Wanted - 5

Part yang lalu : Wanted - 4

Wanted - 5: Pria itu menangis

        “Tapi kak, gue gatau apa-apa. Selama ini lo selalu membentengi diri lo sendiri, gue fikir lo emang kayak gitu setelah kita pisah.”
        “gue kayak gini karena gue tau orang-orang gak akan pernah ada yang noleh ke diri gue. Mereka sudah terlalu pen-cap gue sebagai pembunuh!”
                “pem-pembunuh?” Sivia mengulangi perkataan Ify dengan bingung.
                “Siapa yang pembunuh,kak?”
Ify terdiam menyadari kekeliriuannya dan emosinya yang tak bisa ia control.
-------SMStory-------
                “kayaknya lo emang selalu mencampuri urusan gue ya!”ucap Rio geram sambil merampas buku warna pink tosca yang ada di genggaman Gabriel.
Gabriel mengangkat sebelah bibirnya,tersenyum sinis penuh kemenangan ketika melihat emosi Rio yang meluap. Rencananya berhasil.
                “apa urusan Ify dengan lo dan Alvin?”
                “dia sahabat gue.”jawab Rio singkat.
                “harusnya mantan sahabat Rio. Secara, lo ngeliat dia udah kayak alien. Gak kenal.”
Rio mendengus menatap Gabriel secara dengki, kembarannya ini selalu membuat darahnya mencapai titik paling tinggi dan akhirnya membuat kepalanya pusing karena berdebat.
                “To the point aja.”
                “Oke, gue mau bilang ke elo. Kalo Alvin itu Rival gue dulu, lo inget? Waktu gue pulang dengan babak belur dan dia menghilang? Dia baru aja kalah balap motor dan gak terima atas kekalahannya, konyol banget sahabat lo itu. Gue ga terima gue janji akan kejar dia dan balas semuanya bukan masalah sakitnya,tapi lebih tepat malu.”
Rio menatap keluar jendela tak ingin mendengar tetapi tak bisa.
                “and Finnaly, you see? Dia ada disini. Tapi dengan keadaan ewh... menjijikan! Nge-drugs­ dan dugaan penderita HIV. Lo pikir gue akan ngotorin tangan gue untuk membuat wajah seorang junkies yang harapan hidupnya udah dikit?”
                “Apa mau lo?” tanya Rio yang benar-benar sudah gerah dengan semua ini.
Gabriel tersenyum sinis menyadari kemenangan atas dendam masa lalu nya akan segera terbalaskan, “Balaskan dendam gue.”
                “Cis... jadi itu alasan lo minta gue untuk ga biarin Alvin gitu aja?”
                “Good memory, ga salah lo kuliah di Kedokteran. Lo cerdas,Rio!”
Rio melotot memandangi Gabriel secara tajam, sungguh. Ia baru menyadari betapa kejamnya saudara kembarnya itu.
-------SMStory-------

Sejak kejadian perang terbuka antara Sivia dan Ify. Ify jarang keluar kamar, bahkan hampir 1 minggu ia bolos untuk kuliah dan Prakter Coas nya.
Sivia yang menyadari itu mendadak langsung harap-harap cemas,ia tak pernah melihat kakaknya sampai sebegini putus asanya
Tak ada cara lain, ia harus membuka pintu kamar Ify. Ia pun mendekati ruang tidur Ify dan membuka knop pintunya dan gak dikunci! Bagus, lantas ia bisa masuk dengan leluasa bukan?
Sivia berjalan dan tersenyum melihat Ify terbaring dengan memunggungi nya, arah badan perempuan itu menghadap ke Jendela, seolah ia sangat membutuhkan cahaya itu untuk menghapus hujan di hidupnya.
                “Kak, makan ya.” Sivia mengguncang tubuh Ify dengan pelan, menyuruhnya untuk bangun
Tetapi, tak ada respon yang ia dapat, ia pun mengguncang tubuh Ify lagi. Kali ini lebih keras. Sampai akhirnya Sivia memberanikan diri untuk membalikan tubuh kakaknya itu.
Tetapi matanya sukses melotot saat melihat keadaan kakaknya, lututnya mendadak lesu dan air matanya nyaris tumpah.
                “AAAAAA, OMAAAAAAAAAA!”

-------SMStory-------

Alvin memandang lesu ke arah luar jendela nya, dimana Ify? Tumben sekali ia tak mengunjungi nya 1 minggu ini. Hatinya terus menerus bertanya-tanya akan dimana Ify dan kabar gadis itu.
Mungkin ia sudah gila, karena berfikir Ify mulai terpuruk atau justru bunuh diri karena patah hati? Ah, pernyataan pertama dan kedua memang ngaco! Ify realistis, tak mungkin bodoh dan akan mengakhiri hidupnya karena cinta?
Perlahan ia mendengar derap langkah seseorang,bukan langkah kecil. Melainkan langkah yang besar,langkah laki-laki.
Krek..
Pintu ruang rawat inapnya terbuka, menampilkan siluet sosok yang dikenalnya dari lama,sosok yang tak pernah hilang dari ingatannya, sosok yang jauh namun sangat dekat.
Sosok Rio.
                “Vin.” Hanya itu, hanya kata itu yang bisa Rio ucapkan, matanya memandang Alvin dengan nanar, ah.. sahabatnya itu masih sama seperti dulu tetap tampan dan pancaran matanya perpaduan antara teduh dan tajam.
Siapapun yang melihatnya akan mencelos dan riang seketika, hanya... Tubuh sahabat itu lebih kurus karena zat Adiktif yang disalah gunakannya masuk ke tubuhnya.

                “apa?” tanya Alvin singkat, tetapi jauh dalam hatinya ia ingin sekali menanyakan apa kabar sahabatnya itu? Baik kah hidupnya? Ah, semoga saja. Siapapun akan terus berusaha yang  terbaik untuk orang yang di sayanginya. Mesikup hanya dengan doa, meskipun tak diketahui, dan meskipun orang itu membenci kita karena Luka masa lalu.
                “Kalo lo mau ngehajar gue silahkan. Atau mau bales dendam abang lo, gue ikhlas. Mungkin gak ada gunanya juga gue hidup saat ini, semua orang pergi dan mundur teratur sekarang pergi meninggalkan gue tanpa pamit. Bahkan orang yang gue percaya-in plus gue sayang membenci gue sekarang, jadi untuk apa gue hidup?” kata Alvin sambil menundukan kepalanya, ia menarik tangannya dan memijat keningnya, pening akan semuanya.
Rio menganga tak percaya, Oh Ampun! Bagaimana ia bisa tau rencana Gabriel, dan.. kata-kata Alvin tadi benar-benar memohoknya,menyindir nya bahkan memporak-porandak kan pertahanannya. Tidak! Ia seorang laki-laki, dalam keadaan apapun ia tak boleh menangis.
                “Ya, untuk apa lo hidup? Itu benar. Sangat benar, lo harus nya mati dari dulu.”
Bagus, mengapa sekarang ego nya yang menguasai mulutnya? Ah, sialan.
                “Apa mau lo sebenarnya ,Yo?”
                “Apa mau gue? Oke. Mau gue lo inget perbuatan lo dulu,Vin. Disaat lo pengecut untuk ngebela diri lo sendiri!”
Alvin terdiam,pikirannya melayang kemana-mana, menguap tetapi masih sempat ia hirup.
--Flashback On –
                “Mau kemana,Vin?”tanya Rio sambil menepuk bahu Alvin pelan, Alvin terkesiap dan langsung membalikan badannya menghadap Rio.
                “pulang.”jawabnya dingin.
                “bareng yuk.”Rio menarik tangan Alvin, tetapi sayang tarikan tangan itu di tolak mentah-mentah oleh Alvin.
                “pergi dan jangan pernah deketin gue lagi.”ucap Alvin dan langsung pergi meninggalkan Rio sebelum tangannya di cekal kuat secara tiba-tiba oleh sahabatnya itu yang memandang dirinya dengan tatapan murka.
                “Lo kenapa ,Vin? Ada apa lagi sih lu?”
                “gue gak sudi temenan sama kembaran orang yang hampir nyelakain gue.”
Rio memandang Alvin dengan mulut menganga, “maksud lo Gabriel?”
                “siapa lagi, dia doang yang tau masalah gue setelah lo sama Ify, dan dia juga yang ngebeberin sebagai senjata nya. Sialan. Dan dia saudara lo, kembar lo.”
Geram, Rio langsung menerjang tubuh Alvin. Oke, baiklah. Inikah kelakuan remaja  Indonesia jaman sekarang yang lebih mengandalkan kekuatan fisik dari pada kecerdikan berfikir? Jangan salahkan mereka, Tolong.
Karena setiap orang akan melepaskan control nya ketika titik terlemahnya sudah tak sanggup lagi menopang semuanya.
Dan Rio telah menyentuh titik terlemahnya karena sahabatnya sendiri, ia paling tak bisa jika harus mendengar orang-orang menjelek-jelekan keluarga nya seperti ini.
Bug.
Satu hantaman keras, hantaman yang benar-benar mampu merobohkan tubuh kekar Alvin.
                “Lo gak akan pernah ngatain gue lagi ,Alvin.”
Alvin berusaha bangkit dan langsung menerjang tubuh Rio balik tetapi sayangnya keberuntungan tak di pihak Alvin, Rio justru langsung mencengkal tangan Alvin dan memutar tubuh pria itu sehingga membuat Alvin menahan sakit yang teramat, Rio langsung menjatuhkan tubuh Alvin dan meletakkan kakinya di dada pria itu bukan, bukan hanya meletakkan melainkan langsung menekan dan menonjok pipi Alvin secara bertubi-tubi.
Di arah lain seorang perempuan sedang berjalan dan melihat kejadian itu, kejadian yang benar-benar memohok untuknya, tanpa sadar ia menjatuhan buku-buku yang tadi ia pegang,tangannya menutup mulutnya.
                “RIO STOOOP!” teriak Ify histeris dan langsung menghamburkan dirinya kedalam dekapan Alvin.
                “tolong, jangan kayak gini...,”
Rio menatap punggung Ify dengan nanar, benarkah perempuan ini lebih memilih Alvin dari pada dirinya?
                “Mulai sekarang, gue benci....,”ucap nya masih menggantungkan ucapannya di awan.
                “sama kalian berdua.”
--Flashback Off—

-------SMStory-------
Sivia PoV

Aku tak tahu harus bagaimana lagi sekarang, ah kejadian itu benar-benar membuat batinku sakit. Waktu itu, aku ingin mengantarkan makanan untuk ka Ify karena aku tahu ia belum makan selama 3 hari berturut-turut. Sungguh,aku menyesal telah mengacuhkan ka Ify selama ini, aku berfikir bahwa Ka Ify selama ini yang menghindariku ternyata aku salah. Keduanya justru saling menjauh.
Dan,  aku melihat kak Ify tergeletak tak berdaya di atas tempat tidur, tubuhnya bagaikan mayat. Aku langsung berteriak dan meminta bantuan kepada Oma.
And, here I am. Dirumah sakit, kak Ify benar-benar tak berdaya.
Kemudian aku berfikir hanya ada satu orang yang bisa aku mintai pendapat untuk saat ini.
-------SMStory-------
                “Alvin” aku memanggil nama itu, susah di ucapkan memang tetapi cuman dia lah yang bisa membantu Ify kali ini. Tapi, mengingat kejadian tempo hari benar-benar membuat hati ku terkoyak.
Ku lihat Alvin menoleh ke arahku, astaga. Tatapan itu..., jujur aku sangat gugup di tatap seperti itu.
Aku pun mencoba mengatur detak jantungku, jangan sampai Alvin mendengarnya.
                “kasih tau gue, gimana caranya bisa membuat ka Ify balik lagi. Keadaannya mengkhawatirkan.”
Alvin tersenyum, ya aku melihat lekungan itu.
                “seharusnya lo cari Rio, bukan gue.”jawabnya.
-------SMStory-------

Aku sangat shock mendengar bahwa yang dibutuhkan ka Ify adalah ka Rio. Tapi aku memakluminnya, lantas aku mencari ka Rio dimanapun ia berada.
                “Ka Rio.” Aku memanggil nya, dia sekarang sedang memunggungi ku.
                “Ada apa?”
Aku berjalan ke dekat ka Rio, ia sedang menerawang. Ah,orang ini adalah orang yang ia tolak bukan? Dasar, tak tahu diri sekali kau Sivia sudah menolak orang malah sekarang meminta bantuannya.
                “kaka tahu kenapa aku nolak kaka?”
Ku lihat Rio menyirit sukses ,aku tersenyum. “Karena walaupun aku gaktau, tapi aku bisa merasakan bahwa ada hati lain yang membutuhkan hati kakak dan itu bukan aku kak.”
                “Siapa?”
                “seseorang yang sedang ada di ruang rawat melati nomer 38.”


-------SMStory-------
Author PoV

Sivia sudah menyelesaikan tugasnya dengan baik, lantas ia pun berjalan-jalan disekitar koridor rumah sakit lalu menemukan Alvin yang sedang berusaha untuk berdiri. Ah, pria itu masih tetap berusaha rupanya.
                “kamu kenapa?” tanya Sivia sambil berlari kecil ke arah Alvin.
Dingin.
Itulah hal yang pertama kali Sivia rasakan, tangan Alvin sangatlah dingin. Ia melihat juga bibir Alvin yang sudah pecah-pecah tak karuan.
Ada apa pria ini sebenarnya? Tanya nya dalam hati.
                “Sa-saya gak kuat lagi.”
Tes.
Sivia merasakan ada air di tangannya, ia menengok ke arah jendela. Tidak hujan dan tidak mungkin pondasi rumah sakit ini bocor.
Ia mendongak ke arah Alvin.
Pria itu menangis.


Bersambung ke Wanted - 6


Pesan

Nama

Email *

Pesan *

Penulis kece

  • Dewi Lestari
  • Esti Kinasih
  • Ilana Tan
  • Stephanie Zen
  • Windry Ramadhina

Blog Archive

YOU

Followers

Black Moustache

Pages

Blogger Templates