Aku? - Cerita Klasik -

Hallo, apa kabar mu pagi ini? Aku melihat muka mu murung. Tak bersinar. Terlukis raut kekecewaan. Apa yang terjadi kepadamu? Bukankah ini hari minggu? Hari kesukaanmu, favorite mu. Ah ya kamu selalu berkata di hari Minggu kamu merasa lebih dekat dengan kasih Tuhan, bukan? Kamu bisa menceritakan semua keluh-kesahmu di gereja padahal kamu bisa melakukannya dimana saja. Entahlah, kamu terlalu punya banyak alasan khusus untuk pertanyaan itu.


Biasanya kamu tersenyum. Bahagia. Tertawa bahkan kamu pernah juga terus-menerus berbicara tentang hari-harimu kepada orang-orang sekitar tetapi mengapa sekarang kamu berubah? Kamu diam. Kamu tidak bersemangat. Kamu mengurung dirimu dikamar. Tawamu bak di telan angin. Ada apa dengan dirimu? Apakah inilah dirimu yang asli? Apakah kamu kembali ke dunia mu yang dulu? Apakah kamu akan membangun lagi tembok yang susah payah kamu hancurkah dulu?

Ada apa dengan dirimu? Bukankah kau sudah bahagia dengan kehidupanmu? Kau tidak perlu menangis lagi kan? Pria yang tidak pantas untuk mu telah pergi jauh-jauh dari kehidupanmu. Ia tak'an kembali lagi. Kau jangan bersedih. Dan sekarang kamu sudah menemukan yang jauh lebih baik dari pria itu kan? Kamu telah menemukan seseorang yang membuatmu terus tersenyum tiap hari kan? Lantas, mengapa sekarang kamu kesal?


Kamu itu cengeng, dear. Semua orang juga tau itu, kamu selalu menangis disaat sesak menghimpit dadamu, disaat kesedihaan sudah tak bisa diceritakan dengan kata-kata tetapi kamu selalu berusaha agar orang-orang tak melihat setetes mata air dari matamu. Kamu menyembunyikannya. Kamu masuk ke dalam kamar, mengunci pintu, menelungkupkan tangan diwajahmu dan menangis. Tangisanmu tak bersuara tapi menyakitkan. Semua orang tahu kamu sedang menangis, tetapi mereka tak pernah melihat air mata itu.


Kamu lemah, dear. Tapi kamu selalu ingin terlihat kuat. Kamu selalu masuk rumah sakit barangkali 1 kali dalam dua bulan tapi kamu diam-diam saja. Di tas kamu selalu ada obat yang harus diminum setelah makan tetapi jangankan kamu meminumnya, menyentuhnya saja kamu malu. Kamu selalu memaksakan dirimu untuk berolah-raga yang berat kamu tak ingin dipandang manja. Kamu ingin di lihat mandiri. Kamu selalu ingin di lihat.


Kamu diam padahal kamu ingin cerita banyak, tetapi kamu tahu tak ada orang yang mendengarkanmu. Mereka hanya menatap jika kamu bercerita. Mereka hanya mengasih solusi ngawur kalau kamu berhenti cerita. Mereka tak mendengarkan, dear. Mereka hanya memasang muka prihatin padahal mereka tak mengerti apa yang kamu bicarakan. Sampai akhirnya kamu memutuskan untuk memendamnya sendiri. Kamu tersiksa. Kamu menangis lagi.


Kamu sudah bicara mereka menjawabnya dan kamu sudah siap untuk bercerita semua keluh-kesahmu kepada Tuhan. Kamu menyiapkan diri dengan baik. Tetapi, mereka bilang kamu tak boleh ikut karena kamu tak memberitahukan terlebih dahulu. Kamu diam. Air matamu sudah di ujung mata, kamu paksa dirimu untuk tersenyum padahal kamu ingin berteriak, meraung, dan marah. Tapi kamu pendam itu lagi, dear.


Kamu tutup lagi kamarmu. Kamu berpura-pura tidur padahal semua juga tahu bahwa kamu tidak tidur, kamu menangis. Hancur sudah harapanmu untuk berdoa, untuk merasakan indahnya gereja di penghujung tahun ini. Lagi-lagi kamu kecewa, dear. Tapi kamu tak berani bercerita. Kamu diam. Kamu mungkin akan bercerita jika ada yang meminta. Kamu tak berani menawar, 'kan? Kamu takut di tolak. Iya kamu selalu takut akan penolakan, kegagalan dan semacamnya. Lantas? Jika kamu tak bercerita kapan sesak itu akan menguap? Entahlah, cuman kamu yang tahu siapa kamu dan harus bagaimana kamu. Tak ada yang berhak mengaturnya. Tetapi semua tahu jika mereka membaca tulisan ini baik-baik kalau kamu itu kecewa. Dan kamu adalah aku.


The last for 2013,


Lidang Sinta Mutiara

Pesan

Nama

Email *

Pesan *

Penulis kece

  • Dewi Lestari
  • Esti Kinasih
  • Ilana Tan
  • Stephanie Zen
  • Windry Ramadhina

Blog Archive

YOU

Followers

Black Moustache

Pages

Blogger Templates