Wanted - 6 ( Ending )


Wanted - 6 ( Ending ) : Berharap Happy Ending....



Rio terperangah ketika memasuki ruangan serba putih tersebut. Seharusnya ia tak harus heran karena bukannya ia bekerja menjadi seorang dokter? Tetapi, bisakah kalian mengerti posisinya saat ini? Didepannya sekarang ada cewek berambut panjang memunggunginya, ia tau arah tatapan cewek itu, ke jendela. Tetapi bukan itu yang membuat dadanya sesak. Melainkan kondisi cewek itu sekarang.
Ify, ya memang dialah cewek tersebut. Keadaannya benar-benar kacau sekarang.
Oh ada apa dengan gadis itu saat ini?
                “Ify..” Rio berusaha memanggilnya, tetapi sepertinya gadis itu lebih memilih dunia khayalnya.
Ify tetap menghadap ke arah jendela, Rio benar-benar sakit hati melihat kondisi Ify sekarang, tubuh wanita itu benar-benar kurus bahkan mata cewek itu hitam kelam tak bersinar seperti biasanya.
                “Fy..,”
Ify menoleh ke arah Rio dan langsung melotot melihat wajah Rio.
                “Hahahahhaha.....,” tau-tau Ify tertawa, Rio menyiritkan keningnya karena tak tahu kenapa cewek itu tertawa.
Tetapi kemudian hatinya sakit.
Kenapa cewek ini selalu  membuat dirinya sakit? Tahu kah dia bahwa Ify lah selama ini yang mampu membuat nya lemah tak berdaya?
                “Mati.... Jahat.... gue mau mati...., jahat semua jahat.” Ify terus menerus mengucapkan kata-kata ‘jahat’ dengan lirih, Ah. Apakah cewek ini gila?
                “Siapa yang jahat,Fy?” tanya Rio pelan sambil mengusap pelan rambut Ify.
Ify menoleh ke arah Rio, mendadak wajahnya berubah menjadi takut sekaligus murka dalam waktu yang bersamaan.
                “Pergi! Pergi kamu orang jahat! Pergi! Jangan dekat! Pergi!”

-------SMStory-------

“kamu kenapa? Kenapa harus seperti ini?” Sivia terus meracau tanpa henti ketika tubuh Alvin sekarang justru menggigil hebat.
“aku mau mati saja, gak kuat seperti ini terus...,” Alvin memeluk dirinya sendiri, mungkin dingin yang menyerang tubuhnya semakin menjadi-jadi. Dan itulah yang membuat Sivia pilu.
“ada apa sebenarnya Alvin? Apa yang bisa saya bantu?”tanya Sivia panik.
Alvin tak menjawab, ia hanya melirik tasnya. Sivia mengerti, ia lantas berlari dan meronggoh tas tersebut tetapi.... tiba-tiba tubuhnya mematung ketika melihat benda apa yang ia temukan.
“Gakboleh Vin.....,”
-------SMStory-------
Masa lalu tak akan membuat mu lebih baik, ia justru akan membuat mu terkekang seperti disangkar burung.
-------SMStory-------

“lo masih dendam sama anak itu?” Riko bertanya sambil menekan puntung rokoknya dengan lihai, lalu menatap Gabriel secara misterius.
“udah lah,Yel. Kejadiannya toh udah lama juga, gausah diungkit lagi ntar adanya lo capek sendiri.”
“Gak  bisa,Ko! Anak itu harus dikasih pelajaran.”
Riko tertawa keras mendengar kata-kata childish dari mulut kawannya tersebut, “Terus kalo lo udah ngasih pelajaran  apa yang akan terjadi selanjutnya? Lo mau bunuh dia? Gak liat kondisinya aja udah diantara hidup sama mati. Lagian, lo mau masuk ke penjara di usia muda? Lo belum kawin bro!”
Gabriel mendengar lawakan jayus itu dengan muak. Justru sekarang ia memandang Riko dengan bengis,  “Gak lucu.”
                “Oke oke, gue ngerti. Tapi, ada yang gak lo ngerti ,Yel.”
                “Apa?”
Riko menarik nafasnya sebentar, “Alvin lah yang menolong lo waktu kalah balapan motor itu.”
                “Nolong gimana? Jelas-jelas dia ngehajar gue.”
Riko tertawa miris, “Iya ngehajar lo, karena dia tahu bahwa lo akan mati saat itu juga, Lo gak inget apa-apa Yel?”
                “Maksud lo?”
                “Gabriel, lo konyol banget tau gak? Jelas-jelas komplotan bang Dayat waktu itu pengen banget ngebunuh lo sampe-sampe mereka bawa gir! Gila, serem bro. Gara-gara lo udah ngalahin mereka di arena balap itu....,”
                “Hah?” Gabriel melongo abis-abisan. Memang, waktu dulu ia pernah menjadi tawanan komlotan Dayat dkk. Tapi ia tak pernah berpikir sampai akan dibunuh.
                “Jangan di potong dulu.”
Gabriel diam dan langsung mengangguk.
                “Alvin tau rencana Dayat, lantas ia mendatangi Dayat saat itu juga dan membuat semacam perjanjian konyol.”
Perjanjian konyol?
                “Perjanjian konyol itu berisi bahwa Dayat menyerahkan sepenuhnya ke tangan Alvin, dalam kata lain Dayat menyuruh Alvin ngebunuh lo. Tapi, itulah baiknya Alvin. Dia sama sekali pinter dalam urusan kayak gini, so dia hanya memukul lo itu pun karena didepan Dayat, ya Alvin bilang sih biar Aktingnya lebih oke dia buat lo sampai babak-belur saat itu....,”
                “Karena Dayat udah ngelihat lo kayak orang setengah idup, dia lantas ngambil kesimpulan kalau Alvin ngejalanin tugasnya dengan baik. Akhirnya ya kayak sekarang deh, lo salah paham.”
Gabriel terpaku mendengar tutur kata Riko, benarkah semua ini? Benarkah ia salah paham? Ia lantas melihat manik mata Riko mencari kebohongan.
Sial, semua aura yang dipancarkan Riko adalah kejujuran.
Dan saat itu Gabriel menyesali semua dendam masa lalunya.

-------SMStory-------
'Cause I wanna wrap you up
Wanna kiss your lips
I wanna make you feel wanted

-------SMStory-------

“Tolong..,” Alvin meminta sambil tangannya menengadah ke arah Sivia.Sivia menggeleng keras lalu melempar benda yang ditemukannya tadi ke luar jendela.
“aku gak mau kamu kalah sama obat haram itu,Alvin! Kamu harus kuat!” teriak Sivia frustasi.
Ya, benar saja benda yang ditemukan Sivia tadi adalah Zat Adiktif terlarang yang biasa di sebut narkoba. Bukan hanya satu, tetapi banyak dari mulai yang berbentuk pil sampai suntikan.
ini semua membuat hati Sivia seperti tercabik-cabik.
“kenapa harus kamu,Vin?” tangisnya pecah, dan Sivia menyesali itu. Seharusnya ia tak usah mengeluarkan air mata bagaimanapun juga yang sedang sedih disini adalah Alvin bukan dirinya.
“karena memang saya yang gak pernah di inginkan untuk melanjutkan hidup.”
Sivia merengkuh tubuh kekar itu tanpa permisi, ia tak tahu mengapa melakukan ini. Yang jelas hatinya ingin sekali melakukannya, air mata mengalir deras di bahu pria itu.
                “Kamu salah, aku menginginkan kamu...,”
Alvin terperangah mendengar tutur kata Sivia yang terdengar sangat jujur tersebut, ia lantas tak dapat lagi membendung tangisannya lagi. Entahlah, di dekat gadis ini ia merasa di inginkan. Dan itu membuatnya mempunyai semangat hidup lagi.
-------SMStory-------
And I wanna call you mine
Wanna hold your hand forever
Never let you forget it

-------SMStory-------
Ify terus memukul Rio tanpa ampun tetapi Rio tak membalas ataupun marah bahkan sekarang setiap pukulan Ify adalah hal yang paling menyakitkan dalam kehidupannya sekarang.
Jujur, ia sangat mencintai Ify dan..., melihat keadaan gadisnya seperti ini sangatlah membuatnya terpukul.
Soal Sivia, perlu diketahui bahwa Rio tak benar-benar mencintai Sivia. Bisa dibilang gadis itu hanyalah pelampiasan agar Rio mempunyai alasan menjauhi Ify, ia memang sempat marah kepada Ify gara-gara kasus beberapa tahun silam yang lebih membela Alvin ketimbang dirinya, tetapi sekarang ketika melihat kondisi Ify seperti ini ia sadar bahwa sebenarnya hanyalah Rio yang di hati Ify. Kasus beberapa tahun silam hanyalah sebagian dari kegundahan Ify akan memilih siapa yang pantas memerlukan pertolongannya.
Oh Tuhan, ampunilah kesalahan Rio sekarang.
                “Fy, aku mohon berhenti kayak gini.” Rio menarik kursi roda tersebut dan memaksa Ify agar menghadap dirinya.
                “Aku sayang kamu,Fy..”
Ify menatap Rio takjub, lantas ia mendorong tangannya dan menyentuh pipi Rio, “kamu sayang aku?” tanya nya tak percaya.
Rio menganggukan kepalanya pasti, “ya aku sayang kamu.”

PLAK!

Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Rio, Rio terperangah ia lantas mendongak dan menatap Ify yang melihatnya dengan tatapan murka.
                “Kamu sayang aku? Kamu sayang Sivia? Kamu sayang siapa sebenarnya?!” Ify meluapkan emosinya secara tiba-tiba. Tetapi dalam seperkian detik berikutnya ia langsung mendudukan kepalanya lalu tertawa lagi.
                “hahahahahha...,”
Ya Tuhan..., kalau boleh Rio menghilang dan mati sekarang ia akan ikhlas melakukannya dari pada harus melihat gadis yang ia cintai dalam keadaan seperti ini.
Tetapi, tunggu! Entah mengapa tiba-tiba Ify mendongak dan menatap mata Rio. Berbeda dengan tadi sewaktu ia menatap Rio dengan tatapan amarah, justru sekarang tatapan itu mengandung keteduhan yang mendalam.
                “Aku juga sayang kamu Rio....”
Rio menatap Ify dengan tatapan terharu, lantas ia meraih tangan Ify dan menggenggam tangan itu dengan erat seperti tak akan melepaskannya lagi.

-------SMStory-------
10 Tahun yang lalu.....

                “Ify kamu sudah siap,sayang?” tanya Ibunda Ify dengan lembut sambil menyingkirkan anak-anak rambut nakal Ify yang menutupi mukanya.
Ify mengangguk ia lantas langsung berlari ke mobil dan memeluk boneka winnie the pooh nya dengan erat.
                “Mas, perasaan aku gak enak deh. Mending kita gak usah pergi aja kali ya?” tanya Ibunda Ify khawatir ketika memasuki mobil.
Ayah Ify tersenyum dan membelai rambut Ibunda Ify dengan mesra, “Gak akan ada yang terjadi, kita akan bersenang-senang.”
Mau tak mau Ibunda Ify sebagai istri menuruti perintah suaminya,
Di perjalanan tawa serta kebahagiaan menyelimuti atmosfir di mobil tersebut, bahkan sesekali Ify bernyanyi dan menghibur Ayahnya yang tampak kelelahan akibat menyetir terlalu lama.
Tetapi sayangnya, kebahagiaan itu sepertinya harus terenggut oleh kesedihan yang sangat amat tak mereka duga.
sampai di jalan mereka tiba-tiba saja di jegat oleh sekumpulan orang yang tak di kenal dan orang itu langsung memecahkan kaca mobil yang ada di samping Ify. Lantas Ify berteriak dan menangis kencang.
Ibunda Ify serta ayah Ify tak tahu harus berbuat apa, penjahat itu langsung membuka pintu mobil secara paksa dan menarik tangan Ify keluar.
                “serahkan harta kalian atau anak ini mati?!” ancamnya.
Ayah Ify yang keburu panik langsung mendorong orang itu dan menyelamatkan putri kandungnya, ia langsung memeluk Ify yang tampaknya masih shock sama keadaan yang sedang terjadi.
Penjahat itu diam-diam mengambil pisau kecil yang ia sembunyikan di saku celananya.
Keparat! Orang tua yang ada didepannya kini ternyata bodoh sekali kalau hanya mendorongnya, apa sih susahnya untuk menyerahkan harta nya saja? Pasti penjahat ini akan pergi dan langsung tak menganggu liburan mereka.
Tetapi, ternyata lelaki tua ini ingin bermain-main dulu dengannya.
Ia langsung memberikan serigai licik dan menancapkan pisau kecil itu di bagian belakang kepala Ayah Ify, tepatnya di bagian otak kecilnya.
                “AAAAAAA!” Teriak Ibunda Ify saat melihat suami tercintanya harus dibunuh dengan cara seperti itu.
Sang pelaku panik tak menyangka tangan bodohnya tak tepat sasaran rencananya ia hanya ingin menggoreskannya di leher saja tak sampai menusuk, ia melihat ke kiri dan ke kanan dan secepat kilat ia langsung lari menyelamatkan dirinya agar tidak ditangkap dan diamuk masa.
Ibunda Ify berlari mendekati suaminya yang sudah tersungkur di tanah, lalu ia mengambil kepala suaminya dan di topangkannya di pahanya.
Yang ia lakukan hanya menangis dan menangis, tetapi tiba-tiba saja tatapannya beralih ke Ify, ia jambak rambut Ify dan langsung mendorong tubuh mungil anak itu.
                “Gara-gara kamu! Orang yang saya cintai mati, PEMBUNUH!”
Pembunuh. Pembunuh. Pembunuh.
 Kata-kata itu terus menerus terngiang-ngiang di telinga Ify kecil, lantas ia menangis saat itu juga.
                “Aku.... pem-pembunuh?”

Kembali ke masa sekarang....
               
                “Pembunuh.” Ify berbisik kepada dirinya sendiri, kejadian 10 tahun lalu terngiang lagi dikepalanya.
                “PEMBUNUUUUUHHHHHHHHHHHHHHHHHHHH!!! Kamu pembunuh Ify pembunuh!” teriaknya.
Sivia yang mendengar tutur kata Ify hanya bisa menutup mulutnya di balik pintu ia sudah mendengar semua nya dari Oma Zevana tentang kematian ayahnya, yang jelas disaat itu ia sedang berada di negara Oma Zevana. Sivia bahkan tak sempat melihat wajah ayahnya untuk yang terakhir kali.
Tetapi Sivia tak tahu bahwa Ify lah yang menjadi penyebab kematian Ayahnya, yang Sivia tahu setelah kematian itu ia dan Ify selalu di perlakukan berbeda.
Tiba-tiba saja Ify mengambil gunting rumah sakit yang memang selalu tersedia di laci untuk membuka obat.
Sivia yang melihat itu langsung panik dan melemparkan gunting itu tetapi naas rupanya tangannya terluka akibat gesekan yang di timbulkan gunting itu sendiri.
Ify melihat darah yang mengucur di lantai, tangannya bergetar. Tidak! Kejadian 10 tahun yang lewat tidak boleh terjadi lagi, ia bukan pembunuh!
                “Sivia.....,” lirihnya.
Sivia menangis dan langsung memeluk kakak kandung nya tersebut, ia tak marah karena sudah terluka karena Ify, ia juga tak marah karena harus kehilangan kasih sayang seorang ayah akibat Ify.
Ia marah sama kondisinya sendiri yang tak pernah peka terhadap permasalahannya.
Ini saatnya untuk merubah segalanya.
                “Aku sayang kakak...,” bisiknya.
Ify menegang tetapi ia membalas pelukan Sivia juga, “Aku juga,”

Selesai.

Pesan

Nama

Email *

Pesan *

Penulis kece

  • Dewi Lestari
  • Esti Kinasih
  • Ilana Tan
  • Stephanie Zen
  • Windry Ramadhina

Blog Archive

YOU

Followers

Black Moustache

Pages

Blogger Templates