Surat Patah Hati

Samesta,
Aku mengirim surat lagi, dan aku berharap kau tak bosan mau mendengarkan semua keluh kesah yang ku tulis.
Surat ini ku mulai dengan satu kata; kecewa.
Ya, aku kecewa, bukan terhadapnya, melainkan terhadap diriku sendiri.
Bagaimana bisa dengan bodohnya aku menyerahkan seluruh hatiku untuknya tetapi dia tidak?
Dia menemukan seseorang ketika aku pergi sebentar untuk mengintropeksi diriku sendiri agar kelak aku bisa menjadi orang yang pantas untuknya.
Aku begitu marah saat itu.
Tak menyangka dia yang sangat aku banggakan dan ku percaya tak'an pernah menyakitiku bisa berbuat seperti ini.

Samesta,
Kata mu cinta itu egois, ia tak akan pernah mau berbagi, setulus apapun hatimu ia tak akan pernah sudi jika harus tau orang yang kita cintai juga mencintai wanita lain.

Kalau begitu, wajar saja kan kalau aku benar-benar muak melihat hubungan mereka? Aku tidak bisa untuk sekedar berpura-pura bahagia melihat dia dan wanita itu, bagaimana bisa aku bahagia ketika sumber bahagia ku sudah tak bersamaku lagi?

Samesta,
Katamu juga bahwa cinta itu jahat, ia akan membutakan akal sehat, dan lagi-lagi kau benar.
Nyatanya, aku bisa sejahat sekarang.

Alurnya begini:

Ia buat kesalahan, dan aku sudah tak bisa mentolerir lagi, ku buat suatu keputusan, kami berpisah tapi tak benar-benar berpisah karena pada kenyataannya aku ingin memberikan kesempatan untuknya dan untukku agar bisa introspeksi diri, dan suatu ketika ia menghadirkan wanita lain, dan suatu hari pula ia merasa bahwa dia ternyata tak benar-benar bisa melupakanku, dan akhirnya aku menjadi pemeran antagonis yang berharap ia akan berpisah dengan wanita itu kemudian kembali memelukku.

Lihat?

Aku bisa menjadi sejahat ini, ketika orang yang aku sayangi menyakitiku.
Ketika dia dan wanita itu mengkhianatiku.

Rasanya aku ingin tertawa keras ketika harus melihat mereka memamerkan kemesraan di depanku dan aku hanya diam lalu menutup mata dan telinga seakan hatiku baik-baik saja dan hubungan mereka tak mengangguku.

Logika ku berkata untuk menyerah, tetapi hatiku tidak.

Walaupun begitu, hatiku selalu mengulangi pertanyaan yang sama:

Jika hubungan mereka ternyata bisa kokoh dan ternyata dia sadar bahwa wanita itu adalah sumber bahagianya, lantas bagaimana dengan diriku?

Regards,

S.

Pesan

Nama

Email *

Pesan *

Penulis kece

  • Dewi Lestari
  • Esti Kinasih
  • Ilana Tan
  • Stephanie Zen
  • Windry Ramadhina

Blog Archive

YOU

Followers

Black Moustache

Pages

Blogger Templates