Wanted - 4

Part yang lalu Wanted - 3


Wanted 4 -  Masa lalu yang terkuak


Sivia mencengkram bajunya kuat-kuat, Oh Tidak...! ini tidak yang seperti ia bayangkan. Pria ini tanpa basa-basi menerjangnya dengan kata-kata yang memilukan. Tetapi,hatinya tak merasa marah ataupun apapun. Itu lah yang membuat Sivia aneh kepada dirinya sendiri.
Ada apa sih dengan dirinya?

                “lo menaruh luka kepada kakak lo, sungguh. Adik macam apa lo?!”

Sivia mencelos, kata-kata itu begitu kasar dan memohoknya, tetapi otaknya tak berhenti bekerja mencari-cari jawaban akan pertanyaannya.
                Apa salah Sivia?

Sivia membuka mulutnya hendak mengatakan sesuatu, tetapi Alvin sudah keburu mengangkat tangannya menyuruhnya untuk diam, “Lo, picik!”

JDAR!

Petir  serasa menyambar disana, Sivia tak pernah sebelumnya mendengar ada yang mengatai nya dengan sangat kejam seperti itu.
Sivia mengerti, Sivia paham dan mulai menyimpulkan semuanya.
Amarah Alvin, tangisan kakaknya Ify, tatapan mata Rio dan Ify, dan.... Hubungan Gabriel.
Tubuh Sivia melemas seketika itu juga ia mengambil nafas dalam-dalam mencoba untuk menenangkan dan mencegah air matanya jatuh.
                “Ka Ify suka sama Rio?”
Sivia mengatakan itu hendak menyucurkan air matanya, Oh Tuhan... sudah berapa lama ia tak memanggil kakak kandungnya itu dengan sebutan ‘kak’ ?
Alvin mengambil nafas kuat-kuat menatap gadis yang ada disampingnya dengan nanar lalu mengangguk pelan.
--
 19 Juni 2009

Catatan pertama,
Aku mengenal lelaki itu sudah lama, dan... bisakah aku jujur bahwa aku sangat tertarik dengannya?
Aku ingin memilikinya tetapi lelaki itu justru tak pernah menoleh ke arahku.

20 Juni 2009

Catatan kedua,
Hari suram,kemarin kami bertengkar hebat sampai-sampai Rio terluka.
Aku ingin menyelamatkan keduanya, tetapi apa daya ku? Akhirnya, aku memilih untuk menolong Alvin. Tetapi Rio salah paham dan mengira aku  ‘lebih’ membela Alvin ketimbang ia sendiri.
Aku sakit, tau kah bahwa Rio lah yang ku nanti selama ini?

--

Gabriel menatap tulisan bulat-bulat khas anak SMA itu dengan nanar.
                “mengapa mereka bertengkar?”tanya nya bingung.

--

Alvin membuang pandangannya ke arah lain, seperti enggan untuk melihat wajah Sivia kali ini.
Berharap sekali Sivia akan melakukan hal yang sama denganya tetapi justru ia malah mentap lurus ke arah Alvin bukan tatapan memuja seperti biasanya, melainkan menatap dengan tatapan aneh. Kosong. Mati.

Air mata mempermulaikan semuanya,
Izinkan aku mengakhirinya.

“tapi kenapa dia gak ng-ngomong?”
Alvin mendengus sebal melihat tingkah laku kelewat polos Sivia,
“apa lo sama dia se-dekat itu sampai dia berani ngomong perasaannya?”
Telak.
Sivia kembali diam tetapi lambat laun kepalanya bergerak ke kanan dan ke kiri, menyimpulkan bahwa ia tak setuju dengan argument nya sendiri.
“Lo suka sama ka Ify?”
Alvin tak menjawab hanya memandang lurus.
--
Sivia melangkahkan kakinya dengan pelan lalu menutup pintu rumahnya, entah sudah berapa banyak air mata yang ia jatuhkan dengan percuma hari ini. Sial, seharusnya tak akan pernah ada air mata bukan?
                “Eh, Sivia sudah pulang. Kamu makan dulu gih.” Tiba-tiba  Oma Zevana menghampiri Sivia dan langsung membelai rambut Sivia dengan kasih sayang.
Sivia mengangguk dan langsung melangkahkan kakinya ke ruang makan dengan lemas.
                “Kamu kenapa,sayang?”tanya Oma Zevana perhatian saat mereka sudah duduk di ruang makan.
                “OMAAA, IFY PULANG.” Tiba-tiba ada suara yang menyentakkan keduanya termaksud Sivia, entah mengapa kakinya langsung bergetar dan lemas mendengar suara bernada ceria itu.
Kakaknya pulang!
 Bagus, sekarang ia harus minta maaf bukan?
Ah, ya.. kakaknya berjalan mendekati meja makan, jantung Sivia berdebar keras untuk pertama kalinya ketika melihat kakaknya itu berjalan ke arahnya.
Kakaknya memperlihatkan senyuman terbaiknya bagaikan tak ada masalah dan langsung duduk di meja makan ia menyendoki nasi dan ketika hendak mengambil lauk Ayam buatan Oma Zevana tiba-tiba tangan mungil kakaknya itu di pukul oleh Oma Zevana.
                “Itu buat Sivia, kamu makan yang lain aja. Oma udah masakin khusus buat dia,”
Ify melotot tak percaya ketika mendengar kata-kata itu mulutnya menganga tak percaya, sedangkan Sivia hanya bisa mendunduk dalam-dalam takut menatap mata bening itu.
Satu hentakan keras dari sendok yang di lempar Ify ke piring dan ia langsung berjalan menjauhi meja makan , tetapi sebelum itu Sivia sempat mendengar kata-kata yang sangat sukses menggores hatinya.
                “Lo selalu menang, selamat!” seharusnya ia bangga di puji seperti itu tetapi jika mendengar nada yang sangat sinis itu Sivia hanya ingin menangis saat itu juga.

--

Jika ada yang berkata masa lalu hanya untuk di lupakan dan di buang itu hanya untuk mereka yang tak pernah ingin maju dan berusaha untuk menjadi yang lebih baik. Ya begitu kata Ify jika ia mengingat-ingat alangkah kejamnya masa lalu—yang mungkin berlaku sampai sekarang. Yang ia alami sampai sekarang.
Saat ini ia sedang menangis, mencengkram kuat bajunya, melempar apa saja yang bisa ia lempar, menjambak-jambak rambutnya dan berteriak sepuasnya.
Ini tak adil!
Kenapa hidupnya harus se-rumit ini? Sejak kecil ia selalu di perlakukan berbeda di keluarganya sendiri.
Apasih hebatnya anak itu?
Masih teringat jelas di bayangan kepalanya disaat ulangtahunnya terjadi, dan disaat itu...
-          Flash back On –
“Ma, hari ini ulang tahun Ify loh.” Anak kecil berusia sekitar 5 tahun berjalan secara tergopoh-gopoh mendekati ibunda nya dengan semangat, tetapi sayang sang Ibunda itu justru asik menyisir rambut anaknya yang satu lagi seperti tak memperdulikan sang anak kecil 5 tahun itu.
                “Iya, trus Ify mau minta apa?” tanya Ibunda nya itu akhirnya.
                “barbie,Ma!”
Ibunda itu alih-alih mengangguk, tetapi tidak ia justru menggeleng kuat, “Gak boleh. Barbie nya kan sudah banyak.”
                “Yah, itu kan barbie Sivia,Ma.”
                “Sama saja, punya kamu dan punya Sivia kan satu.”
Anak kecil yang di sisir Ibunda menoleh dan memasang tampang imutnya, “Sivia juga mau barbie dong ,Ma.”
Tak seperti permintaan sang kakak , Ibunda justru mengangguk dan menggandeng anak bungsunya dengan semangat, “Yaudah ganti baju dulu ya,sayang.”
                “Ma, aku juga mau.”
                “Ngalah dong Ify, adiknya kan masih kecil.”
Ify—anak kecil yang minta dibelikan barbie sekarang hampir menangis, “tapi Ify ulang tahun sekarang,Ma.”
                “Iya mama tau! Ngalah dong, kamu kan bisa kapan-kapan.”

-          Flashback Off –

“ka Ify?”terdengar suara halus dari dalam kamar Ify.
Ify yang sekarang sudah terlihat sangat kacau tak memperdulikan suara itu, lebih tepatnya berusaha tak memperdulikannya.
        “Ka, Ini Sivia.”Oke, baiklah. Mungkin sekarang Ify sedang berhalusinasi atau apalah namanya itu tak mungkin sekali adiknya memanggilnya dengan sebutan ‘kakak’, bukan?
        “Ka... Sivia mau ngomong.”
Ify mengerjap, ini sudah 3 kali. Hebat sekali halusinasi nya terjadi disaat waktu yang tak tepat!
        “Kak...”
Sivia menutup mulutnya menahan isakan kecil yang keluar dari mulutnya saat itu juga, “Maafin aku ka...”
--

30 Mei 2010

Catatan ketiga,
Final sudah. Alvin pergi ia benar-benar pergi, meninggalkan aku dan Rio.
Kami sedih tapi tak ada satu pun kata yang terucap, Rio menyesal ia merasa lalai dan dia kacau sekarang.

--

Secercah harapan itu selalu ada walaupun hanya secuil setitik ataubahkan hanya sebuah pemikiran.

--
        “Ada apa?” tanya Ify dingin dengan secara tiba-tiba keluar dari dalam kamarnya menatap Sivia berani bahkan seperti menantang.
Yang di lihat seperti itu malah menyunggingkan senyuman penuh kemenangan dan puas, seketika ia memeluk Ify dengan erat membenamkan wajahnya ke atas pundak kakak nya tersebut, “Maaf...” hanya 1 kata itu yang mampu ia ucapkan.

Ify bak tersihir oleh benangan kepala Sivia tetapi di detik berikutnya ia sadar.
        “Lepas!” teriaknya histeris seperti kesetanan.
        “Lepas! Lepasin gue! Lepas!” ia terus berteriak-teriak, membuat Sivia terkejut lalu langsung melepaskan Ify.
Ia menutup matanya tak percaya tentang apa yang barusan di alaminya ingin berteriak rasanya ketika mendapat penolakan dari seseorang apa lagi seseorang itu kakaknya sendiri!
        “LO! Jahat! Lo selalu nge-rebut kebahagiaan gue, lo selalu ngerebut orang yang gue sayang! Apa maksud lo sekarang?! Apa mau lo sekarang? Puaskah lo buat gue menderita selama ini? Puas kah lo udah buat gue hampir gila dan nyaris putus asa?! PUAS?”
        “Lo adik gue, tapi lo tau apa yang gue rasain? GUE GAK PUNYA ADIK! Hidup gue bagai sebatang kara, apa lo pernah ngerasain rasanya pengen makan sesuatu tapi Oma lo sendiri ngelarang hanya karena makanan itu buat orang lain? Apa lo pernah ngerasain pengen punya boneka barbie di hari ulang tahun lo tapi Ibu lo lebih milih ngabulin permintaan barbie dari orang yang sebenernya gak membutuhkan amat? Dan apa lo pernah ngerasain kalo ORANG YANG LO CINTA GAK SUKA SAMA LO MELAINKAN ORANG LAIN? DAN ITU ORANG TERDEKAT LO! SAUDARA KANDUNG LO SIVIA!”


Bersambung ke Wanted - 5

Pesan

Nama

Email *

Pesan *

Penulis kece

  • Dewi Lestari
  • Esti Kinasih
  • Ilana Tan
  • Stephanie Zen
  • Windry Ramadhina

Blog Archive

YOU

Followers

Black Moustache

Pages

Blogger Templates