Memilih


Memilih by Lidang Sinta Mutiara
“Besok terakhir kalinya gue liat Alvin. Dan gue ngga pernah berpikir sedikitpun kalau perpisahan gue dan Alvin akan sama kayak kali pertama gue ketemu dia. Memakai setelan jas lengkap,di acara perpisahan sekolah. Bedanya, pertemuan pertama itu saat perpisahan SMPnya. Dan Kali ini diperpisahan SMA. Ya… dititik itulah awal pertama kali gue bertemu sama dia, dan pada titik inilah perpisahan itu dikumandangkan.”





“Loe… sebenarnya cinta siapa?” Agni menatapku dengan dahi berkerut. Aku tetap memandang lurus ke arah Alvin yang berada 3 baris di depan dari tempat ku duduk. Laki-laki itu tidak pernah berubah. Auranya sama seperti saat kali pertama aku melihatnya memakai setelan jas resmi saat acara perpisahan sekolahnya semasa SMP.





Aku mendesah, sambil menggeleng. Aku membuka mulutku namun tidak ada satupun suara yang keluar selain desahan napasku yang frustasi. Aku sendiri tidak pernah tau kepada siapa hatiku sebenarnya memilih.





Rio ataukah Alvin?





Ini hari terakhirku melihat wajahnya. Wajah yang selama ini selalu hadir di dalam mimpiku. Membuat hariku lebih berwarna sekaligus membuatku harus merasakan sakit setiap saat. Laki-laki yang aku cintai dengan tulus dan aku adalah seseorang yang tidak pernah diharapkan olehnya untuk mencintai dirinya.





Ini salah siapa? Salah diriku yang selalu memujanya? Atau salah hatiku yang begitu mencengkeram erat cinta untuknya?





Aku menunduk, berusaha mengalihkan retina mataku agar tidak melulu melihat ke arah Alvin. Entah ungkapan seperti apa lagi yang harus aku uraikan untuk menggambarkan perasaanku ini. Aku sendiri tidak tahu. Yang aku rasa, rasa ini menyesakkan. Menyesakkan karena cintaku yang terlalu besar. Dan menyesakkan karena cintaku ternyata bertepuk sebelah tangan. Penantian yang sia-sia.





“Fy…”



“Ya?”



“Siapa?”



“Ntahlah. Gue ngga pernah tahu kepada siapa sebenarnya hati ini memilih. Alvin orang yang gue cintai selama tiga tahun adalah Laki-laki pertama yang membuat gue sampai harus menunggu dan terus berharap pada sebuah harapan semu. Atau Rio, lak-laki yang selalu ada buat gue yang selalu menerima keluh kesah tentang Alvin,”





Acara wisuda yang diadakan oleh sekolahku sama sekali tidak membuatku terusik. Diriku memang berada di tempat ini. Di Balirung Universitas Indonesia. Namun, jiwaku melayang. Melayang pergi jauh, menjauh dari diriku yang duduk terpekur di medan keras yang berada di bawahku.





3 baris dari barisan kelasku berada. Lurus tepat aku duduk di belakangnya, menatap punggungnya, berusaha untuk merekam semua detail demi detail fisik tubuhnya. Menyimpannya pada memoar hatiku. Kenapa tidak pada ingatanku? Aku takut… takut dengan seiring berjalannya waktu, ingatan itu akan hilang terhapus oleh lapuknya waktu yang kulalui.





Rio… pria hitam manis yang duduk tepat di sebelah Alvin, menoleh ke arahku. Memberikan sebuah senyuman nan tulus kepada diriku. Diam-diam, di dalam sana –aku tidak tahu tepat letaknya- aku merasakan desiran aneh yang membuatku harus mencengkram erat dadaku.





Rasanya… tidak jauh berbeda saat aku pertama kali merasakan rasa ini kepada Alvin.





Kepada siapa sebenarnya hatiku ini memilih, Tuhan?





--



Aku melangkahkan kakiku dengan setengah menyeret, rasanya akhir-akhir ini napsu makan ku hilang begitu saja. Ya, aku memikirkan dua cowok yang ada di hatiku saat ini. Rio dan Alvin, keduanya begitu memukau bahkan sampai-sampai membuat nafasku sesak di buat kegalauan ini, sehabis acara Wisuda itu tak satupun makanan aku sentuh, hanya makanan-makanan ringan biasa.

Aku memang tak berniat makan sama sekali, walaupun Ibu ku selalu menyuruh ku untuk makan dan makan tapi… ah, entahlah mereka berdua terlalu memusingkan ku.

            “Makan nduk.”

Aku hanya tersenyum dan mengangguk lemas melihat Ibu ku telah memasang muka nya yang sendu, sedih melihat ku seperti ini mungkin.

Tapi bukannya bangkit dan mengambil nasi aku justru merebahkan diri dan menarik selimut ku lagi, nafsu makan ku benar-benar hilang di telan bumi.

            “Makan. Liat badan kamu, bener-bener kurus, ada apa toh sebenernya?” Ibu terus menerus mendesak ku untuk mencicipi sedikit makanannya.

Aku bimbang bu, Aku bimbang.

Rasanya aku ingin mencurahkan semua keluh-kesah ku kepada Ibu tetapi apa daya ku?semua suara entah kenapa hanya sampai di pangkal tenggorokan tak mampu berucap, aku menjatuhkan diriku ke atas tempat tidur ku dengan kasar.

            “Ify capek, bu.”dustaku.

Alhasil aku hanya memejamkan mataku berpura-pura untuk tidur.—

            --

            “Astaga, Fy! Lo kenapa? 2 minggu gak nongol-nongol abis wisuda sekalinya nampakin diri jadi tengkorak hidup?”Ujar Agni dengan gayanya yang frontal seperti biasa.

            “gue kepikiran kata-kata di wisuda kita kemarin, lo bener. Gue harus milih.”

Agni menatap ku dengan prihatin.

            “maaf, kalau ternyata kata-kata gue bikin lo kayak gini mending lo lupain ya,Fy.”

Ah.. bagaimana bisa aku melupakan kata-kata yang memang benar adanya? Aku mencintai Alvin, sangat. Tetapi laki-laki itu menganggapku bagaikan angin lalu yang tak kasat mata, dan Rio… Pria itu, pria berwajah tegas dan tenang yang mampu membuat siapapun tergoda.

Yang selalu ada di hidupku, mendengarkan semua keluh kesahku, bahkan rela mengorbankan apa saja untuk ku, tetapi Argh.. mengapa hatiku tak kunjung bisa untuk mencintainya? Atau mungkin aku mencintainya tanpa sadar? Dan, mengapa semuanya terasa sulit?

            “Gue gapapa, harusnya tanpa lo bilang gue nyadar aja. Tapi semuanya gak semudah itu.”

Aku mengangguk lemas, Agni benar-benar tak tega melihat ku sepertinya, lantas ia langsung memeluk ku dan mencium pundak ku, “gue akan selalu ada buat lo,Fy. Entah siapapun nanti yang akan lo pilih. I be there for you.”

--

Kata Ibu kalau orang jatuh cinta itu hatinya akan berbunga-bunga dan selalu tersenyum-senyum sendiri, tiap malam memikirkan sang pujangga hati, tiap malam selalu memimpikannya, tetapi  lain hal nya dengan ku, jika orang tersenyum-senyum sendiri aku justru sering galau dan menangis dalam diam. Jika orang selalu bermimpi indah akan pujaan hatinya aku justru takbisa tidur hanya karena sang pemilik hatiku.

            “Fy! Handphone lo dari tadi bunyi tuh.”

Aku mendongak ketika Agni menegurku untuk mengecek handphone-ku. Dengan malas aku lihat siapa gerangan yang menelepon ku pada saat kuliah seperti ini.

Alvin.

Astaga! Benarkah ini? Benarkah Alvin meneleponku? Alvin Jo? Pemilik hatiku?

Dengan tangan gemetar aku mengangkat dan  mendekatkan handphone bermerk Nokia itu di telinga ku.

            “Hallo?”sapa ku dengan suara gemetar masih terlalu tak percaya dengan apa yang kualami sekarang.

            “Ify? Rio sekarat!”

Deg!

--

Jika angin dapat membawa suara untuk terbang bersamanya,

Izinkan lah aku untuk terbang bersamamu.

--

Taka da yang lebih menyakitkan selain melihat orang yang kau sayangi tergeletak tak berdaya

Disana, Rio tergeletak tanpa daya dengan berbagai macam alat, mataku tak mampu menahan bendungan air mata yang sedari tadi memaksa untuk keluar, suaraku tak mampu keluar hanya air mata yang berbicara saat ini.

Disampingku, Alvin menatap ku dengan intens, hatiku remuk ketika semua ini terjadi, Ah.. inikah yang dinamakan cinta? Ketika orang-orang yang kita sayang seakan-akan meninggalkan kita? Tapi, kenapa? Kalaupun ini cinta mengapa harus terlambat untuk menyadarinya?

            “pulang dari Wisuda gue sama Rio debat abis-abisan.” Alvin membuka percakapan begitu saja, Aku mengalihkan pandangan ku sekarang kearahnya.

Apa sebenarnya maksud mu Alvin?

            “kita berdebat karna kamu,Fy. Rio mencintai kamu ternyata.”

Aku terdiam membiarkan air mataku jatuh dengan deras dan Alvin melanjutkan ceritanya, mencoba mengerti . Ya itulah yang aku lakukan sekarang.

            “tapi dia tidak bisa. Begitu katanya kemarin sebelum kecelakaan itu menimpa dirinya,”

Dia tidak bisa. Dia tidak bisa.

Kalimat itu terngiang-ngiang di gendang telinga ku berkali-kali, mengapa tidak bisa? Oh Rio! Aku terisak lagi, untuk kali ini aku tak dapat menahan getar tubuhku, ini semua terlalu menyakitkan untuk ada didunia nyata! Mengapa harus seperti ini Tuhan?

            “dia berkata jikalau kau mencintaiku. Ya, dia tidak bisa memilikimu karena kau mencintai ku, Ify.”

Ya! aku mencintaimu Alvin, aku mencintai sosok yang tak pernah menganggapku hidup. Aku mencintai sosok yang menganggapku bintang yang ditelan kegelapan.

            “dia berkata kepada ku ‘mengapa kau tak bisa mencintai seseorang yang mencintaimu? Mengapa kau tidak bisa memberhentikan cinta sosok yang mencintaimu dengan tulus? Mengapa kau selalu membiarkannya menunggu mu?’ aku bingung, lantas aku mengacuhkan Rio dan meninggalkannya.”

            “dia marah kepadaku, Ify. Dia mengebut karena hendak mengejarku dan menghabiskan nyawaku dia tak terima jikalau orang yang ia cintai harus di sakiti terakhir dia bilang ‘aku mencintai dia karena dia. Tak perduli siapapun pemilik hatinya, asalkan bisa melihatnya tersenyum dan tertawa sudah cukup bagiku. Dan aku tak terima jikalau ia menghabiskan air matanya dengan percuma hanya untuk menangisi orang yang sama sekali tak pernah menangisinya.’ Kau tahu Ify? Hatiku layaknya terkoyak mendengar tutur katanya yang sebenarnya ditujukan padaku.”

Ya Tuhan.. benarkah itu?

“sampai pada akhirnya sebuah truk besar menghantam dirinya,Fy. Dan.. sekarang inilah dia.” Alvin menyelesaikan ceritanya, aku semakin terisak. Sekarang justru aku mulai berteriak “Rio.. Riooo…!” aku mencengkram kuat baju ku yang sudah basah bercampur keringat dingin dan air mata.

Alvin menghela nafas nya tepat di kupingku, dan saat itu juga aku merasakan darah ku berdesir lebih cepat, dia memeluk ku dengan cepat! Mencengkram bahu ku dan ikut terisak bersamaku.

Ku rasakan jantungnya berdetak kuat seperti jantungku.

Ku benamkan wajah ku di dadanya, rasanya… Nyaman sekali, Ya Tuhan. Inikah jawaban darimu?

--

Jika memang ini jalanku, izinkan aku meminta…

Bersamamu…

--



Ini tidak mungkin!

            “Sabar, Fy. Tuhan pasti punya rencananya sendiri buat hidup kamu.” Agni memeluk ku sambil membelai punggung ku berusaha menenenangkan ku.

Aku menggeleng lalu berteriak-teriak menyerukan namanya, Tidak! Ini bukan rencana Tuhan, ini rencana konyol yang ia perbuat sendiri.

            “Gak! Tidak! Ini mustahil! Tidaak!”

            “IFY! Coba lah buat nerima kenyataan, ini sudah jalanmu!” Agni berteriak agak keras, membuatku tertegun lalu beringsut jatuh.

Aku menggeleng sambil memeluk diriku sendiri, entah sudah berapa kali aku mengukir air mata di pipiku,aku merasa kehilangan, kehilangan yang teramat sakit.

            “kenapa mereka berdua meninggalkan ku Ag? Mengapa?”

Agni tidak menjawab nya hanya memper-erat pelukannya semakin dalam.

“Gak, Fy. Mereka berdua gak ninggalin lo.”

Aku melepaskan pelukan Agni dengan kasar dan menatapnya dengan mata nyalang, “Gak! Mereka berdua ninggalin gue! Mereka jahat! Jahaaat!” aku terus menerus berteriak.

Aku terus menerus menjambak rambutku dengan kasar, tak perduli dengan berbagai macam ekspresi orang yang melihatku, hatiku terlanjur sakit. Karena dua alasan berbeda.



2 tahun kemudian…

--

Lihatlah bunga! Dia akan layu jika taka da sosok cahaya surya menyinarinya.

Sama sepertiku yang hampa tanpa adanya…kamu.

--

            “aduh, neng. Tampang lo kucel amat.” Agni tertawa renyah sambil menggeleng-gelengkan kepalanya dan menekan perutnya karena asik menertawaiku.

Yayaya, aku bisa di tertawai dengan enaknya sama Agni gara-gara air keran kamar mandi sialan itu, okelah. Kalian sepertinya harus mengetahui bahwa tadi pagi air keran dirumah ku mandi ketika aku ingin membersihkan diri dan ketika itu juga aku telat bangun, dan jadilah begini aku hanya cuci muka itu saja dengan air minum di rumahku serta memakai parfum yang hampir habis karena belum sempat membelinya kembali..



            “diem deh lo.” Ucapku dengan ketus dan memasang muka evil yang ku punya.

Agni berhenti tertawa dan malah sekarang tersenyum jahil padaku, “oke,oke. Oh iya, si Dayat minta nomer lo tuh.”

Aku menyiritkan keningku bingung, “dayat?”Tanya ku dengan nada sewajarnya.

“itu loh, si anak HI masa lo gak tau sih? Ih,” suara Agni terdengar gemas ketika aku semakin mengerutkan kening dan bertanya dalam hati.

Dayat.. dayat… dayat… Ah iya! Cowok berwajah jawa asli tetapi terlihat eksotis yang menghampiriku minggu lalu.

            “Inget?” Tanya Agni.

Aku mengangguk dan mengangkat bahu, “terserah lo deh.”

“aduh, Fy. Come on, sampe kapan lo kayak gini? Cowok-cowok yang penampilannya bisa bikin kaum hawa ngiler dan bertekuk lutut saking terpesonanya bisa dengan seenaknya lo tolak mentah-mentah sampai-sampai ada yang ngancem bunuh diri hanya karena lo di gantungin sama hal yang diluar akal sehat manusia? Gila bro, lo hebat.” Agni menyeruakan pendapatnya dengan emosi yang meluap-luap sampai-sampai ia menyemburkan hujan local tepat di wajahku, sungguh… menjijikan.

            “sampai kapan yah? Hmmm, sampai semua pertanyaan gue terjawab kali yah?Hehehe,” aku menjawab pertanyaan Agni dengan menghadiahkannya senyuman tanpa dosa.

Agni menghela nafas putus asa, “seandainya aja gue Tuhan , Fy. Gue pasti akan ngapusin memory itu dari dalam otak lo.”

Aku mendesah dan melemparkan tatapan sendu kearah buku tebal setebal kamus dipeganganku ini dengan miris, sayangnya kamu bukan Tuhan ,Ni. Kamu hanyalah sahabat aku yang selalu ada buatku kapanpun aku membutuhkan mu, disaat dia pergi….

--

Pernahkah sang senja cemburu kepada sang surya ketika lembayung asik dipihaknya.

Itulah aku.

--

Aku bertekuk lutut menatap pusara yang berada dihadapanku kini entah sudah berapa bulir-bulir air mata yang aku keluarkan selama 2 tahun belakangan ini jika mengingat semua kebaikan yang ia berikan padaku, sayangnya semua memory itu hanya sebagai memory kenangan using yang bertengger dengan manisnya dan tanpa malu keluar bersamaan dengan Kristal-kristal bening dari alat penglihatanku.

Rio.

Nama itu masih saja aku tatap di nisan salib yang berdiri tegak diatas gundukan tanah, ya.. disinilah badan kekar yang selalu ada buatku tertidur pulas untuk selamanya.

Dia telah kalah karena kecelakaan itu, kecelakaan yang merenggut nyawanya! Aku masih ingat disaat Rio memberikan harapannya karena masih mempertahankan hidupnya selama 7hari dan.. disaat itu juga ia meninggalkan kita semua tepat saat Alvin habis memelukku.





“ih, bahu lo gede banget sih.”ucap ku sambil menepuk pelan bahu kekar milik Rio, sang pemilik bahu itu tidak marah justru ia tertawa melihat tingkah konyol ku dan mengusapkan tangannya di atas kepalaku.

“gapapa, itung-itung ini buat lo deh bahu gue kalo lagi galau dan terpaksa nangisin Alvin. Lo boleh tidur dan nangis sepuasnya apapun deh dibahu gue dan kembali ceria lagi.”





Aku tertawa miris ketika mengingat kejadian itu, Ah… Rio, tahu kah kamu bahwa aku sangat merindukan kamu sekarang? Kenapa harus kamu yang meninggalkan ku? Ah, si sosok pelindungku telah pergi untuk selamanya.

            “Rio… gue kangen.”ucap ku lirih hampir berbisik tanpa sadar aku menjatuhk air mataku tepat diatas bunga kamboja yang aku bawa sekarang.

            “Fy.. Ify?” Aku mendengar suara itu lagi, astaga! Suara berat itu, suara berat yang selalu aku rindukan selama ini, suara berat yang terus menerus menghantui pikiran ku!

Suara Alvin.

Oke, aku tahu aku pasti sedang berimajinasi saat ini, bagaimana mungkin Alvin datang disaat aku sedang.. rapuh? Bagaimana mungkin dia datang di time yang pas? Ini pasti mimpi, kalau begitu jangan izinkan aku untuk bangun. Mimpi ini terlalu indah untuk di lewatkan.

            “Ify?” Aku mendengarkan suara itu sekali lagi, Ah benarkah itu kau Alvin?

Aku mendongak mencoba memberanikan diriku untuk menatap sosok itu. Berbalik dan menutup mulutku.

Itu benar Alvin.

Pria itu.. sedang memakai setelan kaos santai tetapi tetap terlihat pas dibadannya, dan sekarang ia tampak lebih.. tampan.

            “Apa kabar?” Alvin berkata kepada ku, seakan-akan ia dan aku tidak mempunyai masalah saat ini.

Ohya, apa kabar? Apa kabar dengan dirimu Ify? Aku pun tak tahu Alvin,2 tahun ini aku bagaikan hidup tanpa nyawa. Hampir gila dengan semuanya.

            “kenapa,Vin?” Bukannya menjawab pertanyaan nya aku justru menanyakan hal yang sedari tadi bergumuruh di hatiku, Ya kenapa Alvin? Kenapa malah kau menghindar setelah semuanya… terjadi.

            “Maaf, aku benar-benar gak bisa menerima semuanya,Fy. 2 tahun lalu setelah penguburan Rio aku.. aku melarikan diri dan hampir gila, aku sangat merasa bersalah pada dia dan masih tidak bisa memaafkan diriku sendiri, ini terlalu sulit,Fy.” Lirih Alvin, aku bisa merasakan kesakitan disana. Sama seperti mu, ini semua terlalu sulit.

            “lantas bagaimana dengan hatimu?”

Alvin tersenyum misterius, aku tak tahu apa yang ada dibalik senyuman itu, entah pertanda baik kah atau justru….

            “justru itulah aku menemui mu,Fy. Aku ingin memberikan ini padamu.” Ia tersenyum lagi dan meronggoh sakunya, memberikan amplop pink bertutupan gambar hati.

            “undangan? Pernikahan? Bagaimana bisa?” Tanya ku dengan suara tercekat, jantung di dalam tulang dadaku seakan-akan ingin loncat begitu saja, tangan ku bergetar saat menerima amplop itu.

Aku ingin menangis,Tuhan!

            “Ya, maaf sebelumnya tak memberitahu mu terlebih dulu, aku bertemu dengannya di Jerman 1 tahun lalu,anak hiper-aktif dan easy going. Bisa dikatakan aku jatuh cinta paa pandangan pertama disaat ia sedang ber-eksperimen dengan kameranya.”

Aku lemas, lemas sekali ketika mendengarkan Alvin bercerita dengan nada cerianya, “baguslah, siapa namanya?”

            “Saufika. Bagaimana denganmu?”

Aku tertawa hambar dan menatapnya dengan tatapan tajam setajam yang kubisa. “masih seperti dulu…”aku berhenti sejenak dan menghela nafas pendek.

            “Hampa dan mati.”

--

Alyssa mengelap sekali lagi air matanya dan bertepuk tangan dengan semangat sambil menatap Novel yang baru saja ia beli di toko buku

Novel yang sangat mengharukan dan dapat mengacak-acak hati dan emosinya dalam waktu bersamaan, ya. novel itu berjudul ‘MEMILIH’ entah karya siapa, tak dituliskan namanya. Novel itu bagaikan nyata, ia kagum dengan sosok Ify yang begitu tegar walau di hadapkan dengan berbagai masalah, bukan masalah materi memang tetapi masalah Hati; masalah yang paling susah untuk diselesaikan.

Ia menutup novel itu hati-hati dan memutuskan bahwa novel itu sekarang telah menjadi novel terbaik yang ia miliki tak percuma ia meronggoh kocek sampai 60 rb untuk membeli novel yang bercover hati remuk itu, Novel itu tak mengecewakan.

Ia tersenyum, “semoga, tak ada Ify sama seperti dinovel itu yang hidup di dunia ini.”





End.

***

Ini naskah yang menang lomba di kak Phely hehehe, enjoy.

cheers
Lidang Sinta Mutiara

Pesan

Nama

Email *

Pesan *

Penulis kece

  • Dewi Lestari
  • Esti Kinasih
  • Ilana Tan
  • Stephanie Zen
  • Windry Ramadhina

Blog Archive

YOU

Followers

Black Moustache

Pages

Blogger Templates