Mounteres


4 tahun bukanlah waktu yang sebentar untuk menjadi pengagum rahasia tetapi gadis ini mampu melakukannya.
Selama 4 tahun ia menjadi pengamat sejati tanpa di ketahui keberadaannya, selama 4 tahun ia mendadak jadi photografer handal untuk membidik segala aktifitas yang dilakukan oleh orang yang ia cintai, selama 4 tahun pula ia mendadak menjadi murid teladan demi bisa di lihat keberadaannya oleh pengisi hatinya, dan selama 4 tahun pula ia memendam perasaan kepada Iqbal.
Anggia adalah nama si pengagum rahasia tersebut dan Iqbal merupakan sosok yang dikagumi—atau bahkan dicintai—olehnya sampai detik ini.
                “Ngeliatinnya biasa aja,” tegur Dirvi yang jengah melihat sahabatnya terus-menerus memandang ruangan bernama ‘Mounteres’ yang ada di depan mereka kini dengan mata berbinar-binar, seakan-akan  ruangan itu adalah Iqbal.
Anggia menoleh dan langsung menampakan sederetan giginya yang putih bersih pada Dirvi, “Hehe, abis gue lagi ngebayangin nih apa aja yang dia lakuin disana sekarang, pasti dia lagi ngomong soal rencana mereka naik gunung deh, pasti dia keren banget! Pasti dia berkharisma banget, ya kan, Dir? Bener kan dia berkarisma?” cerocos Anggia.
                “Gila lo, ya kali gue naksir sama dia, sorry ya, Gi. Gue masih normal.”
                “Ya maksud gue bukan gitu, Dir. Maksud gue tuh lo juga mengakui kan kalo dia itu keren banget?”
Dirvi memandang ruangan Mounteres secara sekilas dan langsung menggeleng, “Biasa aja ah.”
Mendengar jawaban yang tak sesuai dengan hatinya membuat Anggia menepuk keras pundak Dirvi dan membuat cowok itu meringis, “Aw! Sakit, Nggi!”
                “Abis lo gak asik banget, sih!”
                “Biarin aja,” kata Dirvi sambil mengenakan tas ransel dipundaknya.
                “Mau bareng atau balik sendiri?” tanyanya pada Anggia.
Anggia memandang ruangan Mounteres dengan tatapan bimbang lalu memandang jam tangannya. Sudah terlalu sore untuk nunggu Iqbal pulang, akhirnya walau berat ia mengangguk dan membereskan barang-barangnya.
                “Bareng ya, Dir.”
Dan akhirnya mereka pun jalan beriringan ke depan gerbang sekolah.
                “Kenapa sih lo bisa suka banget sama si Iqbal?” tanya Dirvi secara tiba-tiba.
Anggia mengangkat bahunya sekilas, “Alesan spesifiknya sih gue gak terlalu ngerti ya, semua itu tumbuh gitu aja tanpa bisa gue cegah yang jelas gue mulai suka sama dia pas dia diskusi sama temen-temennya tentang pendakiannya selama ini..., dan dari situ gue mulai nyari tau tentang kebenaran omongannya dia soal gunung-gunung hebat di Indonesia dari situ juga gue baru sadar kalo gue udah jatuh cinta sama gunung karena dia.
                Jujur aja gue kepengen banget naik gunung dan ikut dalam organisasi Mounteres tapi lo tau sendiri kan kondisi fisik penderita penyakit asma gimana?”
                “Hebat banget dia cuman gara-gara gunung bisa buat lo tergila-gila kayak sekarang, kenapa lo gak nyoba buat deketin dia sih?”
                “Itulah hebatnya cinta hahaha, gue takut kalo dia ga mau nerima keberadaan gue, Dir.”
Dirvi mendengus ketika mendengar penjelasan Anggia. “Melow amat dah pemikiran lo.”
                “Bukan melow oneng tapi gue realistis nih!”
                “Terserah lo deh, oh iya kalau suatu saat ada orang yang suka sama lo lebih dari yang lo bayangin. Lo mau nerima orang itu?”
Mendengar pertanyaan Dirvi membuat Anggia menghentikan langkahnya, “Pertanyaan lo serem banget.” Katanya dan melanjutkan langkahnya lagi membuat pertanyaan itu menguap sebelum terjawab.
***
“Mau mesen apa, Nggi?” tanya Dirvi ketika mereka berdua sedang di dalam kantin. Ya, lima belas menit yang lalu bel istirahat baru saja berbunyi dan sesuai kebiasaan mereka berdua bahwa waktu istirahat haruslah di gunakan sebaik mungkin untuk bersenang-senang bebas dari buku dan pelajaran.
“Apa aja, Dir. Tapi kayaknya mie soto enak nih,” jawab Anggia.
“Oke, lo cari tempat ya.”
“Sip.”
Dan begitu saja kebiasaan itu berlangsung selama 6 tahun, persahabatan antara pria dan wanita itu terjadi. Semua ini berawal dari orang tua mereka berdua yang ternyata merupakan teman lama, setelah sekian lama tak bertemu akhirnya kedua keluarga itu dipertemukan dan semua terjadi begitu saja entah bagaimana asal-muasalnya tiba-tiba Anggia dan Dirvi menjadi dekat dan itu berlangsung sampai sekarang.
Tetapi persahabatan murni antara pria dan wanita hanya terjadi pada kisah novel karena pada kenyataannya salah satu diantara mereka tak dapat menghentikan rasa yang timbul entah sejak kapan dan orang itu adalah Dirvi. Semua orang juga tahu bahwa Dirvi mempunyai rasa kepada Anggia. Semua orang juga sudah tahu bahwa Dirvi-lah yang selama ini ada di dekat Anggia. Semua orang tahu bahwa hanya Anggialah alasan Dirvi masuk penjurusan IPS dan semua orang tahu semua itu kecuali Anggia...
Selagi Dirvi memesan makanan mereka Anggia memilih tempat duduk yang akan mereka duduki nanti tetapi sayangnya semua tempat sudah penuh semua dan itu membuat Anggia menghela nafas jengah, “Duh, mampus deh gue.” Gumam Anggia kesal sendiri.
                “Mampus kenapa?” tiba-tiba terdengar suara baritone dari arah belakang dan suara itu membuat Anggia mematung di tempat.
Suara itu...
Nada suara itu...
Anggia sangat hafal dengan suara itu...
... Suara Iqbal...
Mendadak Anggia langsung tersadar ketika mengetahui siapa yang sedang berbicara di belakangnya.
                “Ng... Ini gak dapet tempat. Liat tuh pada penuh semua...” kata Anggia dengan nada gugup. Sial, kemana semua keberaniannya?
                “Oh, sama gue aja yuk,”
Anggia melongo ingin sekali ia mengangguk tetapi sayangnya ia cepat tersadar sesuatu, “Tapi gue sama temen gue..,”
                “Oh, gak masalah ajak aja temen lo. Yuk,” ajak Iqbal dan kali ini Anggia tak sanggup menolak.
Dengan langkah rikuh ia mengikuti Iqbal dari belakang, jantungnya berdebar-debar tak karuan, berulang kali ia melafalkan dalam hatinya bahwa ini bukan mimpi ah kalaupun ini mimpi pasti Anggia akan berdoa untuk tidak bangun-bangun. Serius deh, ini tuh best dream ever!
Dan akhirnya mereka berdua sampai di tempat duduk Iqbal. “Gue Iqbal, lo?”
Lagi-lagi Anggia melongo, ini keajaiban yang kedua! “Ang-Anggia...”
                “Hah? Siapa?”
                “Anggia!” kali ini Anggia mengucapkan namanya dengan tegas.
Beberapa menit kemudian Dirvi dateng sambil membawa nampan berisi soto mie ke hadapan Iqbal dan Anggia.
                “Gila lo, dari tadi gue cariin kemana-mana juga tau-taunya ada disini!” ucap Dirvi keki tetapi wajahnya bertambah muram ketika melihat orang yang ada di sebelah Anggia.
                “Pantesan aja betah,” cibirnya pelan tetapi cibiran itu masih bisa terdengar oleh Anggia dan dalam hitungan detik kaki Dirvi menjadi korban dari tendangan Anggia.
                “Aw! Demen banget sih lo nyiksa gue!” teriak Dirvi.
                “Bodo!”
Dan meskipun terlihat jelas kecemburuan yang tercetak di wajah Dirvi—sampai-sampai Iqbal pun menyadarinya—tetapi tetap saja Anggia tidak melihat kecemburuan itu karena yang menjadi fokusnya saat ini adalah Iqbal.

                “Dir! Dirvi!” cicit Anggia sambil memukul pelan pundak Dirvi.
Dirvi langsung menoleh, “Apa?”
                “Nomer lima apaan sih? Gue udah hopeless nih,” ucap Anggia sambil memasang muka sedih. Baginya mengerjakan soal Sosiologi adalah musibah versi dirinya.
                “Sebentar,” kata Dirvi pelan.
Anggia mengangguk dan kembali memandangi soal-soal di buku paketnya.
Sial.
Kenapa susah banget sih pertanyaannya?
Sungut gadis itu dalam hati. Ia akhirnya diam dan menunggu Dirvi memberi jawaban  kepada dirinya dan benar saja 4 menit kemudian ada tangan dari arah depan dengan selinting kertas lalu di taruhlah lintingan itu di meja Anggia, “Cepetan, Nggi tinggal lima belas menit lagi.” Bisik Dirvi dari arah depan.
                “Iya Dir iya.” Jawab Anggia dengan tergesa-gesa.
Dengan tenaga yang mendadak besar Anggia pun mampu mengerjakan tugas-tugas itu hanya dengan waktu kurang dari lima belas menit! Sungguh, teori yang mengatakan bahwa kekuatan manusia ada berkali-kali lipat dalam keadaan panik ternyata benar adanya.
                “Makasih, Dir...” bisik Anggia pelan ketika ia sudah menutup bukunya dan menghela nafas lega. Selalu begini..., selalu ada Dirvi untuk dirinya dalam keadaan apapun.

***

Nampaknya gadis yang memiliki tubuh mungil serta rambut bergelombang itu terlalu fokus mengejar bintang yang paling menawan sampai-sampai lupa bahwa di dekatnya ada bintang sederhana yang selalu siap untuk di gapai.
Seperti malam ini, setelah tau bahwa Anggia menyukai Iqbal karena kecerdasan pria itu tentang gunung maka malam ini Dirvi mencari tahu semua seluk-beluk tentang gunung di Indonesia.
Satu tekadnya saat ini ia hanya ingin Anggia bisa melihatnya bahwa ia juga bisa atau bahkan lebih hebat dari Iqbal.
                Sh*t! Pantes aja si Anggia suka banget sama si Iqbal-Iqbal itu secara dia anak gunung dan ternyata gunung di Indonesia super duper keren kuadrat! Argh, gilaaaak!” desah Dirvi frustasi sambil menggebrak mejanya.
Ia mengusap wajahnya dengan kasar.
Gila, ya kali baru mencari informasi ia langsung kalah?
Lama Dirvi merenung akhirnya satu ide terbersit di otak pria itu.., kalau memang alesan wanita itu mencintai Iqbal karena gunung. Boleh kan ia membuat Anggia jatuh cinta padanya karena hal serupa?

***

Dan ide gila itu pun langsung di konfirmasi oleh otak dan segala sistem saraf tubuh Dirvi, ketika mendapatkan ide gila itu ia langsung mencari tahu tentang seluk beluk gunung yang ingin ia daki, ia ingin Anggia dapat melihatnya dan bisa berpindah hati dari hati Iqbal ke hatinya.
Mendadak ia teringat perkataan Anggia beberapa bulan lalu...
                “Dir, keren banget ya gunung itu!” seru Anggia semangat.
Dirvi memutar  matanya jengah, “Lebay lu,”
                “Serius kali gue, Dir.”
                “Iye-iye, tapi apa kerennya?”
Anggia tersenyum bangga karna Dirvi menyetujui pendapatnya, “Gue suka banget sama gunung soalnya gue tau disana ada taman edelweis dan gue dari dulu kepengen banget dikasih bunga edelweis, edelweis itu lambang keabadian Dir..., dan gue pengen mengenggam yang abadi itu.” Katanya sambil menerawang.
Kala itu Dirvi tak menghiraukan cita-cita Anggia tetapi untuk sat ini kata-kata itu justru menjadi imun penyemangatnya, “Jangankan bunga edelweis, Nggi, bahkan sampai kebun edelweis pun gue kasih ke elo...”
                                                                               
***
 Sudah beberapa hari ini ada yang berubah, Dirvi yang dulu selalu ada bersama Anggia akhir-akhir ini selalu menghindari dia dan pernah ia tanya ke Dirvi alasan cowok itu menghindari dia dan jawabannya selalu sama bahwa Dirvi sedang ingin fokus belajar untuk menggapai cita-citanya kuliah dengan beasiswa.
Awalnya Anggia menerima alasan itu tetapi semakin lama ia juga muak melihat Dirvi yang terus-menerus menghindarinya seperti saat ini, ia sedang mengerjakan soal-soal yang di berikan oleh Pak Mashudi di papan tulis, dan keanehan itu terasa lagi, jika biasanya Dirvi akan menerornya dengan pertanyaan-pertanyaan “Bisa gak, Nggi ngerjainnya?” “Pusing, Nggi? Mau gue bantuin?” “Anggia, nomer berapa yang gak bisa?” tapi sekarang suara cowok itu bak ditelan bumi, cowok itu hanya diam dan serius mengerjakan soalnya sendiri tanpa repot-repot ingin membantu Anggia seperti biasa.
Anggia gelisah.
Tapi, kali ini alasannya bukan karna soal Sosiologi yang di berikan Pak Mashudi terlalu susah melainkan karena aksi tak biasa Dirvi.
Tet.... Tet... Tet....
Suara bel sekolah penanda istirahat berdentang, seperti hasil pengamatan Anggia yang sudah-sudah jika bel seperti ini Dirvi akan pergi entah kemana meninggalkan Anggia, dan Anggia tak mau hal itu terjadi, maka dari itu ia mencegat lengan Dirvi sebelum cowok itu pergi.

Merasa lengannya di pegang Anggia, Dirvi menatap cewek itu bingung, “Kenapa?” tanyanya dengan alis yang terangkat sebelah.
Sejenak Anggia terpaku.
Astaga! Kenapa ia baru sadar kalau sahabat cowoknya itu ganteng banget? Apalagi dengan wajah dingin kayak gitu!
 Buru-buru ia menggelengkan kepalanya, pemikiran ngaco.
                “Lo kenapa?”
                “Kenapa apanya? Gue baik-baik aja, masih sehat, masih bisa nafas, masih bisa mi—“
Anggia menggelengkan kepalanya, “Bukan itu! Maksud gue lo kenapa kok ngehindarin gue belakangan ini?”
Dirvi menatap  Anggia dengan bingung, “Ngehindarin? Nggak tuh,”
                “Arsggh! Lo tuh ngehindarin gue, tau! Masa lo gak nyadar sih?”
                “Bentar-bentar, ngehindarin gimana coba? Orang gue sama sekali gak ngehindarin lo kok,”
                “Ish, lo ngehindarin gue Dirvi! Lo kenapa sih?”
                “Gue gak kenapa-napa Anggia, mungkin lo lagi PMS kali makanya sensitif gitu, orang gue gak ngehindarin lo kok.”
Anggia menghembuskan nafasnya dengan kasar. Masa sih dia yang lagi sensitif? Ah, dia lagi gak PMS tuh.
Dirvi tersenyum tipis, ia memang sedang menghindar dari Anggia, ia ingin mengurus pendakiannya untuk membuktikan bahwa ia bisa lebih dari si Iqbal-Iqbal gak jelas itu.
Perlahan tangannya terulur memegang bahu Anggia dan menatap Anggia secara lekat sementara Anggia langsung menegang ketika tangan Dirvi menyentuh bahunya,
Dug...dug...dug...
yaampun! Kenapa lagi dengan jantung gue? Kenapa akhir-akhir ini gue sering banget sih deg-degan gak jelas kalo di pegang Dirvi?! Batinnya berteriak.
                “Denger ya, Nggi..., mau gimanapun keadaannya gak pernah ada dipikiran gue untuk ngehindarin lo barang satu detikpun.”
                “Ma-maksud lo?” tanya Anggia.
                “Gue akan ada disisi lo sekarang dan mudah-mudahan sampai nanti, gue akan selalu ada di sisi lo di setiap detiknya, di setiap gue menghembuskan nafas...”
Anggia terperangah mendengar ucapan Dirvi, ucapan itu terdengar tulus dan ada janji yang Dirvi ucapkan pada kalimat itu, Anggia menganggukan kepalanya, “Makasih...”
                “Yaudah sekarang kita ke kantin yuk, pasti lo udah laper kan?”
                “Kok tau?”
                “Dari tadi perut lo bunyi, woy.”
Dan keharuan Anggia langsung musnah digantikan rasa malu!
Sialan.

***

Dan ikrar itu pun akan dilaksanakan pada hari ini, pendakian dengan tujuan untuk membuat sahabat yang cintainya bangga pun akan berlangsung pada hari ini juga.
Dirvi menatap ke depan, terpapar jelas bagaimana gagahnya Puncak Gunung Gede,gunung inilah yang akan di taklukannya nanti. Memang, kekokohan gunung ini masih kalah jauh dibandingkan Puncak Mahameru yang tak ada tandingannya di pulau Jawa tetapi untuk seorang amatir seperti dirinya itu tak apa-apa, mempunyai kesempatan untuk mendaki Papandayan pun sudah sangat bangga.
                From: Mama.
                                Dirvi, hati-hati ya nak naik gunungnya, selalu ikutin intruksi pemimpinnya, jangan jalan sendiri. Oke? Tuhan memberkati.
                From: Papa
                Jaga keselamatanmu, Nak.

Lagi-lagi Dirvi tersenyum senang, dua pahlawan dalam hidupnya telah memberikan restu serta doa untuk pendakiannya.
                “Woi bro! Ayo kita daftar, malah bengong dia...” kata Rezky salah satu teman di pendakiannya.
Dan Dirvi beranjak dari sana.
***
Nama gunung itu adalah Gunung Gede, yang berada di tiga kabupaten yaitu Bogor, Cianjur, dan Sukabumi dengan ketinggian 100-300 mdpl.
Perlahan Dirvi  mulai mendaki dan berjalan, tak perlu terburu-buru, tak perlu adanya ambisi untuk mencapai puncak, pelan-pelan tapi pasti sambil  merekam segala macam kejadian yang ia alami untuk nanti ke puncak sana. Lagi pula, tujuan dia ke puncak sana bukan untuk menunjukan betapa hebatnya ia bisa menaklukan gunung tersebut melainkan untuk pembuktian bahwa dirinya juga pantas bersanding dengan Anggia, bahwa dirinya juga pantas untuk memetik edelweiss untuk Anggia.
Dirvi menggunakan jalur via Gunung Putri yang lumayan menguras tenaga karena jalur yang dilalui cukup curam, selama perjalanan Dirvi sempat terkejut karena banyak sekali sampah sisa-sisa bungkus makanan berserakan ia tak habis pikir dengan orang-orang yang selama ini menaiki banyak gunung, mengaku sebagai Pecinta Alam tetapi tidak bisa merealisasikannya dalam kehidupan sehari-hari.
Perjalanan yang dimulai pada pukul 7 pagi itu akhirnya berakhir pada jam 3 sore, akhirnya Dirvi tiba di Alun-alun Surya Kencana, dan rasa capek, pegal, letih juga lesu karena pendakian terbayar lunas dengan pemandangan yang ia temukan...
Padang Savana hijau yang sangat luas serta bunga edelweiss dan sungai mata air kecil terpampang sangat jelas di kedua bola matanya. Ia pun memetik beberapa bunga edelweiss dan memasukkannya di tas. Lalu melanjutkan perjalanan daru Surya Kencana ke Puncak Gunung Gede sampai disana lagi-lagi Dirvi harus berdecak kagum oleh Mahakarya yang sudah Tuhan lukis untuk bumi tempat ia berpijak sekarang, dapat ia lihat pemandangan yang di bawah Puncak Gunung Gede yang berada di ketinggia 2950 mdpl.
Cepat-cepat ia membuka tasnya dan mengambil kertas besar yang sudah di siapkannya dari rumah.
                “Mas, tolong fotoin saya dong.” Kata Dirvi pada teman pendakiannya yang bernama Leo, Leo pun mengangguk dan mengambil kamera Dirvi.
                “Yaudah cepet gaya,” kata Leo memberi intruksi.
Dirvi pun langsung mengambil posisi yang pas dan membentangkan kertas tersebut sambil tersenyum, “Satu... dua... ti...ga...”
Klik....
                “Wih, fotonya buat pacar lo ye?” kata Leo sambil terkekeh geli ketika melihat kasih jepretannya.
Mau tak mau muka Dirvi panas mendengar ucapan Leo, “Calon..., hahaha.”
                “Semoga jadi deh, oh iya waktu kita cuman sejam sebelum akhirnya turun lagi. Pergunakan sebaik-baiknya ya.” Ujar Leo sambil menepuk bahu Dirvi dan beranjak pergi.
Tinggalah Dirvi seorang diri, ia tersenyum puas melihat hasil jepretan Leo terlebih ketika melihat tulisan yang berada pada genggamannya dalam foto tersebut.
Disana tertulis...
I love you Anggia....

***

Dirvi sudah janji akan datang ke rumah Anggia malam ini, bukan hanya ingin main seperti biasanya melainkan untuk kepentingan menyangkut hatinya.
Ya, kali ini Dirvi akan mencoba menyatakan perasaannya pada Anggia, dengan berbekal  bunga edelweiss yang di petiknya saat pendakian, foto dirinya dengan memegang kertas, juga dengan surat yang ia buat susah payah selama ini. Didalam surat itu terdapat berbagaimacam perasaan yang tak mungkin sanggup ia ungkapkan dengan bahasa lisan.
Dengan pasti ia menaiki motornya dan melaju ke rumah Anggia dengan cepat, seakan-akan waktu akan habis jika ia tak melakukannya...
Tetapi, yang terjadi justru sebaliknya, waktu tetaplah berjalan tak akan pernah habis tetapi rupanya waktu dia yang akan habis sebentar lagi karena dari arah berlawanan terdapat mobil sedan yang melaju dengan kencang tak beraturan, dan posisi mereka semakin dekat...
Semakin dekat....
Sampai akhirnya terjadi pertarungan nyawa pada saat itu juga.
Suara decitan logam dengan tulang tak dapat di hindari lagi.
Dirvi dan segala rencana yang telah ia susun dengan sempurna hancur begitu saja.
Tak ada yang bersisa... Kecuali bunga abadi dan surat itu...
Dan pada akhirnya, Elmaut lah yang menang!
***
Anggia berlari dengan kecang di koridor rumah sakit sambil terus menangis, ia tak percaya. Tak boleh percaya kabar busuk itu!
Bagaimana mungkin orang tuanya bisa berkata bahwa sahabatnya telah tiada?
Bagaimana mungkin orang tuanya berpikir bahwa kabar itu benar?
Tidak! Ia tidak boleh bepikir demikian. Ia hanya boleh berpikir bahwa semua ini adalah lelucon karena perbuatannya yang selama ini mengabaikan Dirvi. Ya, hanya itu yang ia boleh percayai saat ini.

Setelah sampai di depan ruang IGD, Anggia langsung menghamburkan dirinya ke pelukan Tante Desi—Ibunda dari Dirvi, yang sudah ia sayang layaknya Ibu sendiri.
                “Tante...” lirih Anggia sambil menangis.
                “Nggia, maafin semua kesalahan Dirvi ya, nak? Biarkan dia tenang...” kata Tante Desi sambil menangis tak kalah hebatnya...
Sejujurnya jika boleh jujur yang paling hancur saat ini adalah Bunda dari Dirvi.., hati Ibu mana yang tidak mencelos, yang tidak terluka, mendapati putra yang selama ini membahagiakannya, kini tergolek tak berdaya dikalahkan oleh maut yang baru saja ia alami.
                “Tante apaan sih, gak boleh percaya ah. Dirvi masih hidup! Dia masih sehat, Tante jangan minta maaf gitu!” teriak Anggia sambil terus terisak.
                “Nggia, kamu harus terima kenyataan nak. Tante juga awalnya gak percaya, Tante sakit denger kabar itu... Bisa kamu bayangkan? Dia anak Tante, Tante yang mengandungnya, dulu ketika ia sakit Tante yang pertama kali tau, ketika ia nangis Tante juga ikut nangis karena sedih melihat dia menangis, Tante berkeinginan bahwa di masa tua Tante nanti dia yang ngejagain Tante dan dia udah berjanji untuk itu sekarang kamu bisa bayangkan kan, Nggia? Bagaimana sakitnya hati Tante sekarang? Bagaimana hancurnya Tante? Anak kesayangan Tante, sumber kebahagiaan Tante sudah gak ada... Dia yang duluan pergi ninggalin kita...”
Tubuh Anggia lemas ketika mendengar Tante Desi berkata demikian, ia tak bisa membayangkan bagaimana perasaan Ibunya kalau sampai hal itu terjadi padanya.
Sekali lagi ia memandang ruang IGD berharap ada keajaiban datang tetapi harapan tinggal harapan karena beberapa menit kemudian keluar sosok yang ia sayangi selama ini terbalut dengan selimut putih menutupi seluruh tubuhnya.
Itu tubuh Dirvi!
                “Dirvi.... Dirvi!” teriaknya panik sambil berusaha menggapai tubuh Dirvi, cepat-cepat ia membuka selimut itu dan mencium pipi Dirvi dengan isak tangis.
                “Kok lo ninggalin gue sih, Dir? Kok lu gak jadi dateng kerumah gue? Kok lo jahat banget sih... Gak lucu, Dir bercandanya. Bangun kek, jelek tau lo kayak gitu!”
                “Jawab gue dongo, jangan diem aja. Ntar yang bagiin gue contekan siapa lagi kalau bukan elu? Ntar yang nemenin gue ke kantin siapa? Parah banget sih lu,”
                “Katanya sayang sama gue, katanya sahabat gue. Gak mau buat gue nangis, tapi sekarang elo malah bikin gue nangis... Jahat ah,”
                “Dir, bangun! Gue sayang sama lo.”
Tante Desi tak sanggup lagi melihat Anggia yang terus – menerus meracau sendiri, akhirnya ia pun mendirikan tubuh Anggia dan memeluknya.
                “Sudah Nggia sudah..,”
Tante Desi meronggoh tasnya dan mengeluarkan sebuah amplop dan bunga edelweiss tanda perasaan Dirvi yang tak tersampaikan dan memberinya pada Anggia.
                “Ini ditemukan di tempat Dirvi kecelakaan, mana tau ini adalah ungkapan perasaan yang belum sempat ia ucapkan.” Ucap Tante Desi membuat Anggia mengambil surat dan bunga edelweiss itu dengan gemetar.
Ini adalah perasaan Dirvi yang tak akan pernah terucap, ini adalah peninggalannya...
***
Anggia..
Anggia berarti keberuntungan. Ya, sejak pertama kali kita kenalan gue langsung nyari tahu arti dari nama lo.
Keberuntungan.
Benar, karena gue selalu merasa beruntung bisa mengenal lo, Nggi.
Setelah selama ini kita menghabiskan waktu untuk menjadi sahabat ternyata hati gue ini sangat tamak. Ia menginginkan lebih, ia menginginkan bahwa sahabat tidaklah cukup.
Dari situ gue sadar bahwa gue cinta sama lo.
Tetapi, gue juga sadar bahwa lo punya pangeranmu sendiri, saat itu juga gue  sadar bahwa gue memang belum pantas untuk bersanding dengan lo. Oleh karena itu,gue berencana mendaki untuk membawa edelweiss lo, Anggia.
Dan akhirnya gue bisa mendapatkannya.
Gue hebat kan? Akhirnya gue  bisa layak bersanding dengan lo.
Dan edelweiss ini adalah saksinya.
Edelweiss itu abadi, sampai kapanpun ia tidak akan layu, dan seperti itulah cinta gue sama lo Anggia. Abadi. Sama seperti edelweiss.
Terakhir, gue mau ngucapin kalo gue sayang sama lo. Bisakah kita lebih dari teman?
Lupain si Iqbal, lebih ganteng gue kok, hehe.

Sahabatmu yang mencintaimu,

Dirvi.




By,

Lidang Sinta Mutiara

Pesan

Nama

Email *

Pesan *

Penulis kece

  • Dewi Lestari
  • Esti Kinasih
  • Ilana Tan
  • Stephanie Zen
  • Windry Ramadhina

Blog Archive

YOU

Followers

Black Moustache

Pages

Blogger Templates