Pria Matahari

Pria Matahari by Sinta


Pria itu bagaikan matahari. Selalu bersinar terang kapanpun ia mau, tak perduli jikalau banyak air mata yang terurai karenanya, selalu memberikan senyuman ceria yang selalu ia ukir.



Aku mengaguminya.



Bahkan, aku selalu exited apapun yang berhubungan dengan dia,

Kagum.

Ya semua berawal dari rasa kagum itu, ke-kaguman ku pada sosok Mario.



                “ngeliatin dia –lagi-?” tanya Sivia sambil mengikuti gerak ekor mataku.



Aku tersenyum tipis lalu mengangguk.



                “bagaikan narkoba. Aku gak pernah bebas terjerat dari dia. Candu mungkin.”jawabku singkat.



Sivia tertawa renyah lalu membuka biscuit yang sedari tadi belum ia sentuh, lalu menyodorkannya kepadaku tanda menawarkan, aku menggeleng pelan sambil tersenyum.



                “Ah, begini lah kalau lo udah liat pangeran lo itu, makanan aja ditolak!”protesnya.



Aku tertawa terbahak-bahak lalu memerhatikan Rio lagi.

Ia sekarang sedang bersama temannya, masuk kedalam perbincangan serius yang aku tak tahu itu apa, muka nya menandakan bahwa pembicaraan itu haruslah dilakukan saat ini juga, lalu beberapa detik kemudian keduanya tertawa, aku tersenyum manis—dengan tanpa sadarku!—aku sendiri bingung apa yang aku perbuat. Mengapa aku harus tersenyum ketika melihatnya tertawa lepas?

Bahkan jikalau ada survey disekolah tentang ‘murid yang paling jarang senyum’ bisa di tebak dan pasti yang terpilih itu adalah aku. Aku, ifykila Itan. Murid paling apatis dalam hal apapun kecuali yang menyangkut Rio dan Rio. Nama itu bagaikan mindset di hidupku yang terus menerus ku ingat.



Ah.. Rio, ntah kapan aku mulai mengagumi sosok kalem tersebut, sosok yang memang sangat memikat bagi siapapun yang melihatnya.

Sosok matahari dan musim panas indah ku yang pada dasarnya membenci panas.

Aku menggulung lengan baju ku yang panjang, hari ini cuaca memang sangat menyengat. Tetapi entah mengapa melihat wajah Rio sang matahari tersebut rasa menyengat itu bagaikan sinar matahari pagi yang menyehatkan dan teduh.





--





                “awww!” ringis ku sambil memegang tangan kiri ku yang sedikit lecet, rasanya sakit sekali ketika harus merasakan tubuh ini terhempas begitu saja karena di senggol sepeda motor.

Tatkala, sosok yang membuat ku begini tak kunjung membuka helm-nya, ah! Tetapi bukan itu yang sedang aku debatkan masalahnya sekarang adalah waktu di jemari tanganku sudah menunjukan pukul 06.34, setengah jam lagi pelajaran akan dimulai. Dan aku masih disini?

Apa yang bisa aku perbuat?



                “Sorry.”maafnya tulus.

Aku menengadah dengan perasaan terkejut, astaga! Suara itu..

                “Rio?”

                “Lo kenal gue?”Tanya nya heran.



Aku bangkit dengan segera dan langsung membungkukan kepala ku pertanda memberi meminta maaf, entah mengapa aku melakukannya. Ya, mungkin aku terlalu sering menonton serial drama Korea hingga aku melakukan permintaan maaf dengan cara mereka, entahlah. Apakah ini yang di sebut salah tingkah ketika berhadapan dengan orang yang kita sukai?





Aku berjalan dengan langkah asal guna mentralisirkan degun jantung ku yang berpacu sangat cepat.



--



Aku sering memerhatikannya, tetapi dengan jarak jauh tak pernah sedekat tadi. Kejadian tadi adalah the first time in my life when I know you,Rio.



                “Jadi, saya tugaskan kepada kalian untuk membuat satu makalah tentang contoh-contoh dan pembahasan hukum-hukum yang ada di Indonesia, thema bebas. Tetapi haruslah lengkap dan detail teru—“kata-kata Bu Okky berhenti begitu saja dan langsung mengalihkan ekor mata-nya kearah jendela ruang kelas ku.

Terlihat disana seorang pria berusia 50 tahun muncul di ambang kelas, menatap kami semua dengan tatapan seramah mungkin.



                “ada apa pak Dibyo?”kata bu Okky sopan sambil menundukan sedikit punggungnya.



Konsentrasi anak-anak didik di kelas pecah bahkan ada yang sangat mensyukuri kehadiran pak Dibyo—salah satu guru paling baik disekolah ini. Sekedar informasi saja pak Dibyo adalah wakil kepala sekolah paling baik di dunia ini. Ya, semua yang berhubungan dengan dia memang selalu baik. Ia tak pernah menghukum anak didiknya dengan hukuman yang tak masuk di nalar pikiran manusia.



                “saya mencari Ify, apakah ada?”Tanya nya sopan dengan nada suara bass dan berat nya orang tua.

                “saya ingin berbicara kepadanya,bisa?”lanjutnya lagi.

Bu Okky mengangguk lalu merubah arah pandangnya menyusuri ruangan kelas.

                “Ify. Kamu silahkan ikut pak Dibyo sekarang.”titah bu Okky.



Aku mengangguk pasrah mengikuti perintahnya.

--



Matahari itu selalu bersinar di hatiku,

Menyentil hati dengan cahaya nya,

Tak lupa europhia yang ia pancarkan memberikan kehangatan tersendiri untukku.

Hanya matahari itu permintaanku.

Dikala hujan tengah merenggut hati.



--


“Lo seneng,Fy?”Tanya Sivia sambil menyelidik.

Aku salah tingkah sendiri ketika mendengar pertanyaan itu, haruskah ku jawab? Semua orang juga sudah tahu bahwa bunga-bunga cinta sedang menampakan musim semi nya di hatiku.

Bagaimana mungkin? Aku pun masih tak percaya akan semua ini, dua hari yang lalu ketika aku dipanggil oleh pak Dibyo, beliau mengatakan akan menduet kan ku dengan RIO, di ajang lomba debat antar SMA.

Jujur, aku pun tak mengerti apa yang ada dipikiran pak Dibyo, bukan tentang pikirannya yang secara tiba-tiba mengikut-sertakan aku mengikuti lomba debat aku sudah sering mengikuti lomba debat sebelumnya, dan akhirnya selalu sama yaitu: nama ku lah yang keluar sebagai juara entah juara 1 , 2, ataupun 3 yang pasti aku tak pernah absen mengisi prestasi sekolah.

Mungkin itulah yang menjadikan ku sebagai anak yang paling anti social, teman ku hanya lah Sivia. Aku memang anak nerd selalu alergi dengan apapun yang disebut pergaulan.

Tetapi ada yang menarik disini, inilah pertama kalinya aku dipasangkan oleh Rio. Sang pujangga yang terus ada dihatiku sejak awal kami sekolah di sekolah ini.





“ini kebetulan ya,Vi? Atau udah jalannya?”dengan tampang bodoh ku suarakan pertanyaan yang sebenarnya tak ada jawaban tersebut.

“untuk seseorang yang gak pernah percaya dengan adanya kebetulan seperti gue, lo pasti udah tahu apa jawabannya.”

Aku mengangguk lagi, rasa senang menyentil hatiku begitu saja membuat semuanya tampak indah.





                “  I hope so. “

--



Matahari cerah itu ada didepan ku sekarang, membuka—buka bukunya dengan telaten sesekali membenarkan kacamatanya yang selalu hampir melorot di hidungnya.

Baju yang ia kenakan sangatlah santai hanya kaus oblong bertuliskan ‘Avenged Sevenfold’ dan jeans biru sederhana yang pas buat ukuran kakinya, sepatu Nike hitam yang ia kenakan membuat penampilannya semakin sempurna dikala hujan tengah mengguyur sang siang.



                “gak nyangka ya, kita ketemu lagi.”ucapnya membuka percakapan, ringan dan simple.

Itulah yang aku tangkap dari dalam dirinya, aku hanya mengangguk tak tahu harus berbuat apalagi semua ini terlalu indah untuk dimimpikan.



                “aku pikir, kamu pendiem. Eh, ternyata kamu toh yang sering ikut lomba debat dan menyumbang segala prestasi disekolah, gak nyangka ternyata kamu anak nerd yang aktif dibidang debat, jarang loh.”ia berceloteh sesuka hatinya.





Semua orang juga menganggap ku seperti itu.





                “maaf,aku pikir aku terlalu cerewet sehingga melupakan sesuatu kalau kita belum kenalan, aku Rio, kamu?”sambil menyunggingkan senyuman ia menatapku dengan hangat.





‘jangan tatapan seperti itu!’jerit ku dalam hati.





                “Ify, nama ku Ify.”ucapku dengan suara terbata-bata dan nyaris tak terdengar.

 Ia menatap ku tak yakin, “Ify? Nama mu Ify?”

Dengan pelan aku mengangguk.

                “Senang berkenalan denganmu,Fy.”



--



Saat itu aku jadi dekat sekali dengan Rio, hmm.. dekat dalam arti kita hanya sebatas teman. Tak lebih, bahkan

sahabat pun tidak jujur saja, aku terlalu takut kalau mengakui dia sebagai sahabatku pasalnya sampai sekarang pun aku tak percaya bisa dekat sama dia. Haha, konyol memang tetapi ini benar adanya.

Oh iya, beberapa hari yang lalu aku mendengar Via sudah mempunyai pacar baru tetapi jangankan memberitahu siapa pacarnya itu padaku bahkan sekarang Via sudah mulai agak menghindar. Ah, kenapa ya sahabat ku itu

Seperti saat ini, aku hanya termangu sendiri di kelas karena Via sudah ngeloyor entah kemana. Ah, bosan sekali. Ku langkahkan kakiku pergi keluar kelas dan menyender di balkon berharap angin dapat mengusir rasa bosanku. Tetapi, bukan rasa bosan itu yang hilang justru sekarang aku melihat pemandangan yang membuat nafasku sesak dan.... mataku menangis.



--



Aku gak tahu dari mana asalnya semua perasaan ini, yang jelas benci, cinta, kecewa dan sesal bersatu padu dalam hati ini. Andaikan saja aku agak lebih berani mengutarakan perasaanku padanya mungkin kejadiannya tak seperti ini, sementara Via duduk didepanku dengan kepala menduduk seolah-olah aku akan mengintimidasinya dalam hembusan nafas saja.



                “Maafkan aku, Fy.” Via berkata pelan sambil mencoba menahan air matanya yang ku lihat akan menetes itu, ku alihkan pandangan ku keluar ruang kelas. Kecewa, ya itulah yang kurasakan saat ini ketika melihat kejadian yang membuat dadaku sesak tadi.

                “Aku kira kamu orang yang dapat ku percaya, Vi.. aku kira..,”

Dapat ku lihat Via menggeleng cepat, “Enggak! Sungguh, aku minta maaf Fy, aku juga gaktau kalau kejadiannya bakal kayak gini. Maafkan aku.”

                “Tapi kamu tahu kan kalau aku..,”

                “Maaf, Fy.”



--



Saat ini lomba debat di mulai tetapi entah kenapa hatiku terus menerus enggan untuk mengikutinya, ayolah, aku baru saja patah hati karena teman duel ku ini. Rio. Jika mengingat kejadian yang membuat hatiku sesak itu rasanya aku ingin sekali meneriakan semua keluh kesahku padanya, tahukah dia? Bahwa sekarang matahari ku telah di renggut sang hujan? Bagaimana bisa matahari yang selama ini ada di hidupku berubah menjadi awan pekat yang mengundang hujan dari air mataku ini?

Waktu itu aku melihat dengan jelas Rio sedang berpegangan tangan sambil merangkul Dea yang notabane nya adalah adik Via dengan kasih sayang, kasih sayang itu dapat ku lihat jelas ketika Rio menatap perempuan itu. Disana ada cinta yang bersarang. Ah, betapa beruntungnya Dea.  Dan ketika Via masuk ke dalam kelas aku langsung mendesaknya untuk bercerita apa yang sesungguhnya terjadi dan dengan sesal dia bilang, “gue udah larang mereka Fy, tapi..., ternyata Dea juga suka banget sama Rio dan gue gak bisa buat apa-apa kalau udah masalah hati gitu. Maaf, maaf banget. Gue nyesel Fy gak bisa sahabat yang baik sama lo sumpah Fy gue nyesel,” dan semuanya terungkap dengan jelas bahwa aku sudah kalah telak sebelum bertanding.



Aku melihat Rio ingin memasuki podium tetapi langsung ku cegat tangannya, ya. Sebelum terlambat lebih baik aku memberitahunya sekarang mungkin ini untuk yang terakhir, “ngg.. Yo, bisa ngomong sebentar?” Kulihat Rio mengangguk kecil.

Aku memberanikan diriku, “sebelumnya gue mau ngucapin selamat atas jadiannya lo sama Dea. Semoga longlast dan..., apapun kata hati lo berkomentar apapun tentang gue. Gue terima, tapi jujur. Gue suka sama lo, sesederhana itu.”





**



End



Lidang Sinta Mutiara

Pesan

Nama

Email *

Pesan *

Penulis kece

  • Dewi Lestari
  • Esti Kinasih
  • Ilana Tan
  • Stephanie Zen
  • Windry Ramadhina

Blog Archive

YOU

Followers

Black Moustache

Pages

Blogger Templates