The Story About Him [True Story / My Feeling]



Especially For You: ‘R’ 

-        September –
Hari ini aku mengikuti reat-reat yang diadakan gerejaku. Dan disinilah cerita ini mulai berjalan, aku melihatmu disepanjang Sesi, Acara, bahkan saat makan.
Haha, aku sinting bukan? Melihat orang yang (sebenarnya) tak tahu namanya siapa. Ah, biarlah yang penting aku suka menatapmu secara diam-diam seperti ini. Dan, sepertinya tidak ada satu pun yang menyadarinya, termaksud kamu.



-        Awal Desember –

Sekarang sedang berlangsung latihan untuk periapan natal. Oh sial, aku masih kategori sekolah minggu itu berarti aku masih menjalankan liturgi, dll. Great.

Dan saat aku sedang bercanda dengan temanku tiba-tiba suara ribut datang. Dan aku langsung menoleh disana terlihat banyak anak Pelajar Sidi sedang memindah-mindahkan  bangku dan tiba-tiba mataku terfokus pada satu titik. Yaitu, kamu. Ya, kamu disana terlihat sedang memindahkan bangku. Kamu terlihat bahagia disana. Dan aku senang. Tiba-tiba temanku menepuk pundak ku dan membisikan sesuatu, aku tertawa lalu aku menghadap ke arahmu lagi. Dan kamu telah menghilang.
-       


Natal –


Aku senang. Karena masih bisa merayakan natal pada tahun ini. Dan ketika aku sedang bercanda dengan teman-temanku tiba-tiba terdengar suara, “Kami dari Remaja HKBP Ciledug—“
Oh Tunggu. Tadi dia bilang apa? Remaja? Berarti disitu ada kamu bukan? Sontak, aku menoleh dan melihat Remaja gereja ku bernyanyi sambil menggunakan gaya, aku tertawa. Mereka lucu, sudah agak tua tapi masih bertingkah seperti anak kecil dan dibelakang ada kamu! Iya, ada kamu yang sedang memasang wajah bingung karena tak tahu gerakan serta lagunya tetapi kamu tetap pede walaupun mukamu bener-bener sudah bosan karena harus terjebak diposisi menyebalkan itu. Dan aku berteriak heboh tanpa kuduga temanku menawarkanku untuk berkenalan denganmu dan dengan girangnya aku menjawab IYA, MAU! Dan, ternyata temanku itu gila. Dia benar-benar menemuimu dan bilang; “Kak, ada yang mau kenalan.” Dan kamu tau apa yang aku rasain? Aku gugup, nerveous, oh hell, aku tadi hanya bercanda (walaupun sebenarnya ingin) tak ada pilihan lain. Aku pun langsung berlari keluar lalu terjatuh. Aku memalukan ya kalau salting? Dan parahnya aku lihat kamu tertawa, sial.

-       
Pertengahan Desember –


Aku gak ada kerjaan hari ini. Iseng, aku mencari tahu tentangmu. Aku otak-atik semua facebook dan men-search namamu. Tetapi hasilnya nihil, aku meng-add abangmu dan mencari di friendlistnya. Ketemu, ku add kamu dan kamu konfrim.
Senang? Jelas. Bahkan sangat jelas. Akhirnya aku mengirim pesan kepada kamu dan kamu membalasnya, saat itu aku tak bisa mendeskripsikan perasaanku. Aku sangat senang dan pembicaraan kita pun berlanjut.

-        18 Desember –
Kamu mengungkapkan bahwa kamu menyukaiku, dan kamu menyatakan cintamu. Tak pernah ku sangka orang yang selama ini tak pernah ada dalam bayanganku akan menyukaiku ternyata mempunyai hal yang sama sepertiku.
Kamu berkata kamu sering mempergokiku sedang melihatmu. Oh, aku malu. Haha, tetapi tak apalah. Dan kisah ini adalah awal dari segalanya.


-        Tahun Baru –


Selesai mengikuti Ibadah Syukuran Tahun Baru di gereja aku dan kamu pun berfoto dan berbincang sedikit. Kamu terlihat malu-malu ketika teman-temanku menggodai kita. Ahaha, aku selalu tertawa kalo mengingat itu dear.
Dan pergantian tahun itu pun dimulai disaat pukul 00.00 keluargaku beribadah dan berdoa mengucap syukur begitu juga dengan keluargamu. Kita saling mendoakan dan selesai beribadah aku memasang tweet mengucapkan selamat tahun baru untuk kamu orang yang aku kasihi sekarang dan kamu juga begitu kamu bilang dalam tweetmu bahwa saat kita jadian adalah The Best Moments In 2013. Aku terharu. Kamu meneleponku dan kita bertukar canda, cerita, dan sebagainya sampai pagi menjelang. Kamu tahu? Itu adalah Tahun Baru paling berkesan dihidupku karena aku melaluinya bersama kamu. Aku beryukur kepada Tuhan karena memilikimu. Aku bersyukur karena aku mempunyai seorang kekasih yang mengerti aku.
Tidak. Aku tidak menganggapmu sebagai kekasih, pacar ataupun sebagainya. Aku menganggapmu sebagai sahabat, kakak, dan keluarga. Karena 3 elemen itulah yang terpenting dihidupku. Aku menganggap kamu sebagai sahabat karena hanya pada sahabat aku bisa mencurahkan semua isi hatiku. Aku menganggap kamu kakak karena aku tau kamu akan melindungiku. Dan aku menganggap kamu keluarga karena keluargalah tempat aku pulang disaat menjalani hidup ini. Ya dan kamu adalam ketiganya.


-        Awal April –


Kamu tak menghubungiku lagi. Dan aku masih menunggu, aku masih menunggu dengan segala keyakinanku bahwa dirimu sedang sibuk, aku masih mencoba mengerti.
Tetapi ini sudah sepekan kamu berubah, kamu menjadi cuek, kamu menjadi tak peduli dan kamu menjadi pemarah. Ada apa sebenarnya denganmu? Apa salahku dear? Katakan. Agar aku tahu dan aku bisa memperbaikinya. Agar aku bisa seperti yang engkau inginkan.
Tapi, setiap aku bertanya kamu malah menanyakan balik dan kita tidak menemukan titik temu.
Aku lelah, tapi aku juga tak ingin memperkeruh suasana. Aku diam dear, aku bertahan. Semua ini demi agar kita tidak berpisah. Tetapi sepertinya kamu ingin yang berbeda. Kamu ingin pisah kan? Katakan. Iya, aku tahu. Kamu ingin pisah, meskipun kamu tak mengatakannya tapi kamu memberikanku kode lewat segala tindakanmu.
Kamu tahu? Aku pandai membaca karakter orang lewat sms, lewat cara dia menulis, menggunakan tanda baca, dan cara dia membalas. Aku tahu dear. Dan aku hafal karaktermu, hafal sekali. Apakah aku salah kalau aku bilang kamu berubah? Ah, sepertinya tidak. Karena pada kenyataannya kamu memang berubah.
Bukan perubahan yang membuat segalanya indah. Melainkan perubahan yang aku benci, aku termaksud orang yang menyukai perubahan. Tetapi, untuk kasus kita aku benci perubahan itu.

Ponselku bergetar.

1 Pesan darimu.

Hatiku bersorak bahagia, akhirnya. Akhirnya kamu membalas pesanku.
Tetapi tak sempat aku merasakan kebahagiaan itu lebih lama sang perebut kebahagiaanku mengusir semua angan-anganku tentangmu
Disana tertulis.
Tertulis bahwa kamu ingin mengakhiri hubungan ini. Tertulis bahwa kamu sudah tidak tahan dengan keadaan ini. Tertulis bahwa kamu melakukannya ‘demi’ aku?! Hey! Tahukah kamu bahwa ini bukan yang aku inginkan?! Mengapa?!! Mengapa kamu melakukannya! Mengapa kamu tega?
Selama ini aku berusaha menjadi yang terbaik untukmu, menjadi apa yang ingin kamu inginkan. Tetapi..., mengapa kamu tidak melakukannya juga untukku? Oh. Aku bukan pamrih, tolong jangan salah sangka. Aku hanya ingin menanyakan apa yang ada di benak ku selama ini. Ini gak adil, dear. Kamu jahat. Ah, untuk pertama kalinya aku mengecapmu dengan kata yang selama ini aku jaga hati-hati agar tak terucap.
Tetapi salahkah aku? Kamu memang jahat. Kamu tega! Kita baru sekali-dua kali marahan. Dan itu wajar dalam suatu hubungan. Tetapi, kamu dengan mudahnya berkata sudah tidak tahan?
Ironis.

Selama ini aku membangga-banggakanmu di depan teman-temanku, dan mereka mengenalmu dengan sebutan ‘Lelaki baik, lelaki lucu, dan sebagainya’
Kamu pernah berkata bahwa aku adalah wanita kuat. Kamu salah. Aku tak sekuat yang kamu kira. Kamu ingat pembicaraan terakhir kita di telepon 3 pekan lalu? Disana kamu mendengar suaraku berbeda bukan? Kamu dengar suaraku tak semangat seperti biasanya bukan? Lalu, kamu berkata kepadaku ‘Jangan nangis’ dan aku menjawab ‘Ah, gak nangis kok.’ Dan kamu percaya. Taukah kamu bahwa sebenarnya aku menangis kala itu. Aku menangis karena kamu marah, kamu emosi, dan memang kamu berubah. Aku menangis karena aku takut kamu bakal melepaskanku. Aku takut, dear. Dan ketakutanku selama ini membuahkan hasil. Hasil yang benar-benar aku benci, hasil bahwa kamu memang melepaskanku.



April 2014



Bagaimana kabarmu sekarang? Sudah makan? Bagaimana keadaan keluargamu? Baik kah? Juga, bagaimana dengan adik perempuan mu yang sangat aku sayangi itu? Makin lucu kah ia? Hahaha, banyak cerita tentang mu yang ingin aku ketahui sekarang. Tetapi apa dayaku? Aku bukan siapa-siapamu lagi sekarang. Aku hanya mantan. Mantan pacar yang mungkin akan kau lupakan nantinya.
Aku merindukanmu, ah maaf maksudku sangat merindukanmu. Katakan ini gila, bodoh atau bahkan tak masuk akal sehat. Tetapi beginilah kenyataannya dear, aku memang merindukanmu.
Aku merindukan tawamu, merindukan nasehatmu, merindukan kemarahanmu, merindukan cerita-cerita mu, merindukan segala sesuatunya tentangmu.
Tapi, semua telah berubah dear. Semua tak lagi sama, dan aku membenci itu. Aku benci ketika kamu memutuskan untuk berpisah denganku. Aku benci terhadap diriku sendiri yang dengan mudahnya membuat dirimu pergi dan menghilang dari kehidupanku.
Aku benci itu dear.
Dan aku benci karena harus kehilangan sahabat, keluarga, serta kakak yang paling berarti dihidupku.




yours,


Lidang Sinta Mutiara

Pesan

Nama

Email *

Pesan *

Penulis kece

  • Dewi Lestari
  • Esti Kinasih
  • Ilana Tan
  • Stephanie Zen
  • Windry Ramadhina

Blog Archive

YOU

Followers

Black Moustache

Pages

Blogger Templates