Picisan Sinta: My Voice

Jadi siang itu kantin masih ramai dengan orang-orang yang berlalu-lalang guna memanjakan kebutuhan perutnya, lain hal nya dengan saya yang justru sibuk dengan bolpoin dan sebuah buku kecil tebal. Teman saya menepuk pundak lalu membaca goresan-goresan membentuk kalimat yang sedari tadi saya ukir. Dia mengerutkan keningnya lalu berdecak heran, 'Suka banget sih ngobrol dengan tulisan? Mau cerita? Sini sama gue..'
Saya menjawab, 'Plis, gue gak lagi nulis diary atau semacamnya, oke?'
Teman saya tertawa tetapi itu bukan rasa geli melainkan mengejek, 'oh ya? Oke, oke. Lo gak nulis diary but lo nulis cerpen dan pake hati. Lo tau? Kalo pengamat hebat kayak gue ngeliat tulisan lo itu serasa ngobrol searah sama kertas, cerpen lo hidup. Dan sesuatu yang hidup itu membentuk sebuah suara. Secara tidak langsung lo  mengungkapkan isi hati lo disana. Lo curhat di situ.'

Ya. Dia benar, saya memang berbicara dengan kertas, baiklah. Katakan saya gila, tapi ini serius dan nyata.

'kenapa sih gak ngomong aja kalo ada masalah? Kenapa harus nulis cerpen gini?'

'Simple, gue takut gak ada yang mau dengar kalo lagi cerita.' Saya menjawab dan dia tak bertanya lagi, mungkin dia sudah tak mau tau tentang kegiatan gila ini. Biarlah.

Dia pergi meninggalkan saya yang termenung dengan kejadian barusan. Iya ya? Mengapa saya tak pernah berterus - terang tentang hati saya dengan suara? Mengapa harus goresan di atas kertas?

**

Malamnya saya mendapatkan jawaban dari pertanyaan yang saya buat sendiri, oke. Ini tak sesulit mencari pemecahan masalah bagaimana para ilmuan bisa menciptakan penemuan-penemuan baru.
Jadi, saya termaksud orang yang tak suka jika tak didengar, jika saya cerita, berbicara, dll saya tak membutuhkan jawaban untuk permasalahan atau pertanyaan yang saya butuhkan.
Jika kalian berbicara dengan saya kalian pasti akan mengalami itu, karena yang saya butuhkan hanya; di dengar. Dan alangkah benci nya saya jika tak di dengar, sungguh.
Dan ketika saya ketakutan itu muncul sedangkan masalah terus menumpuk sampai membuat stress saya memilih menulis.



Saya sangat suka  dengan quotes dari salah satu penulis yang berisi; "Tahu kau mengapa aku sayangi kau lebih dari siapa pun ? Karena kau menulis. Suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari. (Mama, Anak Semua Bangsa, 84)- Pramoedya Ananta Toer -



31 - Januari - 2014
Love,


[22]  Lidang Sinta Mutiara

Pesan

Nama

Email *

Pesan *

Penulis kece

  • Dewi Lestari
  • Esti Kinasih
  • Ilana Tan
  • Stephanie Zen
  • Windry Ramadhina

Blog Archive

YOU

Followers

Black Moustache

Pages

Blogger Templates