Wanted - 3


Part yang lalu : Wanted - 2


Wanted - 3 : Hatinya yang terluka....

 Put aside the math and the logic of it
You gotta know you want it too

--
                “Suka sama Rio?”tanya Alvin penasaran.
Ify mendongak, ah... sahabatnya ini kenapa sih bisa membaca pikirannya? Atau wajah Ify sebegitu jelasnya kah?
                “Aneh kamu, masa iya aku suka sama sahabat sendiri.”
                “sahabat jadi cinta, who knows?

Ify tersenyum masam lalu membalikkan tatapannya ke hadapan Alvin, “iya. Siapa tau memang, dan gak ada yang tau. Tapi... Rio udah memilih hatinya sendiri, dan itu bukan aku.”
               
                “memilih hati?”Alvin makin tak percaya dengan Ify.

                “Iya, memilih hati. Hati tempat ia pulang, tapi itu bukan aku. Hati aku bagi dia cuman jadi tempat singgah aja dia pergi lalu bertemu dengan seseorang yang menurutnya bisa memuaskan dia, dan entah sengaja atau engga dia menoreskan luka. Luka yang sampai sekarang gak bisa terobati kecuali dia sendiri.”

Alvin bimbang, dia benar-benar geram dengan kelakuan Rio serta Sivia yang menurutnya sangat menjijikan, hawa diruangan itu semakin mencekam.

                “salahkah aku memintanya untuk menyembuhkan luka itu?”

Alvin menggeleng lesu, gak. Gak ada yang salah disini. Hanya waktu lah yang belum tepat.

--


Perjuangan Sivia tak berhenti sampai disitu tiap ada kesempatan ia terus mempergunakannya untuk menemui Alvin dan tiap ada kesempatan juga ia selalu melihat Alvin bersama dengan Ify. Hal itu justru sangat membuatnya geram tetapi semuanya coba ia tahankan demi satu alasan yang sampai saat ini ia tak tahu. Alasan aneh.

                “Lo ngapain sih,Vi?” tiba-tiba terdengar suara lembut yang menggoda daun telinga Sivia, ia mendongak menatap sang pemilik suara itu, kemudian tersenyum dengan manis.
                “Kamu toh, Yo. Kirain aku siapa.” Ucap Sivia lega sambil mengelus dadanya.

Ia mengalihkan pandangannya lagi ke arah Ify dan Alvin dengan muka miris, ih kenapa sih dirinya ini? Kenapa ia sangat ingin diposisi Ify untuk saat ini. Hayolah Sivia, ada apa dengan dirimu? Ini tidak wajar bukan?

                “mungkin gak,Yo kalo kita akan jatuh cinta sama orang pada pandangan pertama?” tanya Sivia dengan tatapan menerawang.
Rio menatap Sivia tak percaya sambil melihat arah yang di lihat oleh Sivia sendiri. Mendadak perasaannya murka. Ya, Rio tahu jika saat ini akan tiba juga. Saat dimana Sivia telah menemuka pengganti Gabriel, saat dimana ia harus merelakan Sivia. Saat menyakitkan untuk dirinya.
--

Gabriel mengotak-atik berkas-berkas yang ada dikamar Rio dengan terburu-buru. Sial, kembarannya ini benar-benar mempunyai hidup yang sangat teratur, tidak seperti dirinya. Hidupnya bagaikan jam dinding statis dan rapih. Oke, kalian bisa lihat disini. Dikamar ini benar-benar rapih! Tak seperti kamarnya yang cenderung berantakan dan lebih ‘cowo’ argh! Gabriel benar-benar pusing.

Dimana kembarannya itu menyimpan benda yang ia cari sedari dulu?

Ia terus membuka-buka laci demi laci di kamar Rio, sampai akhirnya tangannya berhenti pada sebuah laci. Mendadak jantungnya bergetar hebat tak karuan. Ia langsung membuka laci itu dengan tergesa-gesa seperti kerasupan.

Dapat!

Ia telah mendapatkan apa yang ia cari selama ini, senyuman licik tergambar dalam wajahnya.

--

Ify memandang keluar ruangannya terkejut sekaligus berusaha untuk tidak terpancing untuk pemandangan yang ada di hadapannya. Hatinya geram, sedih,murka sekaligus lirih.

                ‘kapan pria itu bisa melihat ku? Aku disini! Orang yang mencintainya.batinnya lirih.

Bak mempunyai kemampuan telepati, Alvin dapat merasakan apa yang Ify rasakan sekarang. Ia mengikuti arah pandangan Ify. Terlihat disana sahabatnya-Rio-  tengah asik menggoda wanita disampingnya, wanita yang kalau di lihat-lihat mirip dengan Ify.
Siapa wanita itu?
Ia menggeleng pelan ketika merasakan getaran aneh yang menggerogoti hatinya sekarang.
Lalu memandang wanita itu lagi,kali ini dengan intens, “Siapa cewek itu?”

                “Adik  aku.” Jawab Ify tanpa minat sedekitpun. Alvin bisa merasakan luka ketika Ify menjawab pertanyaan Alvin.
Ia tak mengerti ketika terjebak dalam kondisi abstrak ini. Akhirnya ia memutuskan untuk diam

--

                “Aku naksir dia ,Yo.” Ucap Sivia ketika mereka berdua memutuskan untuk makan bersama di kantin.
Rio terkejut, ia lantas menghentikan aktivitasnya dan beralih menatap Sivia dengan tatapan minta jawaban, mendadak hatinya kesal,marah dan... cemburu? Ya! Ia cemburu mendengar tutur kata Sivia barusan, tahu kah Sivia bahwa ia benar-benar mencintai gadis ini? Kenapa harus Sivia mencintai ‘mantan’ sahabat SMA nya itu?

                “Gak bisa!” Rio berbicara sambil meningkatkan volume suaranya, Sivia terkejut, sahabatnya ini barusan berbicara dengan dirinya menggunakan nada yang agak tinggi? Bercanda ‘kan?

                “Gak bisa? Kok?” Sivia bingung sambil mengerutkan keningnya.
Rio menatap Sivia dengan tatapan geram, “dasar, selalu begini. Manusia memilih orang yang susah untuk di gapainya sadarkah kalau ada orang yang dekat dengan dirinya dan meminta nya untuk di gapai?”ujarnya lirih.

Sivia menatap Rio dengan tatapan kosong, “jangan bilang kamu....”
                “Ya! Aku suka sama kamu,Via.”

Final. Cukup sudah apa yang Sivia bingung kan selama ini, sudah terjawab semuanya apa yang ia tanyakan pada bintang pada persahabatan mereka.
Dan, cukup sudah juga ujung dari apa yang ia ingin ucapkan pada gadis cantik disampingnya kini, satu sentakan. Ya, satu sentakan. Rio langsung menarik Sivia dalam dekapannya, menyentuh bibir mungil Sivia tanpa malu.

--

Ify berusaha untuk menahan air matanya sedari tadi, Ya Tuhan... bisakah ia menghilang dari muka ini sekarang juga? Sia-sia semua penantiannya selama ini, sia-sia semua rasa akan kepercayaannya bahwa pria itu akan melihatnya?
Ify mencengkram bajunya kuat-kuat. Seharusnya tadi ia tak keluar! Seharusnya tadi dia tak penasaran akan adiknya dan pria itu, seharusnya rasa ini tak akan pernah ada! Seharusnya... seharusnya tak ada Sivia ditengah-tengah cinta rumit ini!
Inikah balasannya? Ini kah balasan penantiannya? Ini kah balasan akan cinta nya? Inikah balasan akan kebersamaannya selama ini.
Jika, memang ini... izinkan ia menukarnya untuk sesuatu yang lebih berharga.
Jika memang ini yang tertulis, izinkan ia untuk mengulang dan menghapus kisahnya.
Sebab, ia sendiri tak kuat dalam posisi seperti ini.

‘Bantu aku Tuhan....’ hati nya menjerit.

Kenapa harus adiknya yang selalu mendapatkan kebahagiaan? Mengapa harus adiknya yang selalu mendapatkan keistimewaan dimata seseorang yang ia sayangi?

Tiba-tiba handphone nya bergetar, membuyarkan semua angan-angan kosongnya, Ify bersyukur ada sesuatu yang bisa mengalihkannya. Akhirnya ia bisa memalingkan pandangannya dari dua orang yang tega memporak-porandakan hatinya.

                From : Alvin
                Bahu gue siap untuk lo,Fy.

Ify terkejut, bagaimana Alvin bisa tahu nomernya? Dan bagaimana Alvin bisa datang disaat yang tepat.
Perlahan ia mengangkat kepalanya dan melihat kesebuah satu titik. Ya, ada Alvin disana dengan memandang ke bawah Kantin. Tatapannya lurus, seakan memancarkan apa yang Ify pancarkan. Luka itu ternyata ada.

--

Sivia tertegun beberapa lama, ia merasakan bibirnya dijamah oleh Rio, ia tak membalas. Hanya terdiam dan diam, dan pandangannya mengarah ke satu titik. Kamar ruang rawat inap lelaki yang telah membuat ke –kepoannya meningkat, kamar Alvin.

Ia bisa melihat dengan jelas bagaimana Alvin melihat dirinya dengan Rio, tatapan itu membuat dirinya tersadar dan langsung mendorong Rio serta menyeka bibirnya yang sudah memerah.
Oke, ada apa dengan dirinya? Ia tak bisa merasakan getaran ‘itu’ ketika berada didekat Rio, bahkan ketika Rio mencium bibir nya! Rasa getaran itu tak ada. Tak seperti ketika ia menatap wajah teduh Alvin.

                “Gue gak bisa.” Ucap Sivia dan langsung pergi dari tempatnya meninggalkan Rio yang sedang berusaha menormalkan nafasnya.

--

Maafkan bila cinta ini salah, maafkan bila semua ini salah.
Ify mencoba menggerakkaaan kakinya, tetapi apa daya tubuhnya sudah terlalu lemah untuk melakukan itu. Sehingga ia hanya mampu menatap wajah Alvin dan sekaligus mencari-cari kebahagiaannya diatas awan-awan.
Kenapa harus sesakit ini sih melihat orang yang kita cintai ternyata lebih mencintai orang terdekat kita?

--

Alvin menatap Ify dengan tatapan sayu, sahabatnya itu terluka!
Terluka karena perempuan itu, perempuan yang mampu membuat hatinya bergetar sekaligus murka ketika melihat seorang wanita masuk kedalam kamar ruang rawat inapnya.
SIVIA!

                “puas lo buat kakak lo sendiri terluka? Hah!”Alvin berbicara sambil menaiki naa suaranya, Sivia terdiam biasanya ia tak pernah di bentak. Tak sekalipun.

                “terluka?”tanya Sivia masih tidak mengerti.
                “Lo punya otak atau enggak sih?!”


Bersambung ke Wanted - 4

Pesan

Nama

Email *

Pesan *

Penulis kece

  • Dewi Lestari
  • Esti Kinasih
  • Ilana Tan
  • Stephanie Zen
  • Windry Ramadhina

Blog Archive

YOU

Followers

Black Moustache

Pages

Blogger Templates