio mengangguk lagi “oke.”
*
“Nakk! Sini deh, liat tuh, yaampun kasian banget ya pesawatnya jatuh korban jiwanya astagaa!”ucap manda sambil menggeleng kan kepalanya , Rio bergeming menatap TV dengan posisi berdiri
“terjadi kecelakaan pada pesawat international tujuan New York tadi pagi yang mengakitbatkan korban jiwa, di perkirakan tidak ada yang selamat pada kecelakaan pesawat pada dini hari di waktu setempat…”
“kebanyakan korban adalah mahasiswa yang akan belajar di negeri paman Sam tersebut…”
“di duga kecelakaan terjadi akibat cuaca buruk…”
Nafas Rio tercekat ketika mendengarkan berita demi berita yang ada di TV tubuhnya lunglai tak berdaya menatap satu-satu foto korban jiwa dan di temukannya Foto Dea….
*
“gue gak nyangka lo secepat ini ninggalin gue De…”ucap Rio dengan amarah nya
“inikah yang lo maksud? Lo nyuruh gue jagain adik lo? Karena lo gabisa jagain dia lagi?
“LO JAHAT!”
«««
 Shilla tak mengerti apa yang diatakan Rio, menjadi pacarnya? Bagaimana mungkin?


“Izinkan gue Shill….”ucapnya sekali lagi, kali ini Shilla menguatkan hatinya dan mengangguk.

**

Besoknya….


Hari ini tak seperti biasa Ify dan gabriel memilih untuk tidak ke kantin melainkan langsung ke perpustakaan 

“ngapain sih kita ke sini?”Tanya Ify ketus.
“berisik.”
“gue tau! Lo pasti mau ngehindar dari Shilla kan?”tebak Ify, gabriel hanya berdehem “gak gentle!”

Gabriel menatap Ify tajam “punya masalah di selesaikan bukannya malah ngehindar.”

“Dan lo?”serang balik gabriel.

“gue?”
“apa lo ga menghindar dari masalah Fy?”


Ify tertegun “gausah bahas ini Yel.”
Gabriel mengangguk dan menarik tangan Ify “belum makan kan lo?”



Ify mengangguk dan akhirnya mereka pun pergi ke kantin dengan bergandengan tangan lagi –lagi terdengar teriakan dari anak-anak putri di sana

“astaga, Gab sama Ify pegangan tangan!bukannya Gab pacarannya sama Shilla?”ucap salah satu murid wanita.
“katanya sih mereka udah putus.”
“oh ya? pantesan si Shilla sama si Rio juga udah jadian, ah cinta rumit.”

Deg.

Jantung Ify mencelos ketika melihat kalimat terakhir siswi tersebut –rio dan shilla jadian-

“fy..”lirih Gabriel.
“gue gapapa,”ucapnya lalu pergi meninggalkan Gabriel sendirian, gabriel mengejarnya dan kemudian mendapati Ify di taman “lo munafik Fy.”

Ify tak membalas ucapan itu pikirannya tak mau di ajak kompromi atau pun bicara saat ini, hatinya terlalu sakit, Ya Tuhan, bukankah ini yang ia inginkan? Mengapa rasanya tak rela?

-oOOo-

Rio dan Shilla terus bergandengan menyusuri koridor sekolah dengan mesra, meskipun begitu dalam lubuk hati mereka berdua menjerit. Ini bukan yang mereka tau ini hanya amanat. Rio menghela nafas sekali lagi menguatkan hatinya, sementara Shilla hanya  melamun tak tau jalan pikiran Rio yang sebenarnya


“gue tau kok Yo, lo punya alasan yang kuat buat ngelakuin ini.”

Rio hanya mengangguk.

Tuhan izinkan ini cepat berakhir. Doa Shilla dalam hati.

-oOOo-

Hari ini Agni sengaja untuk tidak sekolah dulu demi menjaga Cakka yang baru saja pulang dari rumah sakit, dirumah Cakka mereka berdua asik bercengkrama tertawa dan melupakan kejadian tempo hari yang baru saja mereka alami, sampai pada akhirnya muncul hasrat kangen dari seorang Cakka untuk memainkan gitarnya lalu di ambilnya gitarnya dan mulai bernyanyi untuk Agni, Agni terkejut saat Cakka menggapai gitarnya, ia pejamkan matanya dan menggigit bibir bawahnya menahan tangis..

Jreng…

Aneh. Pikir Cakka, mengapa Jarinya tak seleluasa seperti dulu?
Ah mungkin halusinasinya saja, ia coba sekali lagi tapi sayang ia gagal, ia coba dan coba tapi sama seperti tadi tidak berhasil, kemudian pandangan nya beralih kepada Agni yang sudah banjir air mata.


“gue kenapa Ni?”Tanya nya kesal.

Agni menggeleng tak tau harus bagaimana menghadapi ini.


“GUE KENAPAA?!”bentak Cakka tak sabar.

“Kka…. Maaff…”lirih Agni sambil memeluk tubuhnya sendiri.
Cakka tertawa hambar mendengar permintaan maaf Agni,  “gue bisa sembuh kan?”

Agni menggeleng pelan.

BRAKK!!!!

Cakka mengebrak meja yang ada didepannya dengan emosi yang meluap “puas sekarang Ni?”
Agni terdiam dan menangis lebih dalam lagi “PUAS?!”


Agni terdiam lagi dan lagi pikirannya berkecamuk ia menggigit bibir bawahnya dengan getir.
Cakka menjambak rambutnya,“AARRGHHHSS!! LO TAU GAK SIH KALAU HIDUP MATI GUE TUH DISINI! MUSIK DAN GITAR!!!!!”

“Aku tau kka! Aku tau!”ucap Agni dengan takut perlahan tapi pasti Agni meraih tangan Cakka tapi sayang gerakan itu di tepis Cakka dengan kasar lalu ia membuang mukanya enggan melihat Agni

“GUE BENCI SAMA LO NI!”ucapnya lalu ia mengambil kunci motornya dan pergi dari rumahnya meninggalkan Agni.


-oOOo-


Sivia dan Alvin masih berkutat di buku mereka masing-masing, tak ingin mengganggu satu sama lain mereka sangat serius sampai-sampai lapar pun mereka tak hiraukan 

“udah ketemu jawabannya Vi?”Tanya Alvin lembut.
Sivia menggeleng sambil mengangkat tangannya “tobat deh Vin, tobat ini tuh susah banget!”
Alvin hanya tertawa “Fisika kok di bawa susah?”
“Baiklah tuan Alvin, walaupun otak saya ga seencer anda, tapi.. yang penting  saya cantik.”narsis Sivia
“jangan sekarang Vi, narsisnya.”
“bodo amat ah wkwk.”
Alvin menatap Sivia serius “kalo gue pergi gue mohon ya Vi semoga lo baik-baik aja.”
“jangan ngomong gitu ah Vin, lo mau pergi kemana emang? Hati gue kan? Ya gue tau itu.”
“Gue serius.”
Sivia menghela nafas berat “jangan aneh-aneh Alvin! Mending ajarin gue buat nemu rumusnya deh, ini makin susah tau dari nomer ke nomer.”


-oOOo-


Bel sekolah pertandapulang sudah berdentang Ify buru-buru mengemasi barang-barangnya, tiba-tiba saja handphonenya bergetar ah, rupanya Gabriel yang mengsms Ify.

From : Kambing.
Gue ada rapat OSIS, tungguin yah Fy, tp kemungkinan agak lama. Sorry.

Ify menghela nafas berat tak tau harus bagaimana dirinya tanpa Gabriel

For: Kambing.
Ok.


Ify melangkahkan kakinya dengan gontai menuju GOR basket udara siang ini sangat tidak bersahabat kepada dirinya sangat panas dan terik.
Begitu sampai di depan GOR Basket langkahnya terhenti sejenak, ia berdoa dengan sangat semoga Rio tidak sedang latihan di sana, ia langkahkan kakinya secara perlahan dan duduk di salah satu bangku pengunjung disana, ternyata dugaannya salah Rio berada disana sedang bermain basket, nafas Ify tercekat ah, dia merasakan déjà vu  ia mengingat kembali saat pertama kali Rio dan dirinya kenalan, di tempat ini, di tempat ini juga dirinya berdebat dengan Rio dan di tempat juga dirinya di tawari purang bareng Rio, ah bukan. Melainkan di paksa Gabriel , Ify tertawa geli mengingat itu semua, kejadian indah yang mereka lalui dalam 1 hari, dilihatnya Rio dengan seksama, tatapan kekaguman muncul lagi ketika Rio melakukan Lay-up dengan bagus , lalu gaya slamdunk andalan nya , ini semua benar-benar deja vu , ah Ify mengerjap tak ingin memikirkan itu semua , saat ia hendak memberikan applause kepada lay-up  Rio tiba-tiba saja Shilla datang dengan berlari kecil dan mengelap keringat Rio dan Rio membalasnya dengan tatapan mesra, lalu memeluk tubuh Shilla dengan tambah mesra, ingin sekali ia pergi dari tempat itu tapi entah mengapa kaki dan pikirannya tak mau di ajak kerja sama, hatinya ingin pergi dan lari dari kenyataan tetapi kakinya ingin ia melihat semua pemandangan yang tidak mengenakkan di hatinya , kakinya seakan-akan ikut tertawa di bawah tangisan Ify sekarang kakinya ingin Ify untuk tetap melihat dan menyesali semua keputusannya.


kuat Fy kuat!’ batin Ify

Sampai pada akhirnya tenaga yang sedari tadi ia kumpulkan berguna juga ia langkahkan kakinya keluar GOR basket dan ia berlari sekuat tenaga dengan pipi yang berlinang air mata. Hatinya sakit menerima kenyataan ini.


-oOOo-



Sivia menyenderkan kepalanya di kepala kasur dan berfikir sejenak,

apa sih maksud Alvin tadi?’pikirnya.

Tiba-tiba saja matanya merasa tak bisa di ajak kompromi dan Sivia pun terlelap dalam tidur siangnya yang indah…


-oOOo-


Alvin sedang mengejek –ejek Sivia dengan segala jurus yang ia punya.


“Alvin udah berhenti kek! Capek tau!”sewot Sivia dengan tampang muka jelek yang ia punya, tetapi tetap saja Alvin memandang wajah itu dengan tatapan dia-sedang-melihat-malaikat

Tiba-tiba saja Alvin menyeret tangan Sivia kea rah hamparan rumput yang sangat indah dan teduh, dan mengajak Sivia berbaring disana bersamanya “Damai ya Vi…”lirihnya sambil memandang langit dengan posisi telentang dengan tangan di rentangkan.
 Sivia menggangguk membenarkan kata-kata Alvin , ini memang damai . Sivia tak pernah menemui tempat sedamai ini.

“Iya, Vin..”

Alvin menghela nafas lega “aku kangen berada di situasi damai seperti ini..”
“suasana seperti ini hanya ada di sorga,Vin.”
“Ya, dan aku akan kesana.”
“maksud kamu?”

Tiba-tiba Alvin menggenggam tangan Sivia dengan erat “ I Love you Vi..”lirihnya dengan mata terpejam, Sivia tak mengerti mengapa Alvin begitu aneh.

Hening.


Tak ada yang bicara, hati Sivia mulai gusar melihat sikap diam Alvin, di pegangnya pipi Alvin berniat membangunkan pria berwajah oriental tersebut, tapi nihil. Alvin masih saja diam. Sampai akhirnya ia sadar bahwa tubuh Alvin sudah sepenuhnya dingin, Sivia panic ia bangunkan Alvin berulang kali tapi tetap saja yang ia dapatkan hanya diam dan diam.


"Vin!! Banguunnn jangan kayak ginii alviinnnn!!!"teriak Sivia dengan sluruh kepanikannya, air matanya telah membanjiri pelupuk matanya siap untuk mengalir...

-oOOo-

Sivia menggeliat hebat , nafasnya ngos-ngosan , matanya tampak berair , tapi akhirnya ia dapat menghela nafas lega “untung cuman mimpi.”syukurnya.

“Ya Tuhan, semoga kamu baik-baik aja Vin.”doanya.



Bersambung.

Pesan

Nama

Email *

Pesan *

Penulis kece

  • Dewi Lestari
  • Esti Kinasih
  • Ilana Tan
  • Stephanie Zen
  • Windry Ramadhina

Blog Archive

YOU

Followers

Black Moustache

Pages

Blogger Templates