Surat Dari Samesta


Sintaku yang baik,
Terimakasih atas surel-surel yang kau berikan padaku akhir-akhir ini, maaf aku baru membalasnya sekarang.
Sinta, mengenai semua surat yang kau kirim aku merasa senang menerimanya, karena kau mempercayakan aku untuk mengetahui semua keluh-kesahmu.
Bagiku rasanya tidak adil jika hanya kau saja yang menceritakan hari-harimu yang menyenangkan itu, maka alangkah baiknya aku juga menceritakan semua keluh-kesah yang aku alami.

Ceritanya begini,

Minggu lalu, di suatu malam yang cerah—ya, aku menyebutnya cerah, karena pada malam itu bulan purnama tengah berdiri kokoh di angkasa raya—aku serta kekasihku yang ku sebut Senja sedang menikmati makan malam disebuah tempat romantis.
Ya, Samestamu ini adalah manusia romantis. Sinta, kau menyukai pria yang romantis bukan? Maka dari itu beruntunglah dirimu mengenal diriku.
Makan malam ketika itu kami lewatkan dengan canda tawa, seperti biasa ia senang menceritakan tentang pekerjaannya demikian juga dengan diriku yang juga menceritakan tentang keluargaku.
Dia selalu cantik, Senjaku tak pernah sekalipun tidak cantik. Kau tahu Sinta? Ia selalu membuat aku jatuh cinta setiap kali melihat dia, aku suka cara dia tertawa, dia tertawa bagaikan putri raja anggun dan tidak dibuat-buat, aku cinta cara dia berbicara, ia selalu berbicara dengan sopan setiap kata yang keluar dari mulutnya selalu membangun. Ah, aku sangat mencintai kekasihku ini.
Selesai makan kami berdansa, kebetulan saat itu restoran tempat kami makan sedang memutar musik Fur Elise—lagu kesukaan kami. Seperti biasa, ia menari dengan anggun, senyum manis tak pernah luput dari wajahnya. Aku bahagia, sangat bahagia melihat dia tersenyum, rasanya hidupku betul-betul sudah lengkap. Selagi ia  menari tiba-tiba aku memeluknya, membenamkan wajahku di lekukan lehernya, menghirup wangi tubuhnya.
Aku tersenyum.


“Aku mencintaimu, Senja. Kau tahu kan itu?” kataku saat itu.

Senja tersenyum, “Ya, aku tahu, aku tahu bahwa Samestaku ini selalu mencintai ku,”

“Jangan pernah mendua.” Pintaku

Senja menggeleng, “Tidak akan pernah.”
Aku memeluknya lagi, membenamkan 
wajahku dilekukan tubuhnya dan tersenyum miris,


Jangan pernah mendua”


“Tidak akan pernah.”


Kata-kata itu berputar kembali didalam hatiku, aku tertawa getir didalam hati.
Diam-diam ku keluarkan pisau dari dalam saku celanaku dan dalam hitungan detik ku tancapkan pisau itu di punggung Senjaku.


“Argghhh...” teriak Senja ketika ia merasakan benda tajam menusuk kulitnya.
Aku tertawa sambil semakin mengeratkan pelukanku yang membuat pisau itu semakin dalam tertancap di punggungnya.

Aku tersenyum, “Mari sayang, kita habiskan malam ini dengan berdansa, kau masih suka berdansa bukan?”

Pada saat itulah aku mengajaknya berdansa lagi menikmati lagu fur elise lagi, darah segar keluar dari punggung mulusnya dari sedikit semakin banyak dan semakin banyak, sampai-sampai lantai sekarang penuh dengan genangan darah Senja, aku tertawa semakin keras menikmati bau anyir dari darah Senja. Ah, Senja bahkan bau darahmu pun aku menyukainya!

Sinta, aku sangat bahagia pada malam itu, benar-benar bahagia. Akhirnya, aku bisa membuat wanita yang aku cintai mati dipelukanku. Jangan pernah menyebutku kejam karena pada dasarnya aku adalah pria romantis yang baik hati, aku melakukan ini karena Senjaku telah mendua dibelakangku, ia mendua dengan sahabatku sendiri. Betapa bodohnya aku karena telah berhasil dikhianati oleh dua orang paling brengsek di muka bumi ini. Maka dari itu aku berbuat hal itu, aku ingin wanita itu mati dan hanya aku saja yang ada dipikirannya sampai akhir hayatnya, lebih baik aku dan dia dipisahkan oleh maut daripada aku harus ditinggalkan oleh pria bajingan itu.
Ah, tiba-tiba aku tertawa getir lagi ketika menyadari satu hal, bahwa aku dan kau adalah orang-orang yang telah dikhianati.


Salam,

Samesta.

Pesan

Nama

Email *

Pesan *

Penulis kece

  • Dewi Lestari
  • Esti Kinasih
  • Ilana Tan
  • Stephanie Zen
  • Windry Ramadhina

Blog Archive

YOU

Followers

Black Moustache

Pages

Blogger Templates