Sebuah pertanyaan


Selamat sore menjelang malam samesta, lama tak bersua. Apa kabarmu kali ini? Ah, kamu pasti sudah tahu kan mengapa aku menyapamu setelah lama berhiatus?

Kamu benar. Aku ingin bercerita. Ya, sepertinya aku kebanyakan cerita ya? Tak apa. Aku harap kamu sudi mendengarkan dan menyukai ceritaku kali ini.
Kali ini aku ingin bercerita tentang ingin seperti apa nanti dan juga tujuanku untuk hidup.

Samesta, tahukah kamu beberapa hari yang lalu aku mendapatkan pertanyaan yang langsung menusuk hatiku, bukan. Kali ini bukan kata-kata kasar yang memancing air mataku. Melainkan satu pertanyaan yang tak dapat aku jawab, makanya aku sebut sangat menusuk.

                “Kamu sudah lulus, lantas kemana kamu mau melanjutkan pendidikanmu selanjutnya?”  Nah seperti itu kira-kira pertanyaan yang aku dapat. Dengan percaya diri dan tak memikirkan kemungkinan selanjutnya aku pun menjawab, “Aku ingin melanjutkan pendidikanku ke SMA Negeri yang ku anggap bagus dan bisa ku jadikan sebagai batu loncatan ke Universitas yang aku idam-idaman, setelah itu aku akan belajar dan bekerja dengan giat lalu mapan.” Setelah menjawab itu aku mengira pertanyaan itu berhenti dan orang-orang akan salut dengan tujuanku, ternyata aku salah. Justru setelah itu aku mendapat pertanyaan (lagi) yang membuat dahiku berkerut dan lidahku kelu karena tak mampu menjawabnya.

                “Kalau sudah mapan apa tujuanmu lagi? Apa tujuan hidupmu setelah itu? Menjadi kaya atau apa? Apa yang bisa kau lakukan untuk orang-orang disekitarmu? Menunjukan bahwa kau hebat?” dan seperti itu kira-kira pertanyaan yang aku dapat.

Aku terdiam.

Lidahku tak mampu bergerak, mulutku serasa terkunci dan sialnya aku tak menemukan kunci itu.
Lalu aku merenung, kalau nanti aku sudah dewasa dan mapan seperti yang ku bayangkan apa yang akan ku lakukan untuk orang-orang disekitarku? Memberi anak yatim-piatu bantuan? Ah, aku rasa itu tak menjadi jaminan mereka akan bahagia, faktanya banyak orang-orang dari kalangan sosialita yang bermuka dua menyumbang beratus-ratus juta rupiah hanya demi bisa dipandang baik. Maaf, aku tak mau seperti itu. Lalu, aku akan melakukan apa? Memberi orang miskin sedekah? Atau apa?
Samesta, pertanyaan itu sangat memohok bagiku. Jujur, aku ingin menjadi orang yang mapan dan hidup bahagia. Tetapi aku juga ingin menjadi orang yang berguna bagi orang-orang disekitarku kelak. Seperti yang Papaku pernah katakan. "Kamu hidup di dunia cuman sementara dan gak tahu kapan Tuhan akan memanggilmu, jadilah orang yang berguna untuk orang lain. Jangan hanya mementingkan dirimu sendiri. Hidup akan terasa lebih indah kalo kamu bisa berbagi kebahagiaan itu."

Dan aku setuju atas pernyataan itu.
Jadi, aku harus apa?





Lidang Sinta Mutiara

Pesan

Nama

Email *

Pesan *

Penulis kece

  • Dewi Lestari
  • Esti Kinasih
  • Ilana Tan
  • Stephanie Zen
  • Windry Ramadhina

Blog Archive

YOU

Followers

Black Moustache

Pages

Blogger Templates