Wanted - 1


Part Sebelumnya : Wanted - Prolog
Author : Lidang Sinta Mutiara

Wanted – 1 : Cowok Bodoh!



You know I'd fall apart without you
I don't know how you do what you do
'Cause everything that don't make sense about me
Makes sense when I'm with you

Gadis ceria itu berjalan menyusuri koridor rumah sakit dengan nafas yang terengah-engah ia mendundukan sedikit wajahnya dan menghadap kearah ubin lantai, astaga! Jelek sekali mukanya saat ini, sedetik kemudian...
Hahahaha....
Ia tak mampu lagi menahan rasa gelinya melihat wajahnya sendiri pada saat ini, peluh menyecer tak karuan di wajah putihnya, ingin rasanya ia lap semua peluh itu dengan jas Coas Dokter yang saat ini dipakainya tetapi ia urungkan niatnya itu karena takut Jas Coas itu akan kotor dalam sekejap mengingat putihnya jas itu.
Ia berjalan lagi kali ini tak  dengan terburu-buru.
Huufff....
Hampir saja, ia menengok kebelakang lagi memastikan orang yang sedari tadi mengejarnya sudah pergi ke negeri antah berantah. Setelah yakin akan orang itu pergi, ia pun berjalan dengan tenang.
                “Sivia?”

BRAK! BRUK! 

                “Aww!” Sivia—gadis yang sedari tadi seperti lari maraton meringis kesakitan sambil mengusap-usap bokongnya dengan tatapan miris akan kejadian yang baru saja menimpanya.
Ia mengucapkan sumpah serapah berulang kali dengan lancar seolah-olah itu hal yang wajar sehingga pria yang tadi memanggilnya sedikit mengangkat alisnya kagum atas sumpah serapah yang Sivia katakan.
Sungguh, gadis semanis dia mengucapkan sumpah serapah yang tak pantas di ucapkan oleh Cewek? Gracius!
                “Rio,kamu itu super duper nyebelin tau gak?!” Sivia melotot sambil berdecak pinggang. Matanya yang sebenernya sipit dipaksa agar melotot upaya Rio takut.
Tetapi bukannya takut Rio justru tertawa terbahak-bahak bahkan sekarang ia memegang perutnya akibat tawanya yang keras, Sivia memonyongkan bibirnya karena kesal Rio telah menertawakannya. Sadar Sivia telah kesal Rio menghentikan tawanya.
                “Mau Sushi nona Azizah?”tawar Rio dengan lembut.
Sedetik kemudian mata Sivia membulat sekaligus berbinar terang. “Mau!!!”


--


Sivia memakan Sushi dengan lahapnya bahkan ia nambah 2 piring, Rio yang melihat itu hanya tertawa geli melihat tingkah Sivia yang menurutnya seperti anak kecil, tunggu. Menurutnya? Bukan, mungkin menurut orang lain juga seperti itu. Liat saja, semua pengunjung menatap Siva dengan pandangan muka geli.
               
“Tuh,liat deh adiknya lahap banget kan makannya? Eh kakak nya malah ngetawain gitu aja.” Celetuk salah satu pengunjung yang sedang asik melihat tingkah Sivia.
Rio yang mendengar itu hanya terdiam dan menggeleng pelan, ‘mengapa harus sebagai adik dan kakak?’ eluhnya dalam hati.

                “Yo, sumpah lo baik banget hari ini. Ada apa sih?”tanya Sivia sambil memotong potongan daging mentah dan menaburkan sedikit garam disana menciptakan rasa yang enak tentunya.

Rio tersentak mendengar tutur kata Sivia yang menyindirnya telak. Jujur saja, Sivia benar memang ada yang mau di omongin pada saat ini.
                “tadi lari-larian sama siapa,sih?”tanya Rio sambil menatap mata biru milik Sivia.

Sivia tertawa keras sambil memegangi perutnya lalu sedikit mendelik-an bahunya dan menatap Rio secara misterius, ia condongkan tubuhnya lebih mendekat ke arah Rio sehingga membuat pemuda itu sedikit menegukan salivanya karena gugup, “Lo mau tau atau mau tau banget, hum?”

Rio berdecak kesal saat tau dirinya dikerjai Sivia sedetik kemudian timbul niatnya untuk mengerjai Sivia balik sebelum...

                Kring..

Handphone Rio berbunyi keras menyentakkan keduanya yang kemudian terkekeh pelan dan langsung menekan tombol ‘OK’ lalu mendekatkan pesawat telepon itu ke dekat indera pendengarannya.

                “Hallo?”
                “Rio! Plis dateng, pasien dokter Nelwan sekarat dan beliau lagi gak ada ditempat!”terdengar suara panik diseberang sana, sedetik kemudian Rio langsung pergi dari sana dan berbalik, “gue kerumah sakit, Vi. Ada emergency.”

                Sivia masih gak ‘ngeh’ hanya bisa ngangguk tanpa harus berbuat apa, tapi setelah Rio pergi ia pun memutuskan untuk pergi juga, menyusul sang sahabat nya itu.

--

Rio sedang menatap miris pasiennya sekarang. Astaga! Percayalah, pasiennya sekarang masih muda dan cukup... tampan, jikalau ia wanita pasti ia sudah hanyut dalam pesona  tapi syukurnya ia bukan seorang wanita. Sementara, Ify—wanita yang disamping Rio hanya bisa menghelakan nafasnya.
                “Kasian,Yo?”tanya Ify hati-hati. Ia tau sifat Rio yang sedang fokus dan tak bisa di ganggu itu, aura otoriter Rio mulai terasa sangat kental pada saat seperti ini. Ia tak mau jadi korban bentakan Rio.

Ify hampir saja sujud syukur saat melihat Rio mengangguk-an kepalanya. Pria ini sangat anti menunjukan kesetujuannya pada semua orang kecuali, hm. Dengan Sivia.
                “sangat disayangkan orang se-ganteng dan se-muda dia harus meng-akhiri hidupnya karena OD akibat Zat Adiktif. Well,gue membayangkan nya saja sudah ngeri.”Ujar Ify sambil mengambil salah satu suntikan dan mengisinya dengan cairan lalu menyuntikkannya ke urat nadi Pasien itu.

                “Oke, baiklah siapa nama anda tuan malang.” Ify mengambil buku laporan pasien yang disodorkan oleh salah satu perawat dan terkejut melihat setiap abjad yang tertera disana.

Nama : Alvin Jo

Alvin?

                “Alvin,Yo.”
                “Oh,”ujar Rio singkat tapi sedetik kemudian matanya sukses membulat.
                “APA?!”

--

Sivia menggerutu kesal karena ditinggalkan oleh Rio, ia berjalan sambil memasukan stetoscope nya ke dalam saku jas Coas nya lalu berjalan menuju kamar rawat pasien yang telah kurang ajarnya menganggu acara makan siang bersama sahabatnya itu.

Ia berjalan secara mengendap-endap berhati-hati takut-takut Rio melihatnya sedang menguntit. Bahaya bukan? Ya.
dia melihat Rio dengan wanita yang bernama hum... Ify kah? Tidak-tidak ia bahkan tak yakin kalau wanita itu bernama Ify.
Ia tak acuh dan tetap menguntit melihat Rio dengan wanita itu sedang menjalankan profesinya sebagai asistant Dokter. Ia menatap lekat pria muda yang sedang di tangani oleh Rio dan Ify entah kenapa matanya rasanya betah sekali menatap wajah itu.

                Siapa dia?

Sivia menggelengkan kepalanya frustasi. Gak! Ini tidak wajar,kenapa bisa ia begitu penasaran dengan seseorang yang baru dikenalnya? Aneh.

                “Yo...” terdengar suara dari dalam, ah wanita itu siapa sih? Sivia memandang wanita itu dengan tatapan murka.

Rio terlihat merespon wanita itu dan mengangkat kepalanya, “Apa?”
Bagus! Rio tak begitu merespon wanita itu, entah mengapa rasa senang menyelimuti hati Sivia.

                “dia bisa bertahan kan?”tanya wanita itu lagi.
Rio mendelikan bahu nya pertanda tak tahu.
Ketika terlihat keadaan pasien itu mulai stabil, Rio maupun Ify menaruh peralatan medis mereka ke tempatnya dan bersiap meninggalkan ruang rawat tersebut, Sivia yang menyadari akan kepergian mereka langsung berlari kecil ke arah lain takut kalau Rio melihatnya sedang menguntit.
Setelah melihat Rio dan Ify benar-benar menghilang (?) Sivia langsung pergi melangkahkan kakinya ke dalam ruang rawat pasien itu. Astaga! Dia kenapaa kepo banget sih sama pasien satu ini, tak biasanya.
Sivia medelikan bahu-nya dan terus berjalan mendekati ranjang putih tempat pasien itu terbaling.
                “nama kamu Alvin Jo? Keren.” Komentarnya singkat lalu merubah pandangannya ke arah salah satu buku identitas pasien.
                “Zat Adiktif? Kamu nge-drugs?” Sivia masih terus mengatakan hal apa saja yang ia inginkan.
Walaupun ia tau sang pasien pasti tidak menjawabnya.
                “kenapa harus nge-drugs udah gak sayang sama nyawa lagi? Mending buat adik aku aja, dia meninggal 1 tahun yang lalu, namanya Ray. Dia ganteng loh, sayangnya sakit leukemia genetic keturunan dari Ibu aku. Dia pengen hidup lebih lama, sementara kamu? Make obat terlarang itu? Bodoh!”
                “aku cerewet ‘kan? Maaf yah, abis emosi nih ngeliat orang yang betapa bodohnya menyia-nyiakan hidupnya gitu aja.”


--

                “dia Alvin?” tanya Ify tak percaya dengan tatapan menerawang.
Rio bersikap seolah tak ada apa-apa langsung mendongak dan menatap Ify datar, “apa peduli lo?”

Ify terdiam dan menatap Rio tajam, entah apa yang dipikiran pria itu sampai sangat mengacuhkannya, padahal ia tahu Rio tak begitu dulu, semua ini gara—gara Sivia mulai masuk ke kehidupan Rio.

                “Gak nyangka persahabatan SMA kita runtuh begitu saja karena perempuan itu.” Sinis Ify sambil mengalungkan kedua tangannya, kesebelah bibirnya terangkat satu serasa menyunggingkan senyuman sinis.
                “jangan bawa Sivia dalam masalah ini, nyonya Ify!”
                “Well, gue udah nebak sebenarnya siapa yang egois disini.”
Rio terperangah mendengar ucapan Ify, apa benar ia egois? Tetapi kan......
                “Gue mundur,Yo.”ucap Ify lalu melenggang pergi.
 Rio menatap punggung Ify yang mulai hilang dari penglihatannya lalu menyentakkan nafasnya kasar, “Maaf....”

--

Sivia membawa 2 minuman di tangannya, satu yang dingin satu yang biasa. Ia kelelahan karena harus mengurusi jumlah pasien yang bisa di bilang tak biasa itu.

                Bruk.


Ia terkejut saat minumannya jatuh ke badan orang, astaga! Kenapa ia malah melamun disaat membawa minuman? Ia mendongak hendak melihat sosok yang ia tabrak. Alih-alih ingin mengucapkan maaf Sivia malah memandang sinis orang yang ada didepan nya itu.

                “Gabriel?!”

Bersambung ke Wanted - 2

Pesan

Nama

Email *

Pesan *

Penulis kece

  • Dewi Lestari
  • Esti Kinasih
  • Ilana Tan
  • Stephanie Zen
  • Windry Ramadhina

Blog Archive

YOU

Followers

Black Moustache

Pages

Blogger Templates