He is My Tears ( Kesakitan itu tersirat )


Jatuh—Dalam arti yang sebenarnya, sakit.


Apa salahku
Kau buat begini

♥-♥

“aaaaaaaaaa! Panas bangett!”gerutu Sivia sambil mengibas-ngibaskan tangannya ke mukanya seolah-olah itu adalah kipas anginnya.
Aku hanya terdiam sambil membenarkan kata-katanya. Dia benar, hari ini memang panas.
Bahkan sangat panas, aku sampai harus mengenakan jaket karena takut kulitku terbakar, kami sedang duduk di Halte biasa menunggu metro mini. Biasalah, anak sekolah. Naik metromini itu pilihan karena memang angkutan ini selain murah cepat juga karena ya kalian tau lah, supir metromini kan selalu ngebut tak kenal jalan meskipun badan metromini sangat lah besar.

“Ini mana sih metromininya kok gaada ya,Fy? Malah cuaca lagi musuhan lagi sama kita.”
“gak tau. Memangnya gue  siapanya supir metromini? Supir?”ucapku sambil menggembungkan pipiku.

Sivia tertawa kecil.

“hehe, kirain.”
“Eh, sialan!”

Dan kami pun terlibat percakapan yang menyenangkan, mulai dari kelakuan guru yang bikin pusing,sampai musuh kami. Aku dan Sivia memang sahabat yang klop banget, gila bareng-bareng, happy bareng-bareng. Tapi kalo sedih sebisa mungkin gak boleh bareng-bareng, wajar? Ya dong. Kalo sedih juga bareng-bareng nanti siapa yang ngehibur diri kita waktu nangis-nangis Bombay?
Setelah menunggu 1 jam –kurang lebih loh--  akhirnya yang ditunggu datang juga! Siapa lagi kalau bukan metromini? Secara refleks, aku langsung melambaikan tangan ku kearah metromini pertanda supaya supir tersebut berhenti dan dengan senang hati mengangkut kami sampai di tempat tujuan.
Setelah aku menaiki metromini dengan hati-hati aku langsung mencari-cari tempat duduk, untunglah.. masih ada tersisa 2 tempat duduk untuk ku dan Sivia ya, meski bukan bersebelahan. Tapi apa boleh buat memangnya aku mau berdiri sampai tempat tujuan ku hanya karena gak dapet tempat duduk yang bersebelahan dengan sahabat ku yang satu itu? Gak lah ya! aku masih sayang sama kakiku.
Metromini itu melaju dengan kencang, kenek metro sudah menagih ongkos, ku ronggoh saku ku dan memberinya selembar uang seribuan. Ya, memang segitulah tariffongkos anak berseragam sekolah, murah bukan? Memang, itulah yang menjadi alasan ku rela naik metromini. Karena murah!
Kenek sudah pergi, kulihat pemandangan disampingku,hawa panas tak terasa lagi karena aku memang duduk disebelah jendela langsung jadi ya kalian tau lah ya, bagaimana angin itu bisa dengan bebas berteman dengan ku dan membuat rambutku menari-nari dengan indahnya.
Tiba-tiba metromini berhenti, sudah ku tebak. Pasti mobil berwarna orange biru ini akan menampung manusia lagi dan dengan senang hati mengantarkannya seperti halnya dengan ku,kulihat kearah pintu mencari sosok yang ingin naik tersebut –entah kenapa aku ingin melakukannya, aneh. Padahal biasanya aku gak pernah berminat untuk mencari tahu siapa gerangan yang akan naik metromini. Tapi kali ini? Ah..
Mata ku terbelak kaget ketika melihat siapa yang menaiki metromini ini, dia adalah… Rio! Pria yang aku sukai sejak dahulu, pria yang membuat jantung ku berdebar-debar tiap kali didekatnya, dan pria yang mampu membuat air mataku terjatuh karena perlakuannya.
Perlakuan Rio padaku tak pernah aku lupakan, tapi itu juga tak pernah menjadi alasan ku membencinya, aku tak pernah terpikir untuk membenci atau sekedar menjauh darinya  karena, tanpa ia sadari aku sering memperhatikannya diam-diam dengan cara ku sendiri.
Dia bukan laki-laki yang cool dan kejam kepada setiap wanita.  Ia bahkan sangat friendly kepada wanita lain selain aku, ya selain aku. Aku sendiri tak mengerti kenapa aku sangat berbeda dimatanya bebeda bukan berarti istimewa. Melainkan diperlakukan dengan berbeda dan kejam.
Aku memalingkan mukaku ke luar jendela seakan-akan membiarkan lehaan angin menyapa setiap inchi wajahku, teringat akan pertemuan pertamaku dengan Rio 3 tahun lalu pertemuan yang setiap hari selalu aku doakan agar menghilang dari otak ku tetapi apa daya ingatan itu bukannya menghilang malah semakin menempel kuat seperti permanent.
            “Gue gak pernah tau lo naik metromini juga, kirain gue cewek manja macem lo betahnya cuman naik taksi.” Walau kecil tapi aku menangkap banyaknya kalimat atau nada sindiran yang ia ucapkan sebagai kata ‘hallo’ itu.
            “Cewek manja gak akan dosa kalau naik metromini.”
Walau aku tak melihatnya tapi yakin seratus persen kalau cowok ini pasti sedang tersenyum sinis kepadaku, see? Dia memang tak pernah ramah denganku.
Ku tundukan kepalaku seakan enggan untuk melihat wajahnya tetapi tetap saja ada satu pertanyaan yang sampai sekarang masih mengganjal di ulu hatiku sampai saat ini pada akhirnya aku berani bertanya, aku menengadah menghadap langsung mukanya. Oh Yaampun bahkan ketampanan pria ini semakin menjadi-jadi apalagi di umurnya yang sekarang kumis halus itu terlihat jelas dan menimbulkan kesal sexy pada dirinya.
            “Lo kenapa sih sinis banget sama gue? Salah gue apa?”
Dia tertawa mengejek, “Simple, lo udah jadi perusak hubungan gue dengan Dea.”
Deg.
Dia membahas masa lalu lagi rupanya, aku membuang mukaku ke arah jendela kali ini memaksa angin untuk menerpa wajahku, mengeringkan setetes air mata yang sudah jatuh ke pipiku, menyuruh angin membawa semua kesedihan yang aku alami sekarang.
Aku jahat. Aku jahat. Aku jahat.
Bisa-bisanya aku menghancurkan hubungan dua orang yang saling mencintai dulu, ralat yang mencintai hanya Rio dan Dea hanya iseng disaat itu.
Sial. Kenapa Rio memaksaku untuk mengingat kejadian itu lagi sih?

-0-0-


Aku, Sivia, Sion, Dayat dan Dea memasang formasi lingkaran kami semua berpandangan satu sama lain lalu tertawa keras, Dea memutar pulpen yang berada di tengah-tengah kami, semuanya melihat pulpen itu tanpa berkedip dan pulpen itu berhenti tepat menunjuk ke arahku seperti terhipnotis semuanya melihatku lalu tersenyum.
            “Thurth or Dare, Fy?” tanya Sivia pelan
            “Dare!” aku menjawab yakin seakan ogah jika ada orang yang mengubek-ubek tentang privacyku
            “Okay, sekarang lo keluar dari kelas ini dan datengin orang yang lo suka. Gimana?” Kata Dea memberi tantangan.
Glekk....
Aku menelan salivaku dengan enggan, senjata makan tuan. Rutukku dalam hati. Bukankah dari tadi aku sudah bilang kalau aku benar-benar ingin menghindari apapun yang termaksud privacy ku dan ini.... aku disuruh menghampiri cowok yang aku suka secara blak-blakan? Yang benar aja! Selama ini aku sebisa mungkin menjadi secret admirernya Rio...
            “Hey darenya neng,” tegur Sion secara halus.
Aku menggangguk ogah-ogahan dan keluar dari kelas di ikuti oleh teman-temanku yang menyebalkan itu!
Sesampainya aku di kelas Rio aku langsung melongok masuk ke dalam dan bertanya kepada Zahra selaku temanku yang menjabat sebagai sekertaris dikelas itu lewat dia jugalah aku bertanya ini itu tentang Rio tanpa harus ketahuan sama siapapun
            “Rio ada gak?” aku berbisik sambil menarik Zahra ke pojokan
            “Tadi dia dikantin, Fy.” Jawabannya membuat hatiku bersorak senang, baguslah kalau dia sedang tidak ada di kelas berarti aku akan terlepas dari permaina—
            “Yo! Dari mane aja lo?”
Oh, Sial.
Ternyata Rio sudah balik dari kantin dan sekarang berdiri tepat disampingku! Catet, disampingku.
Jantungku berdebar tak karuan ketika berada dalam jarak radius kurang dari 100 meter ini, ku lihat ke arah belakang ternyata teman-temanku sedang menatapku menerka-nerka apakah Rio orang yang aku suka atau bukan dan pertanyaan mereka terjawab ketika aku mengangguk lesu, ya, dialah orang yang udah  1 tahun ada di hatiku, orang yang mampu aku sembunyikan bayangnya di lubuk hatiku yang paling dalam, dan orang itu adalah Rio.

Aku mundur teratur dari tempatku dan keluar kelas Rio setelah mengucapkan terimakasih kepada Zahra atas informasi yang ia berikan—yah walaupun informasi itu tak memberikan efek apa-apa dalam tubuhku, ah aku berbohong kok gak mungkin kan kalau gak memberikan efek apa-apa jantungku bisa jumplitan kayak tadi?
            “Jadi dia toh orang yang lo suka,” Dea bergumam sambil terus mensejajarkan langkahnya dengan langkahku, aku berhenti dan mengangguk sesaat guna menjawab pertanyaannya.
            “Gimana? Ganteng kan?”
Dia mengangguk semangat, “Banget, gue aja kesemsem ngeliatnya.”
            “Awas aja sampe kesemsem beneran!” ancamku dengan nada bercanda tentunya dan Dea hanya tertawa
-0-0-0-
Sender: Dea
Fy, lo ngasih tahu nomer gue ke Rio ya?

Aku membaca kalimat yang tertera di layar handphoneku dengan enggan.

To: Dea
Enggak, boro-boro ngasih tahu elo gue aja gak punya nomernya dia.

Bohong. Jelas-jelas aku punya nomernya Rio dan kami sering sms-an sampai sekarang, ya mulainya sih ngebahas pelajaran tapi makin kesini makin banyak yang kita bahas mulai dari kesukaannya yaitu olahraga sampai buku yang notabane-nya menjadi bagian dari hidupku

Sender: Dea
Trus dia tahu nomer gue darimana dong? Dia sms gue Fy katanya ‘ini Dea temennya Ify bukan?’ gue jawab aja ‘iya’

Oh, jadi Rio sms Dea? Kenapa? Ngapain juga dia meng-sms Dea? Ada urusan apa? Hatiku mulai bertanya-tanya dengan cemas takut Rio akan berpaling dariku, eits aku lupa aku kan bukan siapa-siapanya Rio ngapain juga harus merasa takut atau cemas?

To: Dea
Idk. Dia emang sms apa aja?

Sender: Dea
Hum, kira-kira knp ya tiba-tiba dia sms gue? Dia ga sms yg macem2 kok, Fy. Tapi suer deeehh dia anaknya asik banget:D kerjaannya ngelawak mulu:p

Kerjaannya ngelawak mulu? Rio gak pernah sekali pun ngelawak ketika smsan sama aku

To: Dea
Trus?

40 menit berlalu dan sepertinya tak ada tanda-tanda Dea akan membalas pesanku, ku tengok jam dinding kamar yang menunjukan angka 8 PM, tak terasa sudah 3 jam aku ber-sms ria dengan Rio, aku pun pamit ingin belajar dulu dan pria itu mengiyakan sambil memberiku semangat agar aku meningkatkan prestasi yang sudah aku capai sampai saat ini.

-0-0-

2 jam berlalu dan aku sudah mengerjakan 90 soal matematika dengan otak yang hampir meledak, ku ambil HP yang tergeletak begitu saja di kasur bermotif abstrak itu dan terteralah sebuah pesan dari Dea membawakan kabar buruk ralat sangat buruk bagiku

Sender: Dea
Fy, Rio nembak gue dan gue terima, gapapa kan?

Aku menahan nafasku selama beberapa detik rasanya pasokan oxygen di kamarku benar-benar menipis sampai membuat dadaku sesak lalu nyeri buku yang aku kerjakan untuk belajar pun sudah basah akibat hujan lebat yang sumbernya dari mataku
Kenapa secepat ini?
Kenapa bisa-bisanya Dea menerima dan Rio menembak satu sama lain?
Mengapa harus mereka yang baru saja saling mengenal? Mengapa bukan denganku yang sudah  satu tahun menunggu dia dengan sabar? Berbagai pertanyaan bergejolak di dalam hatiku menghajar semua akal dan naluri, membutakan mataku akan kata ‘sabar’ dan ‘ikhlas’

To : Dea
Gpp

Aku langsung melemparkan HP ku setelah membalas pesan dari Dea, yah setidaknya aku masih sudi membalas pesan dari sahabatku yang sekarang bergelar TMT itu.
Terimakasih Dea, terima kasih atas pengkhianatanmu

-0-0-0-

Hubunganku dengan Dea tambah memburuk sebenarnya bukan dia yang menjauhiku justru aku lah yang terus menerus menarik diri dan enggan berbicara dengannya tolong jangan salahkan aku jika kalian berada di posisiku aku yakin kalian akan melakukan hal yang sama bukan? Lagian, tak sanggup bagiku jika harus berhadapan langsung dengan sosok yang telah beraninya merebut Rio dariku, memang aku akui bahwa laki-laki itu bukan siapa-siapaku tetapi Dea kan sahabatku bisakah ia mengerti dan menghargai sedikit perasaanku?
            “Fy.., lo marah?” Dea mencekal tanganku ketika aku ingin menghindarinya lagi, aku membalikan tubuhku dan memasang muka angkuh
            “Pake nanya?” kulihat ia menghela nafas dengan kasar dan menunduk seolah-olah merasa bersalah, “Sorry banget, Fy. Tau gini—
Aku menyentakkan tangannya dan itu membuat tanganku terlepas dari celakannya, “Tau gini apa? Lo ga terima dia gitu? Bukannya dari dulu lo tahu kalau gue suka sama dia dari satu tahun yang lalu? Dan elo dengan enaknya pacaran trus sok merasa bersalah gitu? Percuma De, sikap lo ini bener-bener bikin gue muak.” Ku keluarkan kata-kata paling sinis yang pernah ku miliki selama ini, aku lihat Dea makin menunduk dan sekarang sudah kupastikan dia menangis, lihat saja dari pundaknya yang naik turun gak karuan itu.
            “Gue minta maaf, Fy. Gue nyesel...,”
            “Lo sayang sama Rio?”
Dia menggeleng, “Enggak, sorry sebenarnya dia gue pake cuman buat taruhan sama temen les gue doang.”
Aku melotot tak percaya ketika mendengar kata-kata yang terlalu jujur dari seorang Dearisa Kurnia jadi selama ini sahabat yang aku percayai tak lebih dari seorang musuh yang tak pantas diberi kepercayaan?
            “Gue akan minta putus sama Rio, Fy. Tapi please jangan kayak gini sama gue...” aku hanya diam menanggapi permohonannya dan ia pun mengeluarkan Hpnya hendak menghubungi seseorang yang aku tebak pasti itu Rio.
-0-
Ternyata dugaanku itu benar, Rio datang menemuiku dan Dea seorang diri tanpa siapapun.
            “Ada apa sih, De?”tanya Rio sambil mendekatkan dirinya ke arah Dea dan menjauhiku.
Aku melihat Dea memejamkan matanya seakan-akan tengah menyiapkan kata-kata yang pantas untuk menyelesaikan masalah yang ia buat sendiri
            “Kita putus aja, Yo..,”
            “Loh? Kok?”
            “Percuma kalau kita jalanin hubungan ini terus, toh aku sebenarnya gak suka sama kamu dan asal kamu tahu selama ini ada orang yang ada didekat kamu meski dia tak terlihat dan tak terasa tapi dia ikhlas dan gak pernah ngarep kamu akan liat balik, mestinya kamu sadar dia itu ada Yo.”
Rio bingung dan aku tahu itu, “Siapa orang itu, De?”
            “Ify.”

-0-0-0-0-

Ya, seperti itulah kira-kira kisahku dimasa lalu dengan Rio dan meskipun Dea telah menjelaskan sepenuhnya kepada Rio bahwa aku bukanlah penghancur hubungan mereka namun tetap saja Rio tak sudi lama-lama berdekatan denganku dan masih tetap membenciku.
Dan aku dibenci oleh orang yang aku sayangi sendiri, dibuat nangis oleh orang—yang tanpa sadarnya paling bisa membuat aku bahagia, dan merasa tak berguna oleh orang yang palig berguna di hidupku. Miris sekali bukan?
            “Seandainya waktu itu lo gak ngehancurin hubungan gue sama Dea mungkin gue gak akan kayak gini ke elo,” dia beragumen lagi dan aku sudah tidak memperdulikan semua tetek bengek masa lalu itu
            “Lo selalu menggunakan alasan itu sebagai senjata,”
            “Karena memang itulah kenyataannya,”
Aku menatap wajahnya yang berwarna sawo matang itu untuk pertama kalinya aku melihat langsung di manik matanya yang bewarna hitam pekat itu, aku berharap rasa ini berhenti tak mengalir seperti dulu, berharap jantung ini kembali normal tak berdetak sehebat dulu lagi ketika didekat dia tetapi harapan tinggal harapan justru rasa itu semakin meningkat dan tak terkontrol
Aku menghela nafas kasar dan memelintir bajuku dengan kasar, “Huft, ternyata gue mencintai orang yang salah.”


Lidang Sinta Mutiara

Pesan

Nama

Email *

Pesan *

Penulis kece

  • Dewi Lestari
  • Esti Kinasih
  • Ilana Tan
  • Stephanie Zen
  • Windry Ramadhina

Blog Archive

YOU

Followers

Black Moustache

Pages

Blogger Templates