Sivialvin [Drabble]

Kalo boleh minta satu permintaan gue akan minta supaya Tuhan selalu ngelindungin dia, ngejagain dia, bahagiain dia, dan selalu buat dia tersenyum. Yeah, gue akan selalu berdoa supaya dia ngadepetin itu semua.

Sivia.

Nama dari seorang malaikat kedua yang ada dihidup gue, dia yang selalu ada disaat gue susah ataupun senang. Dia yang selalu nyiapin bahunya ketika gue lelah, dia yang selalu jadi alasan gue buat tersenyum. Dan dia juga yang sadar akan kecintaan gue sama Zevana, dulu.
Dan sekarang gue sadar kalo ada yang berubah di dalam diri gue tepatnya hati gue, dan ini bukan yang kayak gue rasain kayak Zevana, dulu.

"Alvin..." Suara malaikat itu menyadarkan gue dari lamunan tentang dia. Gue mendongak menatap dia, "Ada yang salah, Vi."

Dia menatap gue bingung, "Apa yang salah, Vin?"

"Ada satu perasaan yang salah di hati gue," setelah menjawab gue pun melangkah pergi meninggalkan dia yang masih bertanya tentang perasaan gue.


***

[Sivia]

Aku menundukan kepala ku tak berani menatap dia, dia yang selalu ada dihidupku, dia yang menjadi alasanku untuk bahagia, dan dia yang ku cinta.

Sama seperti dia, aku merasa ada yang salah dengan perasaanku, aku merasa ada yang aneh di hatiku, dan aku yang telah jatuh cinta pada pesonanya, tubuhnya, kelakuannya, dan segala sesuatu tentangnya.

Dia yang membuat aku harus menahan sakit ketika dia sadar bahwa dia suka sama Zevana, dia yang membuat aku tertawa tentang semua banyolan konyolnya, dan dia yang menjadi alasan aku tersenyum.

"Pokoknya kamu gak boleh ngelanjutin perasaan kamu untuk, Alvin!"

"Dia gak pantes buat kamu!"

"Jangan gila, Vi! Kubur perasaan kamu itu, jangan buat orang sedih."

Dan masih banyak kata-kata yang terngiang dihidupku...

***

[Alvin]

Semua bermula sejak gue dan Sivia bertemu pada kejadian yang tak terduga, saat itu Sivia sedang menulis sebuah catatan semacam diary dan tiba-tiba buku itu jatuh tepat diatas kaki gue lalu gue pun mengambil diary itu tanpa ada niatan membacanya tetapi yang gue tahu gadis itu sedang ada masalah.

"Makasih ya. Kamu gak ada niatan buat baca buku ku kayak anak-anak rese yang lain?" Saat itu Sivia masih polos, ia pun memberikan senyuman paling manisnya kepadaku lalu seketika itu juga tubuh ini menegang. Kikuk gue membalas senyuman Sivia.

Pertemuan aneh dan tak di rencanakan terjadi begitu saja, pertemuan itu masih gue inget sampai sekarang walaupun gue sendiri gak tahu dia masih inget atau enggak.


Aku melihat dikau duduk disamping pohon akasia,
Kau yang kala itu sedang asik dengan kegiatanmu.
Lalu aku memerhatikanmu,
Dan aku sadari betapa hatiku berkhianat,
Ku rasakan debar jantungku semakin berpacu kala angin membawa aroma tubuhmu ke penciumanku
Ku rasakan tubuhku menegang kala burung menirukan suara mu
Lalu sekarang aku sadar bahwa aku mencintaimu...


Seonggok puisi gue lantunkan ketika pelajaran bahasa Indonesia, puisi dari hati gue untuk Sivia, ya. Meski dia sendiri tak sadar akan arti di balik puisi itu.

***

[Sivia]

PLAK

"Udah aku bilang jangan lanjutin perasaan itu! Kenapa kamu gak pernah ngerti, sih?!" Suara menggelegar dan tamparan itu memaksaku untuk tersadar akan dunia dongengku. Aku terhenyak dan menatap orang yang telah melahirkanku dengan tatapan penyesalan.

"Maafin Sivia, Ma... Maafin Sivia..." Hanya itu kalimat yang bisa aku ucapkan

"Sampai kapanpun kamu dan Alvin gak akan pernah bersatu. Camkan itu!" Dan ketika itu juga aku merasa dunia merebut semua kebahagiaanku.

Ku langkahkan kakiku dengan gontai lalu menatap Alvin yang ada di depanku dengan pandangan kecewa.

"Aku mencintai kamu, Vi..."

Aku juga.

Sayangnya kalimat itu hanya mampu keluar sampai hatiku saja, aku bingung. Kenapa Tuhan memberikan karunia cinta dengan indah kepada orang-orang tetapi tidak untuk kasus aku dan Alvin, dikasus kita cinta itu sangat menyakitkan bahkan membunuh diri kita sendiri...

"Vi, aku mencintaimu." Dia berbicara lagi.

"Jangan. Jangan lakukan itu!"

"Tidak, Vi aku mencintaimu sekuat apapun kamu melarangnya."

"Dan aku akan terus melarangnya."

"Aku gak peduli!"

"Tapi aku peduli, Vin! Cinta kamu salah, cinta kita salah!"

"Apa yang salah? Bukankah cinta gak pernah salah?"

"Kita sedarah, Vin!"

"Apa yang sedarah, Vi? Apa?! Ibu kita berbeda! Berbeda!" Alvin mengucapkan kalimat yang membuat hatiku mencelos...

"Iya Ibu kita berbeda! Tapi kita punya satu Ayah yang sama!"

***

[Alvin]

Oh, cinta... Mengapa kau memisahkanku dengan cintaku? Mengapa kami terlahir dari dua orang yang berbeda tetapi tetap satu darah? Sungguh, gue benci ketika harus menghadapi kenyataan ini...

FIN.



Regards,

Lidang Sinta Mutiara

Pesan

Nama

Email *

Pesan *

Penulis kece

  • Dewi Lestari
  • Esti Kinasih
  • Ilana Tan
  • Stephanie Zen
  • Windry Ramadhina

Blog Archive

YOU

Followers

Black Moustache

Pages

Blogger Templates