Wanted - 2


Part Sebelumnya : Wanted - 1


Wanted - 3 : Cemburu?


“ngapain kamu kesini?”tanya Sivia sinis, cowok yang di panggil Gabriel tak acuh lalu melangkahkan kakinya ke suatu tempat.
Sivia geram atas kelakuan – Mantan Pacarnya – yang menurutnya kurang ajar itu, hey! Ada orang yang sedang berbicara dengan mu,Tuan. Batinnya berteriak.
Sivia menarik paksa tangan Gabriel menyuruhnya agar berhadapan dengan gadis manis nan mungil ini, “Ngapain?”

                “mau ketemu kakak lo, Ify. Bye the way kalo jalan tolong jangan melamun dan terlalu bersemangat.” Ucapnya singkat dan langsung melenggang pergi.

Sivia terpaku dalam tempatnya ketika mendengar perkataan orang yang pernah ada dalam hidupnya, aish. Apa katanya? Mau ketemu Ify?
Mendadak ia menahan nafas berusaha mengatur emosinya atas kakak nya itu.
Lihat saja, semua tak akan semudah itu, Ify.
--
Terlihat jelas cowok yang berbalut dengan berbagai macam peralatan dokter mengerang sakit sambil memegangi kepalanya. Tunggu, dimana ini? Ruangan serba putih dengan pelengkap aroma obat?! Argh... kepalanya semakin sakit ketika menghirup obat-obatan yang ada disitu.

Entah kenapa tiba-tiba tubuhnya mengigil hebat kepalanya menjadi sakit, ia menggelengkan kepalanya mencoba menolak, tetapi sayangnya bukannya pergi rasa itu malah semakin membelenggutinya perlahan tapi pasti tubuhnya meminta lagi....

--

Ify menghapuskan peluh yang bertengger di wajahnya dengan tangannya, tetapi bukannya hilang peluh itu malah semakin membanjiri wajah mulusnya, Ya Tuhan... mengapa hari ini rasanya lebih lelah dari pada kemarin? Mengapa rasanya hari ini lebih letih?

Rio.

Ia menggelengkan kepalanya pelan, gak mungkin ini soal cowok itu. Ya, perlu diakui gadis ini memang sangat menyukai Rio. Tetapi, apakah mungkin cowok itu akan membalas cintanya? Tidak! Cowok itu bahkan lebih mencintai adiknya sendiri, Sivia.
Ify bergelayut dengan semua angan-angannya sampai tak menyadari bahwa ada pria sedari tadi yang mengelap peluhnya dengan sapu tangan di bawanya. Gabriel
                “Eh?” Ucapnya gugup ketika wajah Gabriel semakin mendekat kepadanya.
                “Jangan bergerak, ntar malah kena make-up kamu dan akhirnya cemong.”ujar nya sambil mengulum senyum.

Wajah Ify merona merah mendengar dan menerima sikap yang Gabriel kasih, ini keren bukan? Romantis sekali.
               
                “stop do it, muka gue merah nih.””
Gabriel terkekeh  pelan dan langsung megacak-acak rambut Ify dengan gemas.
                “Lo harus tau, kalau lo itu nge-gemesin tau gak?”
                “gemesan gue atau Sivia?”
Mendengar itu tangan Gabriel langsung berhenti seketika itu juga, “bisa gausah bahas dia?”
Ify terkekeh kecil lalu meninju tubuh Gabriel pelan, “hati-hati, bilang aja kalau masih sayang.”
                “sstt! Diem deh.”Ucap Gabriel malas sambil memutar bola matanya
Ify mengangguk walau ragu, “Alvin balik ,Yel.”
Gabriel membelakkan matanya takjub, “Apa?!”

--

Sivia berjalan dengan kesal menuju ruangan Rio, ia berjanji akan menceritakan semuanya kepada sahabatnya itu, tetapi entah kenapa langkahnya terhenti didepan sebuah ruang kamar rawat inap bernomer 201 ia melengok ke arah dalam dan semakin mendekatkan dirinya.

Kenapa dia?

Sivia menyiritkan keningnya sehingga alisnya menyatu ketika melihat Alvin seperti kesakitan, cowok itu... Astaga! Kenapa dengan dia?
Dengan langkah tergesa ia masuk  ke dalam ruangan itu dan entah refleks atau bukan ia menyentuh bahu Alvin sehingga membuat Alvin mendongak dan bertatap muka dengan nya.

--
Like everything that's green, girl I need you
But it's more than one and one makes two

--


Sivia tertegun menatap wajah Alvin.
{Sivia Visual}
Matanya yang sangat jujur menurutku. Aku tak bosan menatap mata itu, tetapi yang aku dapatkan dari mata itu kesakitan yang mendalam, Ya Tuhan... kenapa dengan dirimu? Apa yang menyiksa mu? Mengapa pancaran mata itu bagaikan sosok tersakiti? Bukan-bukan, melainkan putus asa?

                “Maaf.” Sesal Sivia dan langsung menjauhkan tubuhnya tak memegang bahu Alvin lagi, tetapi tetap menatapnya.
                “kamu gak apa-apa?” tanya Sivia lembut.
                “O-Obat...” Alvin berbicara sambil memeluk dirinya yang panas dingin.
Mata Sivia terbelak sukses, “Gak! Gak boleh, kamu harus sembuh.” Ia berteriak sambil berangsur menjauhi tubuh Alvin, ia tahu apa yang di inginkan pria ini. Satu obat, obat yang menjadi jalannya menuju neraka. Obat yang membunuh semua orang dengan mengenaskan bagi pemakainya di muka bumi ini. Narkoba.

                “To-Tolongin gue,plis..”pinta Alvin dengan sungguh ia tak tahu mengapa, tetapi yang pasti berada didekat cewek ini benar-benar seperti melihat masa depannya, Entahlah.
Sivia menggeleng keras lagi, kali ini sambil menutup mulutnya menahan isak tangis. Huh, apalagi ini? Mengapa ia rasanya mau nangis melihat cowok ini tersiksa? Ini seperti radar, radar yang tak tahu asal usulnya. Radar yang masih menjadi teka-teki.

Perlahan Sivia meraih tangan Alvin, ia terdiam. Tangan itu dingin, ia mendongak menatap Alvin dan benar saja sosok itu benar-benar menggigil parah. Oh Plis, ia bukan ahli dalam hal ini, ia belajar di specialis anak dan kasus seperti ini bukan bagiannya.

                “Sivia?” terdengar suara lembut menggeletiki telinga Sivia dan ia langsung menatap pemilik suara itu dengan datar.
                “Alvin kenapa,Vi? Kok lo disini?”ulang pemilik suara lembut itu, Sivia masih tetap bergeming pada tempatnya, cengkraman di tangan pria itu semakin di eratkannya, Oh kakak ku sudah berapa lama kita tak saling berpandangan seperti ini?
                “Vi?” Ify—pemilik suara itu—berjalan mendekati Sivia,hm. Tepatnya Alvin dan langsung membelakkan matanya ketika dilihatnya Alvin benar-benar kacau. Ya, akhirnya ia bisa melihat secara langsung bukti nyata pengaruh obat haram itu.
                “Di... dia, tubuhnya nagih,Fy.” Ucap Sivia sambil mundur teratur dan melepaskan tangannya dari tangan Alvin, Sivia hampir menangis ketika menjawab pertanyaan Ify. Kakaknya itu benar-benar baik. Bahkan ia berbicara dengan Sivia tanpa rasa canggung? Hatinya mencelos ketika mengetahui bahwa ia bersalah.

Ify mendekati Alvin ketika dilihatnya Sivia mulai mundur teratur seperti mempersilahkan dirinya untuk menangani Alvin, oh Adik ku sayang? Sudah berapa lama kah kita tak saling sapa-menyapa? Bahkan untuk menjawab pertanyaan ku saja kau sangat canggung. Batinnya berteriak.

                “Vin, rehab ya.” Ujar Ify lembut sambil mengusap punggung Alvin. Yang di usap justru seperti merasakan de javu sebelum ia benar-benar mendongak melihat siapa yang mengusapnya itu.
-          Flashback On—
“Kalo udah besar lo mau jadi apa,Vin?”tanya wanita berambut panjang disampingnya dengan
antusias.
Yang ditanya malah mengangkat bahu nya tak acuh. Sambil tetap menatap langit yang sekarang menjadi objek menarik sedari tadi.
                “Gatau, masih belum ada rencana. Lo Fy? Yo?” tanya nya cuek.
Ify—wanita yang bertanya tadi. Hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat kelakuan sahabat nya yang satu itu, kelakuan yang ajaib. Kelakuan yang sukses membuatnya nyaman untuk bersahabat dengannya.
                “gue mau jadi dokter.” Ucap Ify sambil menatap langit juga, tatapan menerawang seakan-akan ia membaca semua masa depannya dilangit.
                “Elo Yo?” tanya Alvin beralih kepada Rio.
                “Sama,Vin.”
Alvin mengangguk-anggukan kepalanya. Pikirannya beralih kepada sang orang tua yang berantem didepan wajahnya sampai pada sidang perceraian yang benar-benar membuatnya ingin hilang dari muka bumi ini.
                “gue rasa gue gak punya cita-cita,deh.” Ucapnya lirih.
Ify menatapnya dengan tatapan sendu, seharusnya disaat umur seperti ini dia mestinya merasakan indahnya dunia remaja. Tetapi apa yang ia dapatkan? Justru yang ia dapatkan pengkhianatan dari kedua orang tuanya.
Seandainya itu yang terjadi dalam hidup Ify, ia yakin sudah bunuh diri disaat itu juga. Ah... mengapa harus ke-egoisan orang tua yang menang? Jika memang itu untuk kebaikan mereka, lantas? Apa yang bisa anak ambil untuk kebaikannya? Belum lagi disuruh memilih. Ify yakin, Alvin tak sanggup untuk itu.
Ify menepuk pundak Alvin, menyuruh pria itu lantas menghadapnya, “jangan menyerah yah,Vin.”

-           Flashback Off –

--
                “Ify?” hanya itu, hanya kata itu yang terlontar dari mulut tipisnya, hanya satu kata yang benar-benar membuat Ify hampir memeluk Alvin.
Sahabatnya ini, sahabat SMA nya mengenalnya? Tiba-tiba ia merasa bersalah ketika harus melakukan pengecekan dulu waktu ia yakin tak yakin bahwa ini Alvin. Alvin yang menjadi sahabatnya dulu, pelengkap hidupnya.
                “Vin!”pekik Ify semangat, tak diragukan lagi air mata yang sedari di tahannya mendadak keluar begitu saja tanpa diperintah. Satu tarikan, Ya satu tarikan bermakna banyak dilakukan Ify. Ify menangis sepuasnya didalam dekapan Alvin.

Alvin mengelus pundak tubuh Ify dengan perasaan layaknya sang sahabat, entah mengapa hatinya benar-benar bergelora merasakan Ify dalam dekapannya, penyemangat hidupnya.

Tak jauh dari sana, seorang wanita berpakaian jas Coas Dokter menatap pemandangan yang ada didepannya dengan nanar. Ada sesuatu yang menolak bahkan memberontak saat ini, sesuatu yang menjadi pelengkap hidunya. Hati Sivia.

--

                “Alvin ada disini?” tanya Gabriel to the point.
Rio terkejut, tetapi akhirnya ia mendongak juga menatap kembaran nya yang sudah memasang penuh murka.

                “Ya.” Jawab Rio singkat.

Terdengar helaan nafas kasar dari Gabriel, Rio tetap ditempat semula.
                “Dan lo biarin dia gitu aja?”tanya Gabriel dengan sinis, amarah nya berusaha ia tahan dari tadi.
                “gue bisa apa?”

BUG!

Satu tinjuan melesat dengan mulus di pipi Rio, yang di pukul hanya bisa merenung tanpa perlawanan sama sekali.
                “gue minta lo dewasa untuk saat ini.”ucap Gabriel lalu pergi dari situ, mendobrak pintu ruangan Rio.

--

Sivia hanya bisa meringis melihat Ify dengan Alvin sedang bercengkrama dengan senangnya.
                ‘gue juga mau!’batinnya teriak.
Ia membuang pandangan ke arah luar ruangan terlihat Gabriel yang tergesa-gesa keluar dari ruangan Coas Rio. Mendadak Sivia diselimuti pikiran yang macam-macam, argh.. mantannya itu benar-benar membuatnya kesal!
Dengan satu sentakan ia berjalan ke arah ruangan Rio, meminta Rio untuk menjelaskan semuanya.

--

Ify yang melihat kepergian Sivia dan arah jalan gadis itu hanya bisa menghela nafas pelan, lalu menatap Alvin yang sudah menatapnya dengan lirih itu, berusaha ia tersenyum meskipun secara paksa di hadapan Alvin.
               
                “kenapa kok muka nya lesuh gitu ngeliat cewek itu pergi?”tanya Alvin penasaran.

Ify tertegun, Ah.. Adiknya itu memang sudah 1 tahun yang lalu baru balik ke Indonesia sebelumnya ia memang tinggal Amerika mengikuti Oma mereka yang minta di temani di negeri Paman Sam itu.
Jadi wajar saja kan kalau Alvin tak tahu menahu tentang Sivia dengan memanggil adiknya itu ‘cewek itu?’

                “Gapapa.”ucap Ify dipaksakan.

Bersambung ke Wanted - 3

Pesan

Nama

Email *

Pesan *

Penulis kece

  • Dewi Lestari
  • Esti Kinasih
  • Ilana Tan
  • Stephanie Zen
  • Windry Ramadhina

Blog Archive

YOU

Followers

Black Moustache

Pages

Blogger Templates