Lihatlah mereka!

Lihatlah bulan yang selalu menjalankan tugasnya ditemani bintang
Mereka sangat mesra bukan?
Ah, iya kamu bilang tak melihat bintang, ya?
Jangan salah, bintang selalu ada menemani bulan.
Jika tak ada bintang bulan tak bisa menjalankan tugasnya.
Bulan memantulkan cahaya yang di pancarkan oleh bintang, kawan.
Walaupun bintang tak kelihatan tapi dia tetap setia menemani bulan.
Ah, bintang dan bulan...
Satu kesatuan utuh yang sering di pakai penulis ulung untuk mengungkapkan kecintaannya pada kekasihnya
Begitu juga aku
Aku selalu memandangi mereka dan bermimpi bahwa itu kita
Tak salah bukan?

Lihatlah embun dan pagi
Mereka romantis bukan?
Embun selalu ada ketika pagi membuka hari-harimu
Mereka berdua sama-sama menyambut pagi dengan berpegang satu dengan yang lainnya
Lalu ketika fajar mulai naik dari peraduannya
Mereka berdua langsung menghilang begitu saja
Dan kembali ketiga fajar mulai naik dengan malu-malu
Begitu juga aku
Aku selalu merasakan mereka dan berfikir bahwa itu kita
Bolehkan aku berfikir begitu?

Lihatlah hujan dan teduh
Mereka itu satu kesatuan
Ketika awan sudah selesai memuntahkan air matanya
Mereka datang dan pergi bagaikan pencuri
Tetapi, sebelum pergi mereka selalu membawa kedamaian bagi umat di bumi
Hujan selalu punya magis untuk memutar semua memori masa lalu yang terpendam di otakmu
Dan teduh selalu menimpalinya untuk memberikan efek tenang bak terhipnotis
Mereka berdua selalu ada dan akan terus ada.
Aku iri sama mereka
Mereka cocok, kita juga begitu
Bolehkah kita seperti hujan dan teduh?

Tetapi sial lah mereka yang berfikir bulan-bintang, embun-pagi, juga hujan-teduh akan bahagia
Hey, lihatlah mereka!
Rasakan apa yang mereka alami, pernahkah kau melihat mereka benar-benar bersama?
Pernahkah jalan mereka bersimpangan?
Layaknya sepatu, mereka bersama tapi tak pernah menyatu
Jalan mereka terlalu lurus dan searah
Tak ada waktu untuk saling bersimpangan dan bertemu
Mereka berjalan bersama tetapi tak pernah bertegur sapa
Ironis.
Aku pernah merasakannya kala itu dan sampai sekarang bersama kamu
Bahwa, faktanya kita selalu bersama
Bertukar cerita sebanyak-banyaknya
Saling mengucapkan kata cinta sebanyak pasir di pantai
Tetapi, tak pernah sekalipun bermimpi untuk bersama
Hai, kamu.
Senangkah kamu melihatku tersiksa seperti ini?
Ah, mungkin juga kamu tersiksa
Lantas sampai kapan kita selalu seperti ini?



-S-

Pesan

Nama

Email *

Pesan *

Penulis kece

  • Dewi Lestari
  • Esti Kinasih
  • Ilana Tan
  • Stephanie Zen
  • Windry Ramadhina

Blog Archive

YOU

Followers

Black Moustache

Pages

Blogger Templates