[ Another ] SPECIAL ABOUT US

Burung-burung pun bernyanyi
Bunga pun tersenyum
Melihat kau hibur hatiku

Daun-daun tengah menari-nari ditengah-tengah pusara-pusara yang berjejer rapih tersebut, mata Gabriel masih menerawang.
Ini sudah 6 tahun kepergian Shilla, tapi mengapa ia tidak bisa melupakannya sedikitpun? Mengapa sangat sulit? Bahkan ketika ia sudah mempunyai Lia. Ah, gadis itu –Lia. Dimana ia sekarang berada? Entahlah, yang pasti hubungan mereka telah berakhir dengan tragis.

Lia selingkuh.

Dada gabriel seakan kehilangan oxygen ketika harus mengingat pengkhianatan dari –mantan pacarnya tersebut, pengkhianatan yang menurutnya tak adil bukan?

Ini kah karma?

Karma akan ia yang sudah menyia-nyiakan Shilla dahulu?

Oh Tuhan! Kaki nya terasa lemas lagi, ia melangkahkan kakinya dengan cara menyeret paksa,mencoba menghirup udara yang ada.

Tapi sulit,sangat sulit.

Gabriel meletakkan Bunga Lily di atas pusara tersebut, tersenyum sedikit.
Bunga lily adalah bunga kesayangan Shilla setelah bunga mawar putih
“ngapain sih Shill?”
“Ini loh, bunga Lily! Bagus kan. Aku suka ,Yel! Bunga ini bagaikan jiwa ku, kecil dan sangat misterius. Ia mekar tetapi tidak sepenuhnya, ah… bunga yang indah!”
Mendadak ingatannya tentang Shilla berkelebat lagi bagaikan kaset yang diputar kembali. Gabriel mendengus.
“Shill, bisa lo denger gue gak?”

Tak ada jawaban.

“Gue sayang banget sama lo, ah bukan. Tapi cinta! Cinta banget, gue udah mutusin Lia loh. Lo seneng kan? Harus dong, kan hati gue cuman buat elo yak kan?”

Diam.
Hening.

“gue selalu berharap ada bintang jatuh, tau gak kenapa? Gue cuman mau dan sangat mau lo ada lagi, disamping gue,Shil…”

“kyaa! Iel! Nyolot sekali andaa, jangan tinggalin guee! Gue takut gelap iyel plis jangann!”

Gabriel menggelengkan kepala nya, ah. Sial, ia terus-menerus dihantui kenangan akan Shilla.
Shilla yang takut gelap, Shilla yang suka bunga Lily, Shilla yang cantik, Shilla yang penyabar, dan Shilla yang rela berkorban.
Semua tentang Shilla,cintanya, rasa sayangnya, wajahnya, dan kehadirannya yang selalu ia rindukan.

“andaikan ada lampu ajaib ya,Shil… pasti deh, 3 permintaannya bakalan buat lo semua.”

Daun-daun kembali menari seakan-akan ikut merasakan kepedihan hati Gabriel, menari dalam arti yang tidak sebenarnya, menari karena tangisan.
Tanpa Gabriel sadari, air matanya jatuh ke tanah pusara tersebut.
Tak ada yang pernah membuatnya menangis sebelumnya, ini aneh. Sangat aneh. Ia adalah lelaki, dan yang ia tahu laki-laki itu pantang menangis,bahkan saat Shilla meninggal pun cowok itu hanya menatap nya nanar, mungkin ia menangis tetapi bukan seperti sekarang. Ia begitu rapuh bahkan saat disentuh dengan sentuhan yang sama sekali tidak berbahaya.
Ia meronggoh saku celananya dan langsung mengambil Ipad berisi rekaman lagu Shilla.
“Kau yang selalu menjaga ku disaat…..”
Terdengar suara nyanyian merdu dari Ipad itu, suara Shilla.
“bahagia kau lihat terpuruk ku disini…”
Lantunan lagu itu masih terdengar dan terus terdengar, membuat hati gabriel semakin perih.
“seharusnya… lagu ini gue persembahkan buat elo Shill, karena yang masih cinta adalah gue. Masih cinta sama elo.”
--
Agni melihat kearah jendela, embun pagi memang selalu menyapanya dengan sambutan hangat, membuat gadis itu rasanya ingin menjadi embun yang bebas berada dimanapun ia mau.
Ini tahu ke 3 Cakka meninggalkan dirinya dan mungkin juga cintanya. Entahlah, ia –mungkin sangat merindukan pemuda itu, tapi.. hatinya berkata bahwa pemuda itu hanya merindukannya untuk sesaat rindu yang bukan dalam arti special.
Ditangannya, masih ada special letter yang Cakka kirimkan khusus untuk dirinya, yang sampai sekarang tak berani untuk dia buka.
Kenapa? Ia sendiri pun tak tahu alasannya, rasanya ia takut. Takut untuk jatuh cinta pada Cakka lagi, ia takut jikalau ia membaca surat itu, Cakka memberitahukan bahwa hubungannya dengan Kay putus. Ia takut berharap.
Seminggu yang lalu Cakka mengirimkan special letter untuknya, disana. Ia bercerita bahwa ia sedang  ada masalah dengan Kay, hati Agni mencelos.
Bagaimana dia bisa sedih jika Cakka memberitahukan hal yang sangat ia inginkan?
“ni…”terdengar suara berat dari arah pintu kamar Agni.
Ia menoleh ketika mendapati Rizky sudah berada di sampingnya sambil menyodorkan cokelat panas kea rah Agni, Agni menerimanya dan langsung meniup cokelat panas itu asapnya masih mengepul dan sedikit membuat mata Agni perih tapi tak apa, perih ini belum seberapa dibandingkan perih di hatinya, Rizky melihat sosok gadis yang dicintainya terlihat terpuruk. Ia mengedarkan pandangannya ke arah kamar Agni dan menempatkan focus matanya di salah satu foto. Disana, Agni tampak sangat ceria dengan baju renangnya dan seorang pemuda disebelahnya yang hanya memakai celana renang dengan telanjang dada, Foto Agni dan Cakka. Ia menghela nafasnya sesekali membenarkan kaca matanya.
Ia melihat mata Agni menerawang, cokelat panas itu tak di minumnya melainkan hanya di pegang saja, di pahanya terdapat special letter berwara pink lembut dengan ornament love. Sangat romantic.
Rizky mengambil surat itu dan mengangguk pelan.
from: yours, cakka.
Ia membaca tulisan yang tertera didepan special letter itu. Menahan rasa sakit dan cemburu yang menjalar di hatinya.
“Cakka ya?”
Agni mengangguk dan langsung menghambur ke pelukan Rizky.
“rasanya aneh, bener-bener aneh.”
Rizky mengangguk dan tersenyum mengerti, “gue siap lepasin lo asal lo bahagia.”
Agni melepas pelukan pemuda itu dan langsung menggeleng. Mukanya sudah penuh dengan air mata.
“Gak ky, enggak! Aku gak akan pernah ngelakuin itu, kamu ingat kan? Gimana perjuangan aku dapetin dia? Nunggu dia? Dan ketika dia kembali apa yang terjadi? Dia sudah sama wanita lain. Dia gak bisa mainin perasaan aku gini aja, My heart is not hotel! Yang bisa dia masuki dan keluar dengan sesuka hatinya, aku sayang dia. Tapi dulu! Aku hanya takut berharap Ky, aku takutt…”
You smile I smile ,Ni!
“gak. Aku harus punya pilihan. Aku harus tegas!—“
Agni terdiam sebentar.
 “yang lalu biarlah berlalu, oke?”
Entah mengapa kata-kata Cakka kembali terngiang di telinganya bagaikan gema. Hatinya terus menerus memberontak. Tapi, dirinya tidak.
Ia harus menggunakan akal sehatnya. Gak selamanya hati nurani benar, ada kadangnya kita harus menggunakan logika.
Ia harus memilih.
Agni memejamkan matanya, mengingat semua perlakuan Cakka dari mulai persahabatan—ciuman Cakka dengan Aren—lalu waktu Cakka putus—waktu ia kembali berharap—waktu Cakka berpelukan dengan Aren—waktu Cakka tabrakan karena dirinya—waktu Cakka meninggalkannya—waktu Cakka membuatnya harus menunggu di ketidak pastian—waktu Cakka balik ke Indonesia dan langsung menghempaskan dirinya dan hatinya. Semuanya. Tak pernah ia lupakan.
Ini sudah berakhir! Tak ada yang perlu diselali ataupun di rindukan, yang lalu biarlah berlalu, masa lalu harus ia jadikan pelajaran untuk pedoman masa depan.
Agni mengambil nafas panjang dan menggenggam tangan Rizky, “---I choose you.
--
♪ Hatiku mekar kembali
Terhibur symponi
Pasti hidup ku kan bahagia♪
Once- Shymponi yang indah

“Ifyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyy!!!!!!!!!!!!!”teriak Rio dari bawah balkon rumahnya, teriakannya yang cukup menggelegar membuat Ify sewot dan semakin enggan turun untuk menemui kekasih nya tersebut. Ia pun kembali menarik selimut dan bercengkrama dengan mimpi indahnya.
Clek.
Pintu kamar Ify terbuka, entah darimana asalnya ia pun tak tahu, yang ia tahu hanya Rio sudah ada didepan kamarnya sambil berlari kecil dan langsung menggendong dirinya.
“Kya!! Riooo, ngapain sih?”
Rio tak menjawab, tapi ia langsung membawa Ify ke luar, menuruni tangga dan ke mobilnya.
“lepas-lepasinn!”
“gak mau! Lo harus ikut sama gue.”
Ify pasrah dan membiarkan Rio  menaruhnya di jok mobil, tetapi tetap memasang muka sewot. Ia lantas langsung menelungkupkan tangannya dan kembali tidur. Pokoknya, ia tak tahu dan hanya pasrah mau dibawa kemana aja bersama Rio.
“Eh jangan tidur dong!”
“bodo amat, lu juga sih yang ganggu acara tidur pagi gue. Rasain!”
“ish, nih orang yak!”
“apa?!”
“gapapa, maksudnya nih orang cantik kalau marah-marah.”gombal Rio.
Ify tak menggubrisnya dan langsung kembali tidur.

5 jam kemudian……………………..
“Riooo! Astaga!!!”pekik Ify tak percaya, matanya mengeluarkan derai bulir-bulir Kristal yang biasa disebut air mata, dirinya –dan Rio tengah berada ditengah kebun the. Ia menangis bahagia.
Ternyata Rio masih ingat.
Ini adalah hari dimana mereka merayakan Anniversary ke 3 tahun benar-benar tak bisa di percaya Rio bisa seromantis ini. Bukan hanya itu, disana. Banyak anak-anak kecil yang terlihat sedang memegangi papan bertuliskan ‘HAPPY ANNIVERSARY DEAR!’
Ify terdiam.
Dan kembali menutup mulutnya.
Rio. Pria ini sangatlah penuh dengan kejutan, ia bahagia bisa memiliki pria ini.
“Yo…”
“Ya, aku ngelakuin ini karena aku sayang sama kamu.”jawab Rio.
Rio langsung berbicara seperti itu karena ia tahu pasti Ify akan menanyakan ‘kenapa kamu lakuin ini?
“Thanks ya, thanks banget, gak nyangka. Kamu inget!”
“sama-sama. Eh tapi bukan cuman itu, liat!”
Rio menunjuk kea rah lain. Disana, terlihat banyak anak kecil yang memakai kursi roda, tongkat dan sebagainya.
Ify melihat Rio tak percaya.
“mereka siapa?”
“anak-anak penyakitan. Sama sepert kamu dulu.”
Ify terdiam, tetapi Rio langsung membalikkan badan Ify menghadap kearah anak-anak tersebut
“dengerin mereka…”titahnya
Terdengar suara lantunan gitar menggelegar, Ify memfokuskan dirinya kepada semua anak-anak tersebut, menyesikan rambutnya kebelakang telingannya bermaksud agar bisa mendengar suara anak-anak itu lebih interns.
mimpi adalah kunci
untuk kita menaklukkan dunia
berlarilah tanpa lelah sampai engkau meraihnya—“

Ify terdiam. Lirik ini, ia pernah merasakan salah satu jadi mereka, pernah merasakan bermimpi walaupun orang lain menganggapnya mustahil.
Ia menatap Rio, menangkap manik matanya yang sedang menatap kearah anak-anak itu penuh kagum.
AKu pernah jadi mereka,Yo. Batin Ify


“laskar pelangi
takkan terikat waktu
bebaskan mimpimu di angkasa
warnai bintang di jiwa

*
menarilah dan terus tertawa
walau dunia tak seindah surga
bersyukurlah pada yang kuasa
cinta kita di dunia .. selamanya—“

“--cinta kepada hidup
memberikan senyuman abadi
walau hidup kadang tak adil
tapi cinta lengkapi kita—“

Ya,hidup memang kadang tak adil, disaat semua memuji dirinya. Tapi, tahu kah mereka bahwa Ify harus menanggung hidupnya yang mungkin—dulu bisa dihitung pakai Jari. Ify dulu sangat amat ketergantungan dengan obat, dan hampir menyerah pura karena obat, tetapi sekarang.. obat lah yang menyerah kepada dia. Dan semua karena ketulusan pengorbanan shilla.

“laskar pelangi
takkan terikat waktu
jangan berhenti mewarnai
jutaan mimpi di bumi”



Lagu itu selesai.
Ify mengusap air mata harunya dan langsung memeluk Rio.
“They are amazing,Yo.”
“Ya, memang, sama seperti kamu. Perjuangan hidup mereka, sama seperti kamu. Semangatnya, dan senyuman mereka.”
Ify mengangguk dan langsung berlari menuju anak-anak itu dan langsung memeluk mereka semua.
“aku bangga sama kalian! Bangga banget! Jangan pernah berhenti bermimpi ya, hidup kalian masih panjang. Kalian berhak mendapatkan kebahagiaan.”ujarnya tulis.
Anak-anak itu menatap Ify dan menjawab, “iya kakkkkkkkkkkkkkk!”
Ify tersenyum lalu kembali berlari kearah Rio dan menarik tangannya agar lebih dekat kearah anak-anak tersebut.
“Follow me ,Yo!”
Rio mengangguk, tetapi sebelum ia ikut berjalan bersama Ify. Ia menarik Ify kedalam pelukannya terlebih dahulu
“Thanks ,Yo. Aku bahagia banget punya kamu.”
“Everything ,Fy. Apapun asal kamu bahagia.”
“I Love you!”
“I love you,too!”
--
Sivia sedang asik menata rambutnya kesana kemari, terkadang memegang dadanya yang terasa berdebar.
“astaga! Gue parno!”pekiknya.
Ify yang mendengar pekikan tersebut langsung menghampiri Sivia yangs sedang panic sendiri.
“kenapa?”
“ih, Fy! Gue gugup nih, duh gimana sih astagaa!”
Ify tersenyum mengerti lalu langsung membenarkan rambut Sivia.
“iya gue ngerti, ciyee tunangan. Dilamarnya 3 tahun yang lalu tapi tunangannya jadinya sekarang wkwkwk.”tawa Ify.
Sivia malah membalas tawa-an Ify dengan tatapan mata setajam elang.
“ketawa deh lo sono, jangan salahin gue dong. Salahin tuh si kalong yang plinplan. Sok-sokan ngajak merid tapi duit aja gak punya. huh! Lagian daet ilham dari mana sih dia bisa ngajak gue merid pas itu? Udah tahu masih kuliah. Lulus belom adanya malah dia sering dapet SP gara-gara nilainya C melulu. Terancam tuh gak lulus.”cerocos Sivia panjang lebar.
“Iya, gue tahu.”jawab Ify singkat.
“ehem..”terdengar suara deheman berat diujung kamar Sivia, suara Alvin.
“kenapa lo? Keselek?”Tanya Ify polos.
Alvin tertawa dan langsung menghampiri Sivia yang masih asik bersolek.
“Gimana sayang, udah siap?”
“aduh, siap pala lo peang hah! Gue nervous nih.”
“sama dong kalo gitu.”ucap Alvin tanpa dosa.
Ify hanya melengos melihat tingkah laku sahabatnya tersebut.
Sudah mau tunangan tingkah laku gak lebih baik darinya, ckck.
“gue tinggal dulu ya.”pamit Ify
“oke deh,Fy!”
Setibanya Ify pergi, Alvin dan Sivia sama-sama terdiam dan larut dalam pikiran masing-masing. Sejujurnya, Sivia sangat amat sangat gugup dengan pertunangan ini, begitu juga dengan Alvin. Keduanya sama-sama bingung dan takut.
“udah siap?”Tanya Alvin mencairkan suasana.
Sivia mengangguk.
Alvin mengambil lengan Sivia dan menautkannya dengan lengannya. Mereka seperti pangeran Wiliam dan Kate. Sangat romantic.
--
“saya.. Alvin jonathan berjanji akan mencintai Sivia Azizah sampai kami berucap kata sehidup semati dan akan mencintai dia terus..”
Sivia terkejut dan langsung menyungginkan senyumannya.
Ia lantas mengambil mic Alvin.
Mengambil nafas sejenak, mengusir semua rasa gugupnya.
“saya.. Sivia Azizah berjanji akan mencintai Alvin Jonathan sampai kami berucap kata sehidup semati dan akan mencintai dia terus, selamanya..”


“pasang-pasang!”teriak sorak-riuh para tamu undangan menyuruh Alvin menautkan cincin pertunangan itu ke Sivia.
Alvin mengangguk pasti dan langsung mengambil cincin itu dari kotak perhiasan berbentu love dan berwarna merah hati tersebut.
Ia menautkan cincin itu di jari manis Sivia.
Hatinya berdebar ketika melakukan adengan itu, begitu pula dengan Sivia.
Tak ada yang berbicara, tetapi mata mereka berbicara banyak dan penuh cinta.
Ketika cincin itu sukses ada dijemari Sivia. Sivia langsung mengambil cincin yang satunya dan melakukan apa yang dilakukan Alvin tadi.
Kedua cincin telah terpasang, raut lega serta kebahagiaan terukis di muka mereka berdua. Alvin mengulurkan tangannya dan menundukan badannya layaknya seorang pria yang meminta kesediaan wanita untuk berdansa dengannya, dan uluran tangan itu di sambut dengan baik oleh Sivia.
Ia langsung membalikkan badan Sivia dan memeluknya, lalu mengecup keningnya penuh cinta dan kasih sayang.
“I love you ,Sivia.”
“love you too, Alvin.”
Mereka berdua memutar badannya dan menatap semua para tamu udangan dengan raut muka bahagia.
Semua penonton menatap haru pasangan tersebut, diam-diam dalam hati mereka ada kecemburuan dan keinginan untuk bisa merasakan kebahagiaan Sivia dan Alvin tersebut.
Rio menyenggol siku Ify.
Ify menoleh.
“kapan kita kayak gitu,Fy?”


Fin!

Yaampun cerita zaman bahlul baru sempet ngepost sekarang, semoga gak basi dehya!

Pesan

Nama

Email *

Pesan *

Penulis kece

  • Dewi Lestari
  • Esti Kinasih
  • Ilana Tan
  • Stephanie Zen
  • Windry Ramadhina

Blog Archive

YOU

Followers

Black Moustache

Pages

Blogger Templates