SPECIAL ABOUT US XIX ( YOU MY REASON FOR..LIFE)

 Part Sebelumnya: --> Special About Us XXIII

Because, You are My reason.. for life


Ify terus berlari bahkan sampai ke rumahnya ia terus berlari, ini gila! Benar-benar gila, bagaimana mungkin ia bisa sekuat itu? Entahlah yang pasti hatinya yang lebih sakit saat ini. Bayangan wajah Rio memeluk Shilla secara mesra bagaikan hantaman keras bagi jiwa Ify, ia mencintai Rio. Ya akhirnya ia menyesal, bisakah waktu di ulang? Jika bisa, ia akan memperbaiki nya, semuanya.

Ketika ia sampai rumah pembantunya shock sekali melihat wajah Ify yang sudah pucat pasi bagaikan mayat, tanpa basa-basi Ify langsung melangkahkan kakinya ke kamar dan membanting tubuhnya ke kasur lalu menangis sepuas hatinya berharap rasa sakitnya berkurang walaupun hanya 0.1% tapi sayang bukannya rasa sakit itu menghilang malah semakin bertambah dan terus bertambah membuat dada Ify semakin sesak dan sulit bernafas. 

Dengan cepat Ify mengambil obatnya, rasa sesak dan sakitnya membuat penyakitnya tak mau berteman dengannya, ia merombak semua isi tasnya , tapi nihil tak di temukannya, ia mencari-cari di buffet nya tapi tetap juga tak ada. Tiba-tiba Ify teringat sesuatu…

-

 Ify masih memegang obat-obatan nya lalu sedikit memutar-mutar  , lalu tersenyum puas.
“bubyyeee! Gue udah ga butuh lo lagi! Soalnya obat terampuh gue saat ini adalah Rio. Bukan lo! Hahaha”tawanya girang sambil melempar obat-obatan itu ke closet kamar mandinya.

-

Ify menepuk jidatnya waktu mengingat itu semua, tubuhnya semakin bergetar hebat, rasa sakit yang menjalar diseluruh tubuh, sungguh, Ify tak pernah merasakan sakit yang amat sampai kayak gini.

Tak kuat ,Ify gerakan badannya ke ruang music dan langsung memainkan piano meletakkan dan memencet tuts-tuts hitam dan putih itu sekali lagi ia hanya berharap agar rasa sakit ini hilang.. rasa sakit dari hatinya.
Sesekali ia bersenandung, Ya Tuhan tolong biarkan rasa sakit ini hilang. doanya


“Batas hening jiwa
Ku tak mampu untuk bicara
 Di batas keadaan
Ku mencoba untuk melangkah
Mungkin nanti kau kan sadar
Betapa besar cinta untuk dirimu
Ku kan pergi tuk selamanya”


Ify menghentikan sebentar permainan pianonya untuk menguatkan hatinya lagi


Ya,benar kata lagu itu ia akan pergi, untuk selamanya. Ia memang mencintai Rio. Ia mencintai pria itu melebihi dirinya sendiri, rasa cinta yang tak pernah ia duga sebelumnya, rasa cinta yang mampu membuatnya tersenyum juga mampu membuatnya lemah tak berdaya, tapi bukankah ini semua kesalahan dia? Mengapa harus ada sesal?


“Karena kau tak mengharap cintaku lagi
Biarkan ku sendiri sendiri
Sendiri tanpa cintamu lagi
Biarkan ku sendiri sendiri
Sendiri tanpa dirimu lagi
Kita tak mungkin bersatu”


Ini… ini adalah kata hatinya! Oh Tuhan..

 
“Di batas keraguan
Ku mencoba untuk menepis
Di batas keadaan
Tak mampu lagi tuk bertahan”

Ya , dia tak bisa bertahan, karena Rio telah bersama seseorang dan bukan miliknya.


“Hanya kamu yang bisa
Mengisi relung hatiku yang membeku
Biarkan ku sendiri sendiri
Sendiri tanpa cintamu lagi
Biarkan ku sendiri sendiri
Oh sendiri tanpa dirimu lagi
Kita tak mungkin bersatu
Kita tak mungkin bersatu
Kita tak mungkin bersatu”


Ya, kita tak mungkin bersatu, dan Ify tau itu. Karena ia tau bahwa Dia dia akan pergi.. untuk selamanya.



Lagi dan lagi Ify menangis, air mata itu tak dapat di bendungnya lagi, bahkan kali ini ia berteriak berharap rasa sesak itu hilang, tetapi mengapa tak bisa? Mengapa rasa sesak itu ada dan ada lagi, adakah obat untuk rasa sakit ini?


Tiba-tiba tangannya bergetar hebat, ‘jangan lagi plis…’ pintanya dalam hati, dengan lemah Ia langkahkan kakinya menjauhi grandpianonya tersebut dan entah mengapa pandangannya menjadi kabur, tubuhnya lemas, sangat lemas, ia merasakan hidungnya mengeluarkan cairan merah kental tersebut, ia tertawa miris, kemudian ia liat bajunya, astaga! Bajunya sudah berlumuran darah, ia membalikan badannya menatap tuts putih grand pianonya dan bagaimana mungkin? Bahkan tuts-tuts tersebut sudah berubah warna jadi merah mencolok, mengapa? Mengapa penyakit ini datang? Apakah ia akan pergi sekarang? Sakitnya tak seperti biasanya, bahkan Ify sendiri tak sadar bahwa darahnya sudah meluncur dari tadi. Ya Tuhan, inikah akhir perjalanan hidupnya?


BRAKKK


Dan pada akhirnya semua menjadi gelap.


*


Matahari siang bersinar terik , panas dan panas, itu lah yang dirasakan oleh Gabriel, walaupun begitu Ia masih sabar mencari Ify ke seluruh penjuru sekolah 

“Ify mana sih?”Tanya nya dalam hatinya sendiri,


Lalu ia memutuskan untuk ke GOR Basket yang ada disekolah mereka, pas ia menginjakkan kaki disana ia berdecaak kagum, sekaligus sedih entah sudah berapa lama ia tak menginjakkan kakinya di sini, teringat semua memorinya sewaktu bersama Rio.


-


“Yo! Lempar bola nya!”perintah Gabriel dengan kesal,bukannya me-passing bola ke arahnya Rio malah me-passingnya kearah lain, sehingga lawan bisa leluasa mengambil bola itu.


“ah shit! Lo bego banget sih Yo!”kesal Gabriel, sementara Rio hanya menatap wajah yang mirip dirinya itu dengan tajam, “time out!”teriak Rio dengan suara lantang, semua terkejut dengan pernyataan Rio tersebut, termaksud gabriel 

“apa-apaan lo sekenaknya minta time-out?”Tanya Gabriel tak terima.
“gue kaptennya!”ucap Rio tegas.


Gabriel menatap Rio tak percaya, “kalo mau ngomel jangan disini, itupun kalo lo masih punya malu.”ucap Rio lalu pergi kearah ruang ganti baju.

“stupid.”ucap gabriel tajam ketika mereka berdua sudah masuk dalam ruang ganti baju.
“what?”
“stupid! You are very stupid boy!”ulang Gabriel sekali lagi.
“and you….. loser!”balas Rio tajam, gabriel yang tak terima di juluki Loser mendorong tubuh Rio dengan sengit 

“apa sih masalah lo sama gue?!”
“simple, lo udah ngerebut kebahagiaan gue!”
“maksud lo?”

BUGGG!!

Sebuah hantaman keras mengenai pelipis gabriel “DON’T BE A STUPID BOY YEL!”
“apa sih maksud lo?”
“gue curhat semua tentang Dea sama lo, gue curhat tentang hati gue sama Dea ke elo, but why? 
Kenapa lo malah nembak dia? Apa lo ga mikirin perasaan gue gimana? Gue sahabat lo Yel!”
Gabriel menatap Rio dengan rasa bersalah yang besar “so..sorry.”

“gampang lo ngomong sorry, tapi kenyataannya?! Semua udah terlambat. Mulai sekarang lo… gue keluarin dari team, gue gamau 1 team sama pengkhianat kayak lo.”

-

Gabriel melangkah dengan hati-hati ke GOR Basket itu, melihat isinya, dan…
Dia melihat pemandangan tak menyenangkan, Rio dan Shilla sedang berpelukan.

“ehmmm.”guman gabriel tak jelas, gumanan itu mampu menyentakkan Yoshill.
“Yel…”lirih Shilla, Gabriel membuang muka seakan-akan tak ingin menatap wajah cantik itu dengan lama lagi “gue harap kalian tau Ify kemana.”ucap Gabriel to the point, Shilla menggeleng 
“gue gaktau..”


Cukup. Gabriel telah mendapatkan jawabannya, lalu ia melangkah pergi “tunggu Yel!”teriak Shilla yang mampu membuat langkah gabriel terhenti, Gabriel menghadap belakang.
“Apa?”
“Kenapa kita harus kayak gini?”
“pertanyaan itu harusnya buat kamu Shill, kenapa kamu yang pacaran sama Rio? Sahabat aku sendiri.”
“tapi Ify…”
“kamu bilang Ify Shill? Dia punya salah apa sama kamu? Dia hanya orang yang ga ngerti apa-apa dan selalu jadi korban diantara perdebatan kita.”
“apa kamu tau?Ify selalu menceritakan tentang kamu ke aku setiap harinya, ia selalu pemberi solusi yang baik saat kita bertengkar, dia selalu berdoa buat kamu, buat aku, buat hubungan kita, kenapa kamu ga pernah nyadar sih?!”lanjut Gabriel lagi.
“Yel…”lirih Shilla lagi, air matanya sudah hampir tumpah.
“aku heran sama Ify, kenapa ia sampai mau berlutut sama kamu yah? Bahkan bundanya sendiri pun belum pernah ia perlakukan seperti itu.”
“kamu adalah orang yang dibilang Ify malaikat, tapi sekarang… apakah kamu bisa buktiin pujian itu? Kalau sekarang saja kamu berkelakuan layaknya setan?”

“CUKUP YEL CUKUPPP!!!!”teriak Shilla histeris.

“selamat tinggal.”ucap Gabriel lalu pergi ke mobilnya

Dengan cepat gabriel pergi kerumah Ify setelah ia tau Ify telah pulang dengan keadaan menangis, sepanjang jalan ia habiskan dengan mengutuki dirinya sendiri, ia tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada gadis itu nantinya “Ini semua karena gue!”umpatnya.

Setelah sampai dirumah Ify ia langsung ke tangga dan..

BRAKKK

Ia mendengar suara hantaman yang sangat besar, gabriel mempercepat langkahnya menemui asal sumber suara yang ada di ruang music, ketika ia membuka handle pintu ruangan itu betapa terkejutnya ia ketika melihat Ify terkulai lemas, saat ia mencoba untuk mengangkat tubuh Ify ternyata badan Ify sudah penuh darah semua dan sumber darah itu tidak hanya berasal dari 1 bagian tubuhnya saja, bahkan… kepalanya pun berdarah akibat terbentur kaki piano ketika Ify jatuh pingsan, gabriel menangis melihat itu semua “kenapa harus kamu Fy?”lirihnya


-oOOo-


Dengan cepat Ify di bawa kerumah sakit dan sesampainya disana ia langsung mendapatkan perawatan oleh suster maupun dokter disana , Gabriel terus menerus berdoa dan berdoa untuk keselamatan nyawa Ify “please, bertahan Fy.”ujarnya dengan air mata berlinang, tak bisa ia bayangkan jika ia harus ditinggal Ify pada saat ini.
Dengan cekatan ia keluarkan ponselnya dan mengetik pesan singkat untuk Rio

For : Rio
Ify sekarat. Plis kerumah sakit, kasih tau yang lain.



-oOOo-


From : Gabriel
Ify sekarat. Plis kerumah sakit. Kasih tau yang lain


Rio membaca sms itu secara berulang-ulang, tidak! Bagaimana mungkin Ify sekarat? Hatinya sakit ketika membaca sms itu, mengapa harus begini? Ia pun menunjukan sms itu kepada Shilla.


“kenapa jadi begini Yo?”ucap Shilla khawatir.
“kita harus temui Ify sekarang!”
“tapi Shill..”
“kenapa Yo? Apa lo mau Ify pergi sebelum lo minta maaf kedia? Hah!”bentak Shilla, mau tak mau Rio akhirnya menurut dan menstater mobilnya meluncur kea rah rumah sakit, disepanjang perjalanan Rio tak henti-hentinya memikirkan Ify hatinya belum siap jika harus di tinggalkan Ify saat ini, tidak! Ia tak boleh berpikiran seperti itu, ia harus tetap postif thinking! Tapi sayang ia tak bisa ia terus dan terus mengingat tentang Ify sampai-sampai ia tak menyadari bahwa di seberang sana ada truk besar yang berjalan dengan kecepatan tinggi ke arahnya 

“Yo!! Awass!!!!!”teriak  Shilla mencoba untuk menyadarkan Rio dari alam fantasinya, Rio mengerjap dan langsung membanting stir ketika jarak antara truk itu dengan mobilnya sudah 1 m , tetapi naas mobil nya malah menabrak pohon besar disana.


-oOOo-


Rio membuka matanya, siluet matahari menyilaukan menyapanya, ya Tuhan semoga tadi hanya mimpi, gumannya dalam hati tetapi sayang takdir berkehendak lain, disana.. mobilnya sudah terbalik dan nyaris hancur, ia coba membangunkan badannya, ada rasa sakit di ulu hati dan dadanya , ia melihat tangannya sudah berceceran darah semua, ia langkahkan kakinya kea rah mobilnya, betapa lemasnya Ia ketika melihat Shilla disana, berlumuran darah dan tidak sadarkan diri.


“SHILLAAAAAAAA!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!”Teriak Rio dengan histeris.


-oOOo-


Agni terus menerus menangisi Cakka sambil sesekali membaca dan membaca sms yang baru Cakka berikan kepadanya secara berulang-ulang.


From : Cakdut
Maaf, kalo sebelumnya gue gak izin dulu ke lo, tapi ini buat kebaikan gue Ni,
Ortu gue udah mutusin untuk gue sekolah di luar negeri, dan gue akan menetap disana selama-lamanya, ortu gue khawatir tentang keadaan gue yang terus menerus terpuruk, akhirnya mereka menganjurkan gue untuk ke Washington buat berobat, dan gue setuju itu, maafin gue Ni, mungkin ini yang terbaik buat kita –gue dan lo- semoga lo bahagia disana. Gue akan sering ngirim lo surat baik lwt email ataupun jejaring social lainnya.
Good bye


Tangannya terus bergetar ketika membaca sms dari Cakka tangannya bergetar memegang handphone tersebut ia ingin belari tapi tak sanggup, ia ingin teriak tapi tak bisa, hanya air mata yang sanggup berbicara untuk kali ini.

Bersambung.

Pesan

Nama

Email *

Pesan *

Penulis kece

  • Dewi Lestari
  • Esti Kinasih
  • Ilana Tan
  • Stephanie Zen
  • Windry Ramadhina

Blog Archive

YOU

Followers

Black Moustache

Pages

Blogger Templates